Rumah = Nostalgi + Fantasi

Pada hari kedatangan saya di Mexico City, ibu saya mengirimkan sebuah pesan pendek. "Bagaimana cara mengucapkan selamat pagi dalam bahasa Spanyol?" katanya. Saya menjawab dan kami mengobrol sebentar soal jet lag dan perbedaan waktu antara Indonesia dan Meksiko. Esoknya, begitu membuka mata, saya menemukan satu pesan baru:

"Buenos Aires, Nak."

"Caracas, Mama."

Obrolan itu saya ceritakan kepada Tania sekitar sebulan kemudian. "Manis sekali," katanya sambil menyeka air mata yang keluar saat ia terbahak-bahak. "Aku tidak paham kenapa kau menampik rumah, tempat ibu semanis itu menunggumu, dan malah menginginkan tempat celaka ini," katanya.

Saya tidak tahu apakah waktu itu saya paham tetapi tidak cukup artikulatif untuk menjelaskan ataukah sebenarnya sama bingungnya dengan dia. Yang bisa saya katakan hanya: "Kita tidak bisa memilih asal-usul, kan? Lagi pula, kautahu, yang menungguku di sana tidak semuanya manis," lalu menumpahkan keluhan demi keluhan tentang masa kecil dan remaja dan urusan percintaan dan seterusnya dan seterusnya, yang serba morat-marit dan tentu saja sudah didengarnya. 

"Mexico City lumayan, kok," kata saya sambil meraih gelas berisi mezcal di meja. "Pertengahan tahun depan aku bisa kembali dan menjalani hidup yang kuinginkan, bersama orang-orang yang menerimaku apa adanya."

Dia mendengus. "Satu lagi," katanya, dengan mimik serius. "Aku heran kenapa orang sepintar kau bisa tolol sekali."

"Kenapa tidak bilang, 'dasar bocah tidak tahu apa-apa,' kayak biasanya?" tanya saya.

Dia tak mengatakannya, tetapi sore itu kami berhenti membicarakan rumah. Sebenarnya, kami berhenti membahas apa pun setiap kali dia, yang lebih tua 14 tahun (Halo, Vargas Llosa!), bersikap menggurui atau kebiasaannya itu saya ungkit-ungkit. "Aku cukup tua untuk jadi ibumu," katanya kadang-kadang. Lama-kelamaan saya terbiasa dengan lagak itu dan hubungan kami justru selesai ketika dia mengatakan tak hendak menunggu, tidak seperti ibu saya.

Rumah bukan cuma perkara ruang, tetapi juga waktu. Hari-hari itu saya membayangkannya selalu sebagai cita-cita, yakni sesuatu yang ada di depan, yang kelak, sambil menampik segala yang ada di belakang dan telah berlalu. Dengan kata lain: fantasi. Saban mengingat rumah tempat saya tumbuh besar, yang melintas di pikiran cuma perkataan Asrul Sani dalam sebuah cerpen di buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat, "Tiada lagi. Telah punah hubunganku dengannya."

Hanya setelah fantasi itu pecah berkeping-keping saya sanggup menyadari bahwa gagasan saya tentang rumah harus dibongkar kembali.

Bertahun-tahun sebelumnya, pernah juga saya membayangkan rumah sebagai tempat asal, udik atau hulu dari mana saya berangkat. Seperti karakter-karakter rekaan Umar Kayam, waktu itu saya mengira: terlepas dari apa-apa yang terjadi, asal-usul adalah sesuatu yang tetap dan sebagiannya selalu terbawa dalam diri. Lihat bagaimana, misalnya, Lantip dalam Para Priyayi dan Jalan Menikung memastikan semua anggota keluarganya insaf bahwa pada intinya mereka adalah Orang Jawa, dan selapis kemudian barulah tentara atau simpatisan partai komunis atau pegawai negeri.

"Jangan jadi kacang lupa kulit," tulis saya di buku harian, dengan perasaan compang-camping, ketika berangkat kuliah ke Yogyakarta. Catatan itu saya bikin dengan huruf besar-besar, tegak mendampingi sepasang nasihat orangtua saya yang tak kalah dramatis: "kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja" dan "jangan lupa salat."

Entah kapan pikiran itu berubah. Hanya, rasa-rasanya pulang, lebih-lebih mudik yang riuh setiap tahun, semakin lama semakin kehilangan daya gugahnya. Saya pernah berkeras melewatkan malam lebaran dengan mengetik saja di kantor meski ibu saya merajuk dan mengancam untuk tak memasak raya kalau anak-anaknya tak lengkap.

Mungkin sebabnya adalah kemarahan. Saya marah karena pernah terpaksa menumpang tinggal di rumah orang lain, terpisah dari semua anggota keluarga. Saya marah karena orang yang hanya dapat saya pandangi punggungnya selagi saya tumbuh dewasa, pemberi teladan utama tentang menjadi laki-laki, pernah menelepon saya dan menceritakan sebuah pengkhianatan sambil terisak-isak. Saya marah karena banyak hal yang, anehnya, terasa biasa-biasa saja saat terjadi.

Saya membayangkan rumah hanya sebagai kenang-kenangan, yang ada di belakang dan mesti terjaga kemurniannya. Dengan kata lain: nostalgi. Dan seperti fantasi, nostalgi pun terpisah jauh dari kenyataan. Jarak itulah yang, tanpa saya sadari, memungkinkan saya merasa patut menghakimi rumah secara keras dan semena-mena.

"Kautahu puisi Khalil Gibran yang mengatakan 'anakmu bukan anakmu'?" kata AS Laksana pada suatu tengah malam, menanggapi ocehan saya.

Saya menggeleng dan mulai mengetik. Pencarian singkat di internet menghadirkan baris-baris berikutnya: "Mereka putra-putri kehidupan. Mereka datang lewat engkau tetapi bukan darimu. Dan meski bersamamu, mereka bukan milikmu." 

"Caraku memahami puisi itu berubah setelah punya anak," katanya.

Pendapat serupa pernah dikatakan ayah saya dalam satu dari sekian banyak pertengkaran kami. Dia bilang dia mengerti perasaan saya karena ia pun seorang anak, tetapi saya, yang belum pernah menjadi orangtua, mungkin tak mengerti perasaannya. 

Saya baru tahu betapa sedih kata-kata itu sebenarnya, dan betapa lembut ia sebagai cara menanggapi kekurangajaran saya ketika menolak diatur, bertahun-tahun kemudian. "Meski punya jutaan kata-kata indah," kata Maxwell Perkins kepada Tom Wolfe dalam film Genius, "kau sama sekali tak mengerti hidup, tak mengerti bagaimana rasanya menatap mata seseorang dan merasa sakit karena kesedihannya." Saya menonton adegan itu dengan air mata berderai-derai. Ayah saya jelas tak mirip Colin Firth, tetapi potongan dialog itu mengingatkan saya kepada perbantahan kami.

Sepotong dialog lain, mungkin dari sebuah film atau buku lain: "Tanganmu bakal terikat terus kalau kau tak memaafkan."

"Tapi mereka belum meminta maaf."

"Apa perlunya? Kau melakukannya untuk dirimu, bukan buat mereka."

Tentu saya bukan satu-satunya orang yang dijerat kerumitan saat berusaha memahami rumah. Beberapa bulan lalu saya membaca novel grafis Fun Home karya Alison Bechdel. Dalam karya otobiografis itu, Bechdel membayangkan kehidupannya semasa kanak dan hubungannya dengan keluarga, terutama ayahnya, sebagai pantulan kisah-kisah fiksional yang mereka baca. Ia memahami keputusan sang ayah untuk bunuh diri lewat buku-buku Albert Camus; mengenal sifatnya dari Stephen Dedalus, yang penuh keraguan serta berjarak dari orang-orang lain dan dunia; dan menyamakan nasibnya dengan Icarus, yang celaka karena terbang kelewat dekat dengan matahari.

Kata Bechdel di akhir cerita, ayahnya jatuh ke laut seperti Icarus, tetapi ia percaya laki-laki itu menunggu di sana, bersiap menangkapnya jika suatu saat ia memutuskan untuk melompat.

David Sedaris juga banyak membicarakan rumah dalam kumpulan esai terbarunya, Calypso. Dalam "Now We Are Five", misalnya, ia menyandingkan pengalamannya berlibur bersama keluarga semasa kecil, yang penuh keterbatasan, dengan pengalamannya kini, ketika dia punya segalanya namun telah kehilangan ibu dan seorang adik. Cita-cita Sedaris untuk memiliki hunian lapang dengan banyak kamar, juga rumah liburan di tepi pantai, sudah terpenuhi, tetapi mengapa ia baru dapat merasa lengkap setelah merelakan ketidakutuhan keluarganya?

Saat merencanakan tulisan ini beberapa hari lalu, perut saya mulas berat. Saya tiba-tiba menyadari sebuah kekeliruan: tak semestinya saya memilih rumah hanya sebagai kenang-kenangan atau cita-cita, semata nostalgi atau fantasi, sembari membantah yang lainnya.

Kedua orangtua saya, sebagai bagian dari asal-usul, tak pernah melarang saya menghasratkan kehidupan yang saya anggap lebih baik. Demikian pula sebaliknya Nadya, pasangan saya, bagian dari hari depan, malah tak putus-putus mengingatkan agar saya selalu memperhatikan orangtua. Saya terlambat memahami bahwa rumah tak seharusnya hanya dibayangkan sebagai salah satu di antara kemarin dan besok. Gagasan tentang rumah semestinya mengatasi dulu, kini, dan nanti, sebab ia terus bergerak bersama diri saya dan orang-orang yang saya anggap sebagai bagiannya. 

Saya merasa beruntung karena menyadari itu sekarang. Beruntung sekali. Nanti siang, ketika tulisan ini terbit, barangkali saya sedang meletakkan oleh-oleh titipan pacar di meja makan, lalu memeluk kedua orangtua saya sambil berbisik, "Buenas tardes, Mama." 

Dia mungkin akan menjawab, "Guatemala", dan saya akan mensyukuri semua yang saya miliki hari ini, merayakan yang lengkap dan yang tidak dalam hidup, dengan kegembiraan tak terkira.

Related Article