post

Current Affairs

RIP Internet Explorer, Browser Paling Malang Sepanjang Masa

Raka Ibrahim, 20 Agustus 2020

Akhirnya, penderitaan Internet Explorer berhenti. Setelah bertahun-tahun jadi langganan meme yang mengejek pelbagai kemudharatannya, Microsoft mengumumkan bahwa peramban lawas tersebut akan berhenti beroperasi mulai tahun depan.

Vonis mati bagi Internet Explorer diresmikan dalam pernyataan publik Senin (17/8) lalu. Microsoft akan menyudahi dukungan untuk Internet Explorer 11 di seluruh cakupan aplikasi dan layanan Microsoft 365. Mulai 17 Agustus 2021, Internet Explorer juga tak akan bisa digunakan dalam layanan daring Microsoft seperti Office 365, OneDrive, Outlook, dan lain sebagainya. Aplikasi Microsoft Teams pun akan berhenti melayani Internet Explorer mulai dari 30 November 2020.

Transisi ini telah direncanakan sejak lama. Pada 2015, Microsoft mengumumkan eksistensi Project Spartan, nama samaran ambisius untuk peramban baru yang tengah mereka kembangkan sebagai pengganti Internet Explorer. Peramban anyar tersebut, Microsoft Edge, perlahan-lahan menggeser peranan Internet Explorer sebagai peramban “resmi” Microsoft. Setelah sempat digadang-gadang sebagai “solusi kompatibilitas” alih-alih peramban, akhirnya Internet Explorer disuntik mati secara permanen mulai tahun depan.

Sejak lama, Internet Explorer menjadi bulan-bulanan netizen dan subyek meme-meme kejam. Peramban tersebut dicitrakan sebagai peramban yang lamban, gampang nge-bug, sarat error, dan merepotkan secara desain maupun pengalaman pengguna. Satu lelucon lawas kerap diutarakan untuk menggilas martabat Internet Explorer: peramban tersebut hanya punya satu kegunaan, yakni untuk mengunduh peramban lainnya ketika kamu memakai komputer baru.

Namun, reputasi coreng-moreng ini tidak dimulai oleh netizen-netizen iseng di laman meme. Sejak awal dekade 2000-an, Internet Explorer sudah punya citra buruk di kalangan pengembang web, pencinta teknologi, maupun pengguna Microsoft. Padahal, pada mulanya, ia dikenal sebagai peramban pertama yang penuh inovasi. Sepanjang dekade 1990-an, saat pengembang-pengembang lain susah payah mengembangkan peramban yang oke, Internet Explorer dikenal sebagai peramban paling cepat, inovatif, dan mudah digunakan.

Seperti dilansir situs Howtogeek.com, titik balik bagi Internet Explorer dimulai pada akhir dekade 1990-an. Saat itu, Microsoft mengintegrasikan Internet Explorer ke Windows dan mewajibkan semua pengguna Windows menggunakan peramban tersebut. Internet Explorer sukar di-uninstall, dan mengunduh peramban lain repotnya setengah mati. Berhubung saat itu juga Microsoft sedang bersaing berat dengan peramban Netscape, Microsoft mulai dicitrakan sebagai perusahaan gede yang bersikeras produknya memonopoli pasar.

Palu godam berikutnya adalah perilisan Internet Explorer 6 pada 2001. Meski citra Microsoft dan Internet Explorer sudah agak turun, sebenarnya Internet Explorer 6 masih tergolong mumpuni untuk zamannya. Masalahnya adalah, setelah edisi teranyar peramban itu dirilis, Microsoft tidak memperbaharui Internet Explorer… selama lima tahun.

Serius, mereka ongkang-ongkang kaki selama lima tahun. Mungkin mereka merasa aman, sebab 95 persen pengguna internet menggunakan peramban Internet Explorer, dan tak ada pesaing baru yang muncul. Memang, sekumpulan pecinta teknologi dan pekerja kreatif mulai mengeluh karena Internet Explorer 6 begitu-begitu saja, tapi memangnya mereka punya pilihan apa?

Semua berubah setelah negeri api--eh salah, maksudnya Mozilla Firefox--menyerang. Pada 2004, peramban baru tersebut dirilis ke pasaran dan langsung memporak-porandakan dominasi Internet Explorer. Fiturnya yang inovatif, penggunaannya yang lebih nyaman, dan errornya yang tak semelimpah Internet Explorer membuat Firefox jadi primadona baru. Pengguna mulai bermigrasi ke Firefox dan dominasi Internet Explorer berangsur-angsur mereda.

Microsoft merilis Internet Explorer 7 dan 8 dalam waktu berdekatan, tapi nasi keburu menjadi bubur. Jangankan bersaing melawan Firefox, Microsoft terpaksa sikut-sikutan dengan peramban baru lain yang juga sedang menggemparkan pasaran: Google Chrome.

Keluhan terhadap Internet Explorer yang sudah menggelegak sekian tahun pun tumpah berhamburan. Internet Explorer dibenci oleh pengembang aplikasi dan website karena tampilan dan kodenya yang awur-awuran. Situs yang cemerlang di Chrome, Firefox, Safari, dan peramban lainnya tiba-tiba akan terlihat hancur di Internet Explorer, sehingga mereka terpaksa mengobrak-abrik situs tersebut hanya demi mengakomodasi peramban yang sekarat.

Namun, selain bikin jengkel pengembang situs, Internet Explorer punya masalah yang lebih serius: keamanannya amat buruk. Rancang-bangun Internet Explorer amat mudah dibobol oleh spyware, virus, dan adware. Pada 2006, peramban tersebut disorot habis-habisan setelah diketahui bahwa situs tertentu dapat mencuri informasi atau mengambil alih komputer pengguna.

Bahkan pada 2008, lembaga US Computer Emergency Readiness Team merekomendasikan agar fitur ActiveX di Internet Explorer dimatikan demi menjaga keamanan komputer. Pada 2014, lembaga itu merekomendasikan agar semua netizen tak menggunakan Internet Explorer sama sekali sampai masalah-masalah keamanan mereka diselesaikan.

Sudah jatuh, tertimpa tangga, atap rumah rubuh pula. Reputasi Internet Explorer sebagai peramban yang lamban, mudah dibobol maling, merepotkan, dan diproduksi oleh perusahaan raksasa yang nyebelin semakin menguat. Pada 2012, Microsoft sempat berusaha menangkis reputasi jeblok ini melalui serangkaian kampanye digital bersifat satir yang mengutip meme-meme Internet Explorer, tapi kampanye tersebut tak berhasil. Pada 2015, Edge dikembangkan dan peramban lama tersebut mati perlahan-lahan.

Selamat tinggal, Internet Explorer!