Ramadan di Melbourne: Istimewa Tanpa Harus Diistimewakan

Wajah kota Melbourne yang dihiasi pepohonan meranggas masih melekat dalam ingatan saya. Ramadan tahun lalu, saya berada di kota tersebut untuk menyelesaikan pendidikan pada program Master of Global Media and Communication di Melbourne University. Embusan udara kering menjelang musim dingin menemani saya menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Berpuasa di ibu kota negara bagian Victoria itu terbilang gampang-gampang susah. Sekilas terasa lebih ringan karena jangka waktu berpuasa lebih singkat dari Indonesia. Matahari lebih pemalu selama musim dingin. Ia hanya tampil mulai pukul 6 pagi hingga pukul 5 sore. Meski begitu, udara kering dan dingin adalah jagonya memicu haus dan lapar.

Apalagi denyut kehidupan di kota metropolitan tersebut tetap berjalan seperti biasanya selama bulan Ramadan. Sebagai kota dengan populasi muslim hanya sekitar 100 ribu orang, Melbourne tentunya tak menawarkan “keistimewaan” bagi orang-orang yang tengah berpuasa. Tidak ada pemotongan jam sekolah atau kerja seperti yang terjadi di tanah air. Tak ada kumandang adzan yang mengingatkan, termasuk pada waktu berbuka puasa dan imsak.

Hangatnya suasana buka bersama di Masjid Melbourne Madinah yang terletak di pusat kota Melbourne. Foto: Dok. Pribadi

Tanpa Perlakuan Istimewa

Namun, hal tersebut justru memberikan saya pengalaman baru dalam berpuasa. Saya merasa sedang dibimbing agar lebih bijak dan disiplin mengatur waktu, serta jadi lebih tegas kepada diri sendiri. Saya dilatih untuk tetap produktif di tengah rasa lapar dan dahaga. Tugas-tugas kuliah tetap harus dikerjakan, tuntutan deadline harus dipenuhi.

Di Melbourne, saya merasa harus pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, berbanding terbalik dengan Ramadan di Tanah Air, di mana banyak urusan justru disesuaikan dengan Ramadan. Tak sedikit pejabat menerbitkan surat edaran berisi imbauan untuk menghormati umat muslim yang tengah berpuasa.

Di Melbourne, tentu kedai makan atau restoran tetap buka seperti biasa selama Ramadan. Orang-orang tetap menyantap makanan di tempat umum tanpa perlu merasa sungkan. Siang hari, ketika menyusuri kawasan pusat kota, warga muslim Melbourne harus menahan diri agar tidak tergoda semerbak aroma kopi yang diseduh para barista di kedai-kedai pinggir jalan. Tak diistimewakan seperti di Indonesia, mengalami Ramadan di negeri Kanguru pada dasarnya adalah kesempatan mempertebal iman.

Menjadi lebih mandiri adalah hal lain yang saya peroleh dari pengalaman berpuasa di Melbourne. Hidup di perantauan menuntut saya untuk menyiapkan sendiri menu berbuka dan sahur. Berburu bahan makanan halal di kawasan Sydney Road, daerah imigran Timur Tengah yang sebagian besarnya muslim, pun saya lakukan secara rutin.

Terlepas dari semua tantangannya, Ramadan di Melbourne istimewa bagi saya. Di sini saya bisa berkumpul dan saling mengenal dengan saudara-saudara sesama muslim dari berbagai belahan dunia. Masih lekat dalam ingatan saya kehangatan di Masjid Melbourne Madinah, salah satu tempat kami biasa berbuka puasa bersama. Kendati paras dan aksen kami beragam, suasana dan interaksi begitu cair. Semua saling menyapa dengan ramah dan penuh kepedulian. Erat karena rasa persaudaraan.

Setiap hari selama bulan Ramadan selalu ada sumbangan makanan dari jamaah setempat untuk berbuka puasa bersama tersebut. Menunya pun bervariasi, mulai dari masakan Barat hingga Timur Tengah. Kesempatan untuk bersilaturahmi dengan saudara muslim dari berbagai negara itu merupakan berkah bagi saya. Dari mereka yang sudah bertahun-tahun hidup sebagai muslim di Melbourne, saya mempelajari arti dari menjadi umat beragama yang dewasa: hidup berdampingan tanpa sibuk menuntut keistimewaan. Mereka menyadari tanggung jawab untuk menyiarkan ajaran Islam dengan baik, sekaligus menghargai setiap perbedaan yang ada. Obrolan bersama saudara-saudara muslim di perantauan itu kian meyakinkan saya bahwa Islam adalah agama yang penuh cinta kasih dan kepedulian.

Rahmatul Furqan adalah alumni Melbourne University, program Master of Global Media and Communication. Sebelumnya, ia sempat bekerja sebagai jurnalis di Lombok Post.

Related Article