Ridwan Kamil dan Ustaz Baequni Bertemu, Diskusikan Masjid "Illuminati"

Menjelang lebaran 2019, sebuah rekaman komentar Ustaz Baequni mengenai masjid Al Safar di rest area KM 88, jalan tol Cipularang, karya Ridwan Kamil menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kata Baequni, Ridwan membangun masjid yang sarat dengan simbol iluminati dan Yahudi. Dia mengatakan bahwa di bagian mimbar, dari sudut tertentu, tampak simbol mata satu atau "All Seeing Eye." Simbol ini menurutnya adalah simbol utama iluminati. Simbol lainnya yang juga dipermasalahkan adalah penggunaan segitiga yang dianggap sebagai logo zionis Yahudi. 

Ceramah yang dilakukan oleh Ustaz Baequni ini langsung direspons oleh Ridwan Kamil. Di dalam salah satu unggahan Instagramnya, ia mempertanyakan mengapa masjid yang dibangunnya dipermasalahkan, sedangkan masjid-masjid lain yang juga menggunakan simbol segitiga tidak. Bahkan, Ridwan menyebutkan dalam unggahannya bahwa terdapat unsur segitiga dalam Masjid Nabawi. Berikut unggahan Ridwan Kamil di akun Instagramnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Ridwan Kamil (@ridwankamil) on

Ridwan Kamil dan Ustaz Baequni Bertemu

Usai saling menyanggah, kedua belah pihak setuju untuk bertemu di Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Senin (10/6). Para pengunjung berdatangan untuk menyaksikan diskusi tersebut.

Ustaz yang memiliki nama lengkap Rahmat Baequni tersebut diberikan kesempatan untuk mempresentasikan argumentasinya terlebih dahulu. Ia diberi waktu 30 menit terkait apa yang dianggapnya salah dari masjid tersebut.

Di dalam pemaparannya, segitiga merupakan simbol yang digunakan zionis Yahudi dalam berbagai hal. Secara spesifik, berdasarkan buku yang ia baca, segitiga ke bawah memiliki makna iblis. Sedangkan segitiga ke atas merupakan lambang Dajal. Dua segitiga berlawanan arah ini bila dipertemukan akan memunculkan Bintang David yang sekarang terdapat dalam bendera Israel. Hal ini lah yang membuat ia merasa bahwa masjid yang dibangun Ridwan Kamil memiliki unsur iluminati dan Yahudi.

“Salah satunya mereka memasukkan (simbol-simbol) dalam ilmu arsitektur,” kata Baequni.

Setelah pemaparan Ustaz Baequni, Ridwan Kamil diberikan kesempatan yang sama. Ia memulainya dengan pernyataan bahwa terdapat banyak masjid lain yang juga punya segitiga atau satu lingkaran dalam desainnya. Salah satu yang ia garisbawahi adalah mihrab Masjid Nabawi.

Menurut Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, Masjid Al Safar yang dibangunnya berusaha memadupadankan antara konsep masjid konvensional dan konsep alam terbuka yang natural.

“Apa bentuknya? Alam itu tidak beraturan maka Masjid Al Safar pun bentuknya tidak beraturan,” tutur Ridwan. Ia pun melanjutkan, “dalam ilmu arsitektur ada teorinya. Namanya teori melipat atau origami. Dengan melipat kita bisa membentuk yang tidak beraturan menjadi berdiri. Bentuk tidak beraturan ini secara alami membentuk segitiga dalam lipat-melipat supaya bisa belok.”

Ia mengakui tidak berniat membangun sebuah masjid dengan simbol iluminati. Ia yakin bahwa pihak lain yang terlibat seperti Jasa Marga pun mengetahui bahwa niatan tersebut tidak ada.

"Demi Allah," katanya.

 

Related Article