PTS Bukan Tempat Mahasiswa Buangan

Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 baru saja diumumkan hari Selasa (9/7). Tentu tak sedikit peserta SBMPTN yang gagal mendapat tempat di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan kecewa.

Kekecewaan ini bisa timbul dari berbagai hal. Pertama, banyak dari peserta SBMPTN memang bermimpi untuk melanjutkan pendidikan di PTN Indonesia. Mereka tidak sekadar mencoba peruntungan, tetapi menggantungkan harapan satu-satunya. Bukan sekadar kebanggaan, kadang kesempatan belajar di PTN dipandang sebagai cara menaikkan kualitas hidup.

Kekecewaan bisa pula berangkat dari usaha keras yang tak berbuah. Banyak peserta SBMPTN yang rela menghamburkan uang belasan juta demi mengikuti bimbingan belajar dengan iming-iming masuk PTN. Keringat dan materi yang sudah dikeluarkan ini berubah menjadi kekecewaan ketika kenyataan mengatakan lain.

Kendati demikian, sebenarnya ilusi keutamaan PTN ini harus mulai diubah secara perlahan dari masyarakat Indonesia. Sebab, belajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Indonesia bukan berarti menutup pintu masa depan. 

PTS Bukan Tempat Mahasiswa Buangan

Ilusi bahwa PTN adalah “pilihan” dan PTS adalah “buangan” berangkat dari kesalahan sistem pendidikan Indonesia. Selama ini, masuk ke PTN Indonesia selalu menggunakan jalur-jalur seleksi tes, baik ketika masih bernama Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) maupun kini SBMPTN, mahasiswa masuk ke PTN Indonesia melalui seleksi yang terstandarisasi. Ada soal-soal yang harus dijawab oleh calon mahasiswa, dan jika berhasil mengerjakannya dengan baik, mereka akan lolos.

PTS, yang kebanyakan masih membuka pendaftaran setelah hasil SBMPTN diumumkan, seringkali menjadi pilihan para siswa yang gagal PTN. Hal inilah yang menimbulkan kesan bahwa PTS adalah tempat buangan mahasiswa gagal PTN. Padahal sebenarnya tak demikian. Kebanyakan PTS menggunakan mekanisme penerimaan yang berbeda dari PTN Indonesia: uji TOEFL, esai, dan lembar motivasi, yang harus dikumpulkan ketika mendaftar.

Apakah prosesi penerimaan PTS dilakukan setelah pengumuman PTN? Tidak selalu. Kebanyakan PTS sudah membuka pendaftaran jauh sebelum pendaftaran SBMPTN dibuka. Banyak pula dari siswa-siswa tingkat akhir SMA yang memilih untuk langsung ke PTS dan tidak mengikuti SBMPTN. 

Kampus-Kampus Terbaik di Amerika Serikat Dikelola Swasta

Di Indonesia, ilusi bahwa masuk PTN adalah sebuah kesuksesan membuat banyak orang enggan melirik PTS. Padahal, di Amerika Serikat, faktanya berbanding terbalik. Kampus-kampus terbaik dunia yang terletak negeri itu justru dikelola oleh swasta. Sebut saja Harvard University, Princeton University, Stanford University, dan Massacusetts Institute of Technology (MIT). Kampus-kampus PTS ini selalu bertengger di sepuluh besar terbaik dunia.

Sehingga, jika logikanya diputar, sebenarnya kampus-kampus PTS bisa saja menjadi kampus favorit selayaknya PTN-PTN di Indonesia. Bahkan, jika keduanya memiliki kualitas yang setara, hal ini dapat menimbulkan kompetisi yang baik untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Tinggal bagaimana masyarakat Indonesia dapat menyikapi PTS dengan lebih bijak.

Aurelia Vizal Memilih untuk Berkuliah di PTS

Berbicara soal PTN dan PTS, Asumsi.co berkesempatan mewawancarai Aurelia Vizal, duta Generasi Melek Politik yang baru saja mendaftarkan dirinya ke sebuah PTS. Aurelia merupakan satu dari sekian banyak yang memilih untuk tidak mengikuti seleksi masuk PTN dan langsung mendaftarkan diri ke PTS yang diinginkannya.

“Selain malas ikut SNMPTN dan SBMPTN, soal-soalnya juga bikin harus belajar lagi. Harus belajar untuk Ujian Sekolah, Ujian Akhir, terus  buat UN, masa harus ditambah buat belajar SBMPTN,” ujar Aurelia ketika ditemui Asumsi.co, Rabu (10/7).

Menurut Aurelia, seharusnya mekanisme pendaftaran PTN Indonesia mengikuti sistem yang banyak dipakai di negara-negara Barat. Jadi, calon mahasiswa tidak harus mengikuti ujian yang terstandarisasi dan hanya perlu menyertakan berkas-berkas yang ditentukan oleh perguruan tinggi saja.

Salah satu yang menjadi alasan Aurelia memilih PTS adalah karena preferensi personal yang dimilikinya. Ia ingin berkuliah di kampus yang kelasnya tidak terlalu besar dan memiliki jam yang lebih fleksibel. Keleluasaan ini belum tentu didapatkannya di PTN. Selain itu, masalah biaya dan kemungkinan kembali bekerja di Indonesia menjadi alasan lain yang membuat ia lebih memilih untuk tidak memilih PTS di luar negeri.

“Pilihnya dalam negeri, karena lebih murah, dan biaya hidupnya enggak lebih mahal, sama nanti kan pasti balik-balik kerjanya di sini, jadi nyari yang di sini aja dulu,” ujar Aurelia.

Aurelia mengatakan bahwa PTS juga memiliki independensi pemerintahan, termasuk independen dalam menentukan sistem pembelajaran yang ingin diterapkan. “Kalau misalkan mau ada perubahan, PTN itu lebih ribet karena ada birokrasinya, kan,” kata Aurelia. “Urusan sama pemerintah emang agak ribet. Kalau misalkan PTS dituntut berubah, misalkan sistem pembelajarannya atau kurikulumnya, bisa langsung berubah.”

Related Article