Ramai-ramai Peduli Difabel Meski Hari Disabilitas Internasional Sudah Lewat

Tanggal 3 Desember lalu, waktu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional, semua orang atau institusi ramai-ramai kasih ucapan selamat. Padahal biasanya, diingat aja enggak. Kelihatan dari rusaknya sejumlah fasilitas umum untuk para difabel, seperti tactile paving di trotoar, ramp untuk pengguna kursi roda di tempat-tempat umum yang masih minim, sampai fasilitas terjemahan dalam bahasa isyarat di tayangan atau acara-acara yang jarang tersedia.

Sekarang, setelah seminggu berlalu, masih pada peduli enggak, ya?

Sebenarnya, ada banyak banget yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Dari hal yang paling simpel sekali pun. Terlalu banyak sampai enggak mungkin ditulisin di sini semua. Tapi apa aja kira-kira beberapa hal yang bisa kita lakukan?

Belajar Bahasa Isyarat

Saat semua orang berlomba-lomba untuk belajar bahasa asing, seperti Inggris, Mandarin, Perancis, dan lainnya, berapa banyak orang yang mau belajar bahasa isyarat? Kurangnya keinginan untuk belajar bahasa isyarat ya alhasil membuat pihak-pihak penyedia jasanya juga jadi kurang. Tapi bukan berarti enggak ada.

Salah satunya adalah komunitas Pandulisane yang menggagas kampanye sosial #AkuBerisyarat. Lewat kampanye ini, komunitas yang bergerak dalam bidang disabilitas ini mengingatkan masyarakat bahwa sebenarnya bahasa isyarat adalah bahasa yang dekat dengan keseharian masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk berani berkomunikasi dengan penyandang disabilitas tuli menggunakan bahasa isyarat.

Pandulisane juga terbuka pada undangan masyarakat yang mau membantu menyebarkan kesadaran menggunakan bahasa isyarat lewat penyuluhan dan aktivitas semacamnya. “Kami siap diundang untuk berbagi ilmu tentang bahasa isyarat,” tutur Pandu, penggagas berdirinya Pandulisane.

Jadi Penerjemah

Kalau udah jago bahasa isyarat, mungkin kamu bisa kerja jadi penerjemah bahasa isyarat di televisi atau perusahaan yang sering bikin acara. Dengan begitu, teman-teman tuli (iya, mereka lebih senang disebut tuli dibanding tuna rungu, loh!) juga bisa menikmati hal yang sama dengan teman-teman dengar.

Kasih Subtitle

Beda dengan televisi yang sudah menyediakan penerjemah di tayangan beritanya (ya, walaupun baru sebagian sih), tapi rata-rata tayangan di Youtube belum ada. Padahal, Youtube menyediakan fasilitas subtitle atau closed captions yang sebenarnya sudah sering kita lihat kalau nonton tayangan luar negeri.

Di sisi lain, ngasih subtitle juga bisa membantu enggak hanya bagi teman-teman tuli, tapi juga teman-teman dengar yang sedang dalam kondisi kesulitan mendengar. Misalnya, mau nonton Youtube di stasiun, dan suasananya lagi sangat ramai sampai membuat suara di video enggak kedengaran.

“Gue sering banget mau nonton Youtube di kereta, tapi berisik banget jadi suka enggak kedengeran. Pakai earphone pun tetep enggak kedengeran, makanya gua rasa subtitle itu membantu banget,” ujar Asti, seorang pengguna setia KRL.

Nah, supaya masyarakat bisa kasih kontribusi subtitle, harus juga ada kerja sama dari pihak uploader di Youtube. Setiap mengunggah video, kasih centang (bukan coblos) di bagian “Allow viewers to contribute translated titles, descriptions, and subtitles/CC” di tab advanced settings. Kalau bagian itu sudah dikasih centang, baru masyarakat bisa bantu kontribusi. Seperti hati yang kalau enggak dibuka enggak akan bisa dimasukin, ini pun juga begitu.

Buat Buku Berbunyi...

atau yang lebih sering dikenal dengan audio book.

Pernah lihat buku belajar bahasa asing atau mengaji yang ada audionya? Biasanya buku yang ditujukan untuk anak-anak ini ada dijual di toko buku besar di mall-mall. Audio dalam buku-buku seperti itu sebenarnya ditujukan untuk membantu anak-anak dalam belajar membaca dan menyebutkan kata-katanya secara benar.

Nah, konsep serupa bisa dipakai untuk membantu teman-teman disabilitas buta untuk membca. Bedanya, audio di sini memang berfungsi untuk ‘menggantikan’ mata mereka. Pergunakan aja sejumlah platform yang tersedia, seperti Youtube atau Soundcloud. Dengan rekaman suara tersebut, teman-teman yang menyandang kebutaan pun bisa ikut membaca buku. Yang penting, pastikan rekaman dan cara berbicaramu mudah dimengerti oleh para pendengar nanti.

Kalau kesulitan membuat sendiri, kamu bisa bergabung dengan komunitas yang memang bergerak di bidang ini. Biasanya, komunitas yang bergerak di bidang ini memang terbuka pada kontributor yang mau membantu kok.

Pelihara Fasilitas yang Diperuntukkan Bagi Kaum Difabel

Celah antar bollard yang dibuat agak lebar di trotoar dibuat untuk pengguna kursi roda, tapi malah sering digunakan motor untuk menaiki trotoar. Alhasil, tactile paving yang tersedia untuk disabilitas buta jadi ikutan rusak. Pada pembangunan gedung, jalan ramp untuk pengguna kursi roda, sering enggak ada.

Hanya karena kita enggak membutuhkannya, bukan berarti fasilitas tersebut enggak berguna dan layak dirusak. Fasilitas tersebut ada karena memang ada teman-teman kita lainnya yang membutuhkan.

Sebenarnya, masih ada banyak langkah lain yang bisa dilakukan sih. Seperti yang sudah dibilang di atas, enggak mungkin ditulisin satu-satu. Lima cara ini diharapkan bisa menginspirasi orang-orang untuk lebih peduli sama teman-teman difabel. Soalnya, sebagai sesama manusia, teman-teman difabel juga punya hak yang sama, kan?

Rosa Cindy adalah penyuka isu sosial dan jalan-jalan. Coba sapa dia melalui akun media sosial Instagram dan Twitter, @rosacindys. Panggil namanya, tapi enggak perlu tiga kali. Mudah-mudahan dibalas

Related Article