Menyimak Proses Real Count Kubu Jokowi-Ma’ruf

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin memamerkan isi War Room atau ruang penghitungan formulir C1 Pemilu 2019, pada Selasa, 30 April 2019. Ketua TKN Erick Thohir dan rekan-rekannya menjelaskan secara rinci proses penghitungan suara yang mereka kerjakan.

Sejumlah media asing turut hadir di ruangan yang berlokasi di Gedung High End, Jakarta Pusat, tersebut. TKN ingin proses ini diketahui masyarakat luas. Menurutnya, transparansi adalah syarat penting untuk menciptakan Pemilu yang bersih.

Setidaknya ada sekitar 50 media asing yang datang langsung ke War Room TKN, di antaranya adalah Reuters, AFP, AP, Asahi Shimbun, Kyodo News, The Straits Times, dan The Sydney Morning Herald.

“Pada dasarnya, kami mengundang Anda ke War Room hanya untuk menunjukkan bahwa sejauh ini hasil real count kami tidak jauh berbeda dari KPU. Hari ini, hasil real count KPU untuk Jokowi-Ma’ruf sekitar 56%, sementara kami 55,8%,” kata Erick. “Kami tidak ingin menyembunyikan apa pun.”

Untuk itu, Erick ingin menunjukkan bahwa kinerja timnya baik, transparan, dan profesional. Menurutnya, keterbukaan menjadi hal yang sangat penting untuk diketahui masyarakat luas.

Erick pun tak menampik bahwa Pemilu 2019 ini merupakan pemilu terberat yang dijalani sebuah negara seperti Indonesia. Apalagi, Pemilu 2019 menyelenggarakan dua pemilihan sekaligus yakni pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg). Ini juga menjadi sejarah tersendiri bagi Indonesia yang biasanya menggelar pilpres dan pileg dalam waktu yang terpisah.

Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga sedunia, kata Erick, Indonesia patut menjadi contoh penyelenggaraan pemilu bagi negara-negara lain. Ini bisa dilihat dari tingginya partisipasi pemilih yang mencapai 8%. Belum lagi apresiasi dari pemimpin negara dan banyaknya pengamat pemilu dari luar negeri yang meninjau pesta demokrasi ini.

Transparansi Adalah Kunci Demokrasi

Senada dengan Erick, Juru Bicara TKN Meutya Hafid mengatakan: “Apa yang kita lakukan saat ini harus open, harus transparan. Kalau mau ada yang datang tentu pakai appoinment. Kan transparansi itu salah satu kunci demokrasi,” kata Meutya.

Meutya mengungkapkan bahwa masyarakat bisa datang ke War Room TKN untuk meninjau langsung proses penghitungan formulir C1. “Kalau ada permohonan, kami akan persilakan,” katanya.

TKN mendirikan War Room untuk memastikan bahwa hasil penghitungan real count dari KPU benar-benar tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan TKN.

“Banyak pertanyaan kenapa bikin ini kalau nggak berbeda? Justru kita melakukan ini untuk check and balances bahwa hasil dari KPU betul-betul sesuai dengan apa yang kita hitung. Penting sekali bagi tim kampanye, apalagi presidential campaign memang harus disertai check and balances terhadap data”. 

Alasan kedua adalah jika ada kemungkinan gugatan terhadap hasil Pemilu 2019, menurut Meutya, mereka sudah mendokumentasikan seluruh data-data C1 secara lengkap. Jadi, pihaknya akan siap menghadapi gugatan dengan menyertakan data-data asli dari lapangan.

“Semua direkam dengan baik, sehingga kalau ada klaim-klaim atau gugatan, kami sudah siap dengan data kami. Ini salah satu fungsinya. Sekalipun quick count sudah menang, kami tetap terus melakukan input terhadap formulir C1 dari berbagai penjuru.”

Sementara itu, Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto menguraikan proses penghitungan suara Pemilu 2019 oleh kubu TKN, sampai Selasa (30/4). “Jumlah total suara sudah mencapai 52%. Berdasarkan estimasi kami, Koalisi Indonesia Kerja mengumpulkan 349 kursi di parlemen,” ujarnya.

Menurut Hasto, penting bagi seluruh elemen seperti partai politik peserta pemilu dan tim suksesnya untuk memantau dan mengontrol proses penghitungan suara resmi dari KPU. “Kita lakukan dengan sumber daya kita sendiri dan kita perlu memeriksa kinerja KPU.”

Sementara itu, berdasarkan pantauan Asumsi di laman resmi KPU pada Kamis (9/5) pukul 21.00 WIB, penghitungan suara resmi sudah mencapai sekitar 74%, dan Jokowi-Ma’ruf untuk sementara meraup total 56% atau 64.454.737 suara, sedangkan Prabowo-Sandi meraih 44% atau 50.234.910 suara.

 

Related Article