Anterin, Dong! Mengenal Penantang Baru Go-Jek dan Grab

Pasca akuisisi Uber oleh Grab, sejumlah driver aplikasi transportasi asal San Francisco, Amerika Serikat, itu diberikan kesempatan untuk bergabung dengan Grab. Meski demikian, tak semua pengendara Uber tertarik untuk bergabung dengan Grab. Beberapa di antaranya memilih untuk mendaftar ke saingan terbesarnya di Indonesia, Go-Jek. Sedangkan sebagian lainnya melabuhkan pilihan pada Anterin.

Anterin sendiri merupakan penawar jasa transportasi online lokal yang sebenarnya sudah berdiri sejak 2016. Pada akhir 2017, Anterin merilis aplikasinya dan melakukan peluncuran resmi pada April 2018. Kini, aplikasi ini tengah ramai dibicarakan. Bak peribahasa, Anterin ini serupa namun tak sama dengan kerabat-kerabatnya. 

Salah satu yang membuat Anterin berbeda adalah kebebasan yang ditawarkan, baik kepada driver maupun penumpang. Kebebasan ini membuat driver dapat menentukan sendiri harga jasa pengantaran yang akan dilakukan. Yang penting, harga yang dipatok driver masih dalam rentang harga per kilometer yang ditentukan perusahaan, yaitu Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilometer untuk motor. 

Di sisi lain, penumpang juga bisa memilih driver berdasarkan harga yang ditawarkan, jenis kelamin, jenis dan tipe kendaraan, jarak driver dari tempat penjemputan, hingga penilaian penumpang alias rating driver

Metode lelang ini, disampaikan CEO Anterin Imron Hamzah, berawal dari pengalaman pribadinya yang selalu kesulitan mendapatkan driver di jam-jam sibuk saat menggunakan aplikasi transportasi online lainnya. 

“Selain itu kami melihat bahwa terjadi ketimpangan antara driver dengan perusahaan aplikator karena driver tidak memiliki bargaining position yang kuat. Sehingga kami muncul ide untuk membuat aplikasi Anterin dengan memberikan pilihan kepada mitra untuk memasang harga sendiri, dan juga user bisa memilih mitra berdasarkan preferensi masing-masing,” kata Imron kepada Asumsi.

Lebih lanjut, Imron menyebut Anterin yang sudah memiliki lebih dari 160 ribu driver ini sebagai sebuah “city transportation marketplace” yang terbuka bagi semua orang. Sehingga, Anterin juga menerima aplikator maupun perusahaan lain yang mau bergabung bersama Anterin.

Menggunakan Layanan Anterin

Enggak mau ketinggalan, saya pun turut mencoba layanan ini. Halaman utama aplikasi ini tampak tak jauh berbeda dari penawar jasa serupa lainnya, yaitu meminta pengguna untuk memasukkan lokasi penjemputan dan lokasi pengantaran. Setelah memasukkan kedua informasi tersebut, pengguna harus menekan tombol “Cari Driver”.

Halaman utama Anterin

Setelah itu, pengguna akan dibawa ke halaman yang meminta pengguna untuk memilih driver mereka. Pada halaman tersebut, terpasang foto dan nama driver, harga yang ditawarkan, jenis dan tipe kendaraan, rating atau penilaian konsumen terhadap driver tersebut, serta jarak driver dengan lokasi penjemputan. Setelah memilih seorang driver, pengguna diminta untuk menunggu selama 30 detik bagi driver untuk menerima panggilan pengguna. 

Laman Anterin saat menunggu driver

Jika driver tidak menerima, pengguna diminta untuk memilih driver lain. Namun, jika diterima, maka layar akan beralih ke halaman yang umum yang ada di aplikasi lain juga, yaitu peta yang menunjukkan lokasi pengguna dan keberadaan driver

Pada laman itu, pengguna bisa menghubungi driver menggunakan tombol yang tersedia. Sayangnya, berbeda dengan dua penawar jasa serupa lainnya, Anterin tidak (atau belum) menyediakan layanan chat di dalam aplikasi.

Saat perjalanan sudah selesai, seperti aplikasi daring lainnya,, Anterin juga meminta pengguna untuk memberikan penilaian kepada driver-nya. Bedanya, jika Go-Jek dan Grab menilai berdasarkan jumlah bintang satu hingga lima, Anterin hanya menyediakan tiga pilihan penilaian, yaitu kecewa, biasa, dan senang.

Laman rating driver Anterin

Kepada Driver: Kenapa Memilih Anterin?

Saat itu, saya memilih seorang driver bernama Agus. Butuh sekitar 15 menit bagi driver yang berjarak awal 1,7 kilometer untuk sampai di lokasi penjemputan. Saat bertemu, ia meminta maaf karena agak kesulitan menemukan lokasi, sebab penunjuk arah di aplikasi masih belum dapat bekerja dengan baik. 

Agus juga datang tanpa atribut Anterin. Ia pun bertanya apakah bermasalah bagi saya jika ia menggunakan atribut aplikasi transportasi lainnya yang berwarna hijau. Bukan masalah bagi saya. Ia kemudian menjelaskan kalau hingga saat ini, driver belum mendapatkan atribut apapun dari Anterin. Sebab, katanya merujuk pada penjelasan perusahaan, atribut masih dalam proses pengerjaan.

Selama perjalanan, kami pun melakukan perbincangan. Dituturkannya, selain menjadi pengendara Go-Jek, ia juga merupakan mantan sopir Uber. Saat Uber diakuisisi oleh Grab, ia memilih untuk hengkang ke Anterin. Begitu juga dengan banyak driver Uber lainnya.

“Anterin enak, soalnya enggak dipotong apa-apa sama kantor. Jadi biaya pengantaran yang dibayarkan pengguna murni diterima sama driver semua. Kalau Go-Jek ada potongan 20 persen per trip. Sudah gitu, pendaftaran Uber, Anterin, dan Go-Jek itu gratis. Kalau Grab harus bayar,” tuturnya.

Bagi Agus, Anterin memiliki peluang besar untuk menjadi penyaing Go-Jek dan Grab. Sebab, semakin hari, ada semakin banyak driver yang bergabung. Dengan demikian, driver akan semakin bersaing dengan memberikan harga termurah dan pelayanan terbaik agar dipilih pengguna.

Keesokan harinya, saya pun mencoba menggunakan jasa Anterin lagi. Kali ini, saya mendapat seorang driver bernama Heryanto. Selama berbincang dengannya, tak ada terlalu banyak perbedaan informasi yang disampaikannya. 

Heryanto sendiri menyatakan bahwa dirinya sebelumnya bergabung dengan Uber selama satu setengah tahun, lalu kemudian tertarik untuk bergabung dengan Anterin, bahkan sebelum Uber diakuisisi oleh Grab. Disebutkannya, ia tertarik bergabung dengan Anterin karena mendapat jaminan.

“Dijamin tanpa potongan harga, terus atributnya gratis. Ya, apa namanya enggak dijamin itu, Mbak?” tuturnya.

Tanggapan Pengguna Anterin

Meski belum terlalu populer, enggak dipungkiri kalau sudah ada beberapa orang yang mencoba menggunakan jasa Anterin. Salah satunya adalah Cintya Ladyana. Ia mengaku senang menggunakan jasa Anterin karena bisa memilih harga yang termurah. Selain itu, informasi mengenai jarak driver dengan lokasi penjemputan juga sangat membantu.

“Misalnya, gue pagi-pagi masih dandan tapi sudah mepet, at least bisa pesan dulu yang jaraknya sekiloan, dengan harapan ketika driver sampai, gue juga udah kelar. Dan ini berhasil gue lakukan sih,” tuturnya.

Namun, ia menyayangkan salah satu kebijakan perusahaan yang mengharuskan pengguna menunggu selama 30 detik untuk driver menyetujui panggilan pengguna. Sebab, selama 30 detik tersebut, pengguna tidak dapat membatalkan pesanan, dan terkadang panggilan juga tidak diterima. Jika berlangsung terus-menerus, artinya pengguna sudah kehilangan beberapa menit.

Secara keseluruhan, Cintya mengaku puas dengan layanan Anterin, dan masih terus menggunakannya hampir setiap hari.

Hal berbeda diungkapkan Nathania Pessak. Ia memang mengaku senang dengan layanan Anterin karena harganya yang ramah di kantong. Sayangnya, ia kesulitan dalam menentukan lokasi karena aplikasi tidak dapat mendeteksi lokasi secara langsung. Selain itu, driver juga sering tidak menerima panggilan, dan jika ada yang menerima, butuh waktu yang panjang bagi driver untuk sampai ke titik penjemputan.

“Nentuin titik penjemputan dan tujuan ribet karena masih harus pin sendiri di peta. Waktu itu gue nunggunya juga lama. Gue milih sampai enam driver dan enggak ada yang respons. Terus berikutnya nunggu 15 menit lebih. Males sih mau nyoba lagi,” ujarnya.

Cita-cita Anterin untuk Masa Depan

Hingga saat ini, layanan Anterin baru dapat dinikmati di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Aplikasinya pun baru dapat di-install di ponsel dengan sistem Android.

Ke depannya, disebutkan Imron, Anterin akan terus memperluas cakupan wilayahnya. Aplikasi bagi ponsel bersistem iOS juga sedang dikerjakan, dan harapannya dapat resmi dirilis bulan depan.

Lebih lanjut, Imron juga menyatakan bahwa sistem Anterin ini akan diajukan ke pemerintah.

“Sistem kami akan kami propose ke pemerintah, khususnya pemerintah daerah. Jadi, biar pemerintah bisa mengatur perusahaan transportasi juga,” katanya.

Kalau kamu, tertarik enggak buat nyobain jasa Anterin?

Related Article