Ruang Rupa di Documenta, Inikah Awal Mula Gerakan Seni Eropa yang Berbasis Komunitas? 

Perpusaran seni rupa dunia, yang selama ini didominasi oleh Eropa melalui perhelatan terbesarnya, Venice Biennale di Italia dan juga Art Basel di Swiss, akan mendapat tantangan dari Jerman dan Indonesia. Documenta, sebuah festival seni kontemporer di kota Kassel, Jerman, telah menunjuk kelompok seniman Ruang Rupa dari Jakarta untuk menjadi direktur artistik (artistic director) di acara lima tahunan mereka yang akan diselenggarakan pada 18 Juni hingga 25 September 2022.

Ditunjuknya Ruang Rupa untuk menjadi juru mudi pagelaran Documenta ke-15 di tahun 2022 adalah sebuah langkah bersejarah. Sejak berdiri di tahun 1955, inilah kali pertama Documenta dipimpin oleh kolektif seniman. Biasanya, acara seni yang sudah berhasil menarik lebih dari 800,000 pengunjung ini dipimpin oleh satu atau dua orang tokoh saja dan terkadang, dengan bantuan sekelompok tim kurator.

Ute Meta Bauer, salah seorang anggota panitia yang menunjuk Ruang Rupa sebagai direktur artistik, pemilihan seniman dari Asia adalah usaha mereka untuk membuka diri terhadap dunia. Hal ini ia sampaikan dalam acara diskusi “Percakapan tentang Documenta” di Goethe-Institut, Jakarta, 8 Juli 2019. 

“Dunia ini lebih besar daripada Eropa. Sangat penting bagi kami untuk mendengar dunia. Kami membuka diri dan memberikan kepercayaan kami kepada dunia,” jelasnya.

Secara skala, Kassel kerap kalah pamor dengan Venice, yang pameran seninya sudah dimulai sejak 1895 dan menjadi model art biennale di seluruh dunia. Berlin, dengan Galeri Nasionalnya, pernah memiliki kesempatan untuk mengambil kendali atas pameran seni kontemporer di Eropa dan dunia. Sayangnya, usaha ini terhenti ketika Jerman memasuki era Nasionalis-Sosialis. Namun, seiring berjalan waktu, Documenta berhasil menjadi sebuah festival seni alternatif yang inklusif dan merepresentasikan seni secara global.

Usaha Nazi Menahan Laju Seni Rupa Modern di Eropa

Kemunculan Documenta tidak bisa lepas dari sejarah negara Jerman yang sempat dikuasai partai politik Buruh Nasionalis-Sosialis Jerman (Nazi) pada 1933 hingga 1945. Ini adalah masa-masa berkembangnya berbagai aliran seni avant garde di Eropa, seperti Ekspresionisme, Kubisme dan Dadaisme. Aliran-aliran seni ini memang mengedepankan metode berkarya yang radikal dan penuh eksperimen. Melalui perbedaan teknik, seniman avant garde biasanya memang memiliki agenda reformasi sosial yang jelas. 

Adolf Hitler, yang dikenal berambisi menjadi seniman namun gagal melewati ujian masuk Academy of Fine Arts Vienna di tahun 1907 dan 1908, memiliki kebencian tersendiri terhadap arus seni modern ini. Dalam bukunya “Hitler and the Artists,” sejarahwan Henry Grosshans mengutip Hitler yang bertitah bahwa karya seni yang murni dan tidak terkontaminasi pengaruh Yahudi adalah karya seni klasik, yang umumnya berasal dari Yunani dan Romawi. Motif politik Hitler jugalah yang menjadikan ia percaya bahwa “karya seni modern adalah wujud kekerasan estetika” yang diciptakan kelompok Yahudi, dan jelas berlawanan dengan semangat Jerman di bawah pimpinannya. Dalam pengawasan menteri propagandanya, Joseph Goebbels, partai Nazi secara aktif melarang praktik dan juga pameran seni modern di museum-museum milik negara. 

Di bawah rezim Nazi, ribuan karya seni dihancurkan, dibakar atau dijual. Rezim tersebut bahkan memiliki label khusus, yakni Degenerate Art, untuk menyebut para seniman modern tersebut. Sejumlah seniman yang dicap berderajat lebih rendah ini mengalami banyak tekanan, mulai dari dilarang berkarya, dilarang pameran sampai diberhentikan kerja. Di tahun 1937, rezim Nazi menyelenggarakan pameran Degenerate Art di Munich yang memamerkan sekitar 600 karya yang dianggap tidak sesuai dengan kemurnian dan keunggulan ras Arya. Inilah kali terakhir Jerman menyaksikan sebuah pameran seni di dalam masa kekuasaan Nazi. 

Setelah Perang, Jerman Kembali Berkesenian Lewat Documenta

Menurut direktur Documenta Sabine Schormann, Documenta adalah acara seni pertama di Jerman setelah pameran Degenerate Art yang diselenggarakan rezim Nazi pada 1937. Diprakarsai oleh seniman dan arsitek Arnold Bode, Documenta menjadi usaha Jerman untuk memulihkan diri pasca Perang Dunia II sekaligus menghidupkan kembali arus gerakan seni avant garde di negaranya. Setelah dua belas tahun berada di bawah pemerintahan diktator Hitler, Documenta menjadi angin segar di musim panas bagi warga Jerman dan juga Eropa. Acara ini disambut meriah oleh 130,000 pengunjung yang mendatangi Kassel selama 100 hari penyelenggaraannya.

Kesuksesan awal ini memberi semangat kepada Bode, yang sempat dilarang melukis dan mengajar seni di Berlin oleh rezim Nazi, untuk melanjutkan acaranya. Ia menjadi direktur artistik Documenta selama empat edisi pertamanya. Awalnya, Bode fokus untuk mengangkat aliran-aliran seni modern seperti Ekspresionisme, Futurisme dan Kubisme. Semakin lama, ia semakin berani untuk membuat pernyataan dan mempertanyakan otonomi seni dalam program-programnya. 

Namun, saat Documenta dicanangkan, kesenian modern dunia tengah berkembang pesat. Di tahun 1950an, sejumlah seniman asal Amerika, seperti pelukis abstrak ekspresionis Jackson Pollock dan pelukis pop-art Roy Lichtenstein, mulai menunjukkan pengaruhnya. Documenta menyambut perkembangan ini dengan gembira. Dalam edisi keempatnya, di tahun 1968, sepertiga dari pengisi acara di Documenta adalah seniman yang berasal Amerika, seperti Lichtenstein, Claes Oldenburg dan Robert Rauschenberg. Saat itu, Documenta mendapat julukan "Americana" dan mendapat cibiran dari sejumlah pelajar yang menggelar aksi anti Perang Vietnam. 

Terlepas dari kontroversi, hal ini menunjukkan bibit keterbukaan terhadap perubahan dunia yang ditanam sejak awal oleh Bode sebagai pemrakarsa. Nantinya, Documenta juga mengundang tokoh dari berbagai bidang, dari mulai sutradara Stanley Kubrick (Documenta 6, 1977) hingga Edward Said (Documenta X, 1997). Dalam edisi terakhirnya di tahun 2017, Documenta bahkan diadakan di dua kota, yakni Kassel dan juga Athena, Yunani. Menurut Schormann, ini adalah sinyal bahwa suatu pernyataan seni tidak lagi bisa dinarasikan, dijelaskan dan dikomentari dari satu tempat saja.

Mengajak Eropa untuk Berkomunitas

Tajuk utama Documenta di tahun 2022 adalah “Lumbung,” sebuah tema yang merujuk kepada kolonialisme, kapitalisme, keterpencilan dan patriarki. Keputusan untuk memilih komunitas seni dari timur diharapkan akan memberi perspektif yang baru dan segar bagi penikmat seni di Eropa. 

Seniman dan pengamat FX Harsono menilai bahwa pemilihan Ruang Rupa sebagai direktur artistik Documenta adalah langkah yang progresif. Apalagi, ini juga kali pertama posisi penting tersebut diduduki oleh pelaku seni dari Asia. Dalam pameran-pameran sebelumnya, negara-negara Asia Tenggara bahkan jarang dilirik. Yang diundang pun tidak banyak.

FX mengungkapkan bahwa praktik seni berbasis komunitas yang dilakukan Ruang Rupa memang saat ini tengah menjadi tren dunia.

“Di Eropa, tidak ada komunitas seperti Ruang Rupa. Ini bisa dilihat sebagai contoh untuk Eropa agar mulai menciptakan seniman berbasis komunitas. Yang menjadi pekerjaan rumah untuk Documenta dan Ruang Rupa adalah, bagaimana seni yang tidak lagi berupa sebuah objek namun peristiwa ini, dapat didokumentasikan dengan baik,” 

Menurut FX, dunia saat ini tengah mencari keseimbangan politik. Asia Tenggara memiliki potensi untuk unjuk diri. 

“Kekuatan singa harus diimbangi dengan kekuatan politik lain, dan ini hanya bisa dilakukan oleh Asia Tenggara. Juga, perkembangan ekonomi di dunia pada saat ini yang ter- ada di Asia Tenggara. Efek ini mempengaruhi pemikiran dunia, dan yang pasti menjadikan salah satu alasan Documenta memilih Ruang Rupa untuk menjadi direktur artistik mereka,”

Ruang Rupa sendiri saat ini tengah merapikan rencananya untuk acara yang akan digelar dua tahun ke depan. Ade Darmawan, salah seorang penggagas Ruang Rupa yang berdiri sejak tahun 2000, mengatakan bahwa mereka lebih tertarik untuk menawarkan struktur baru dibandingkan sekadar menemukan tema besar. 

“Saat ini, kami sedang melakukan riset soal ekonomi dan pendidikan informal. Kami ingin (Documenta 15) bisa menjadi tidak hanya sebuah pameran, tapi juga model. Yang paling penting adalah mengadakan dialog antara Ruang Rupa, Documenta dan juga dunia,”

 

Reportase tambahan oleh Revy Tiara 

 

Related Article