Ridwan Kamil dan Tantangan Bermedia Sosial Calon Gubernur 

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil diakui memang tampil menjadi salah catu calon kuat pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat dan masih menjadi top of mind pemilih. Hal tersebut sesuai dengan yang diutarakan oleh Cyrus Network, dalam survei opini publik yang digelar akhir Januari 2018.

Sejak menjadi Wali Kota Bandung lima tahun lalu, tidak sedikit kebijakannya menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, di antaranya mencoba mengakomodir kaum muda—dan dianggap cukup berhasil. Sebagai seorang arsitek, Kang Emil, sapaan akrabnya, merapikan fasilitas publik milik Kota Bandung, seperti Taman Jomblo, Taman Musik, Taman Superhero, Taman Fotografi, dan sebagainya.

Sosok wali kota yang dikenal sebagai social media darling ini juga beberapa kali membuat sesuatu yang menjadi perbincangan khalayak lewat media sosial. Mulai dari pencarian orang yang berpose di kursi sekitaran Jalan Asia-Afrika melalui akun pribadinya, yang kemudian pemuda tersebut dikenakan sanksi sosial berupa push-up di Balai Kota dan menyapu Jalan Braga. 

Lalu ada pula kasus postingan mengenai izin Ridwan Kamil untuk istrinya melanjutkan kuliah yang kemudian banyak diprotes para feminis.

"Saya bilang di balik lelaki hebat di belakangnya ada wanita hebat. Bagi feminis itu mungkin dianggap sesuatu yang ofensif, oh berarti wanita harus selalu ada di belakang," kata Kang Emil dalam wawancaranya dengan BBC Indonesia

"Padahal maksudnya kan tidak begitu. Bagi saya tidak bermaksud. It's just a simple thing [ini hal yang sederhana], tapi ditafsir, dibaca berbeda, sebagai pemimpin, kalau ternyata maksudnya baik tapi ditafsirnya tidak baik, saya minta maaf.

Hingga baru-baru ini, muncul lagi kasus ketika ia “menciduk” pasangan yang sedang berduaan di hutan mangrove di kawasan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. 

“Lagi blusukan kampanye jalan kaki di hutan Mangrove Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Tiba-tiba ada Dilan dan Milea lokal lagi mojok syahdu di kebon, yang tercyduk kekuatan hengpon jadul minceu babang tamvan. Cekrek…cekrek… semoga segera menikah biar halal dan jangan lupa undang babang," tulis Ridwan dalam caption foto yang ia unggah ke akun pribadi media sosialnya.

Beberapa akun warganet terlihat melayangkan protes. Pemilik akun @Aniessa_Andi menganggap RK melanggar hak pribadi seseorang untuk mojok, hingga memajangnya di media sosial untuk kepentingan elektabilitas. 

“Bang Ridwan Kamil, Anda offside memasuki area pribadi. Masa Anda mencampuri urusin hak orang untuk mojok? Anda juga telah melanggar dengan mempublikasikan ini," tulis Aniessa.

RK mencoba menangkap kesempatan dalam fenomena generasi muda millennial yang tidak pernah lepas dari smartphone dan bersosial media. Dengan akun Instagram berjumlah 7,8 juta followers dan akun Twitter mencapai 3,02 juta followers, RK bisa dengan mudah dan mampu menjadi media bagi dirinya sendiri untuk meningkatkan elektabilitas menjelang Pilgub Jawa Barat 2018 ini. 

Seperti diketahui dalam survei yang diadakan Cyrus Network, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul sementara ini masih mendapatkan nilai elektabilitas tertinggi dengan mendapatkan 45,9% suara pemilih. Sedangkan di bawahnya menempel pasangan Deddy Mizwar–Dedi Mulyadi yang memiliki angka elektablitas 40,9%. Keduanya bersaing dengan ketat dengan selisih angka yang tidak banyak. 

Elektabilitas dalam pemilihan umum dapat diartikan dengan sederhana sebagai ketertarikan seseorang dalam memilih. Untuk mencapai tingkat elektabilitas sesuai dengan yang diinginkan, para kandidat gubernur ini bisa melakukan banyak hal saat kegiatan kampanye dalam rangka menggaet suara, termasuk melakukan salah satu strategi kampanye melalui media sosial, seperti yang aktif dilakukan RK, mulai dengan postingan foto keluarga, berfoto dengan artis terkenal, hingga tentang gurauan artis Korea, yang mampu menarik perhatian banyak pengguna Instagram.      

Sebagai informasi, pada saat berkunjung ke hutan mangrove tersebut, RK sedang dalam rangka blusukan kampanye dalam rangka pemilihan Gubernur Jawa Barat. Dengan kemudahan perkembangan teknologi, semua semakin menyadari bahwa media memiliki kekuatan untuk membentuk pikiran publik, baik individu atau pun kelompok. Namun di balik itu, media pun bisa berfungsi sebaliknya dan malah merugikan penggunanya.

Lantas, strategi seperti apa sih yang Ridwan Kamil gunakan dalam menggunakan media sosial?

"Orang Indonesia khususnya adalah orang yang senang mengkonsumsi informasi berita secara online. Saya gunakan media sosial hanya untuk positive news, karena bad news banyak. Saya beritakan kegiatan saya, saya jawab pertanyaan-pertanyaan, saya klarifikasi fitnah-fitnah, saya minta maaf kalau saya keliru, I'm just a human [saya hanya manusia] kan," kata Ridwan dalam wawancara dengan BBC Indonesia.

Ridwan juga terlihat lebih santai dalam berbicara kepada warganya, ia sering mengutip budaya populer yang tengah digemari masyarakat. Misalnya, menyebut pasangan yang terciduk di hutan mangrove sebagai "Dilan dan Milea lokal", merujuk pada film yang sedang booming saat ini, Dilan 1990.

Ia juga mereferensikan kepada akun gosip terpopuler Lambe Turah dengan frasa "dengan menggunakan hengpon jadul, cekrek cekrek", yang sering digunakan saat menguntit selebritis yang tertangkap kamera. 

Ridwan mengatakan, ia pernah mengunjungi kantor Facebook di Amerika Serikat. Di sana ia mendapat insight bahwa orang Indonesia tidak gemar membaca yang terlalu serius. Maka dari itu, Ridwan membuat caption di media sosial lebih ringan dan lucu. 

"Gara-gara riset Facebook inilah, pulang dari Amerika, saya ubah, kalimat saya lebih humoris," kata Ridwan.

"Dia ingin melihat pemimpin apa adanya, behind the scene [di balik layar]. Apakah jadi pemimpin harus selalu jaga image? Tidak begitu. Sekarang millennial berharap Anda seperti millennial tapi kerja Anda baik."

Ia juga mengakui bahwa budaya jomblo di Indonesia itu sedang digemari masyarakat. Oleh karena itu, ia sering mengucap kata-kata berbau jomblo untuk meningkatkan popularitasnya di masyarakat, terutama pengikutnya di media sosial.

"70 persen followers saya adalah single. Jadi kalau saya sebut isu yang ada di emosi mereka, single, tentang mantan, tentang hayu menikah, itu ratingnya selalu tinggi. Just keywords to make it more interactive (kata kunci untuk membuatnya lebih interaktif)," katanya.

Kiki Esa Perdana adalah dosen ilmu komunikasi. Ia sangat antusias dengan isu komunikasi politik dan budaya.

    Related Article