Presiden Jokowi: COVID-19 Selesai di Akhir Tahun

"Saya meyakini ini hanya sampai akhir tahun," kata Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas mitigasi dampak COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Kamis (16/04)." Tahun depan akan terjadi booming di pariwisata," ujarnya.

Setelah pandemi berlalu, kata presiden, banyak orang sangat ingin berlibur karena sudah terlalu lama tinggal di rumah. "Semua orang ingin menikmati kembali keindahan yang ada di daerah yang ada pariwisatanya, sehingga optimisme itu yang harus diangkat," ujarnya.

Oleh karena itu dia meminta para menteri untuk menyiapkan stimulus ekonomi bagi para pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Tujuannya agar mereka bisa bertahan dan tidak melakukan PHK. "Jangan sampai terjebak pada pesimisme sehingga booming yang akan muncul setelah COVID-19 ini tidak bisa kita manfaatkan dengan baik," ujarnya.

Selain itu, Jokowi meminta adanya program mitigasi perlindungan sosial bagi pekerja di sektor pariwisata serta realokasi anggaran di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk program padat karya bagi pekerja di bidang pariwisata.

Tim Pakar Gugus Tugas: Puncak Penyebaran Awal Mei 2020

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan puncak penyebaran COVID-19 di Indonesia saat ini belum dimulai. Dari perhitungan Gugus Tugas, puncak penyebaran diprediksi terjadi pada awal Mei dan berakhir awal Juni 2020.

Menurutnya, angka kasus pada saat puncak penyebaran di bulan Mei itu, secara kumulatif diprediksi akan mencapai sekitar 95.000 kasus. Selepas bulan Mei, ia memprediksi angkanya mulai menurun, sementara kasus terkonfirmasi kumulatif pada Juni-Juli diprediksi akan mencapai sekitar 106.000 kasus. 

Wiku menegaskan bahwa yang disampaikannya bukanlah angka pasti. Namun, hitungan tersebut, lanjutnya, dilakukan sejumlah prediktor, ilmuwan, dan para ahli.  "Kita sudah mereview dan mengkombinasikan semua prediksi itu," kata Wiku dalam press briefing bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Ketua Gugus Tugas Doni Monardo di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (16/04).

Kata Wiku, pemerintah berusaha untuk memastikan bahwa prediksi soal puncak wabah COVID-19 itu tak menjadi kenyataan.

Baca Juga: Apakah COVID-19 Bisa Hilang Sendiri?

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kamis (16/04) siang WIB, sudah ada 5.516 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Sebanyak 496 orang meninggal dunia dan 548 orang dinyatakan sembuh. Dari angka tersebut, persentase angka kematiannya mencapai 8,9 persen.

Meski kasus positif terus bertambah, jumlah pasien yang sembuh kini lebih banyak daripada yang meninggal dunia.

Berry Juliandi, Sekjen Akademi Ilmuwan Muda sekaligus pengajar di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan bahwa pihaknya dan ilmuwan lain memang sudah pernah membuat simulasi soal prediksi penyebaran COVID-19 di Indonesia. Ia menyebut nyaris semua prediksi memperlihatkan hasil yang tak jauh berbeda.

“Tampaknya semua hampir sepakat bahwa pandemi ini akan memakan waktu paling cepat hingga akhir tahun. Bahkan bisa lebih,” kata Berry saat dihubungi Asumsi.co, Jumat (17/04).

Berry pun mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin di masa-masa yang mengharuskan untuk tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak ini. Menurutnya, setelah pandemi ini berakhir nanti, hal yang paling penting dilakukan adalah membentuk ketahanan untuk pandemi selanjutnya, karena menurutnya akan mungkin terulang lagi.

“Lalu kita juga harus memikirkan berbagai opsi yang bisa kita lakukan dalam beraktivitas setelah pandemi berakhir, misalnya dalam proses pendidikan dan pekerjaan,” ucap Berry.

Sebelumnya, Kepala BNPB Doni Monardo pernah menjelaskan pemodelan yang dibuat oleh Badan Intelijen Negara (BIN) terkait COVID-19. BIN memprediksi kasus positif COVID-19 mencapai puncak pada akhir Juli. Doni memaparkan skenario yang dihitung oleh BIN cukup akurat lantaran mereka sempat meramal kasus COVID-19 di Indonesia pada akhir Maret mencapai 1.577 orang. Angka ini cukup dekat dengan realisasi 1.528 kasus per 31 Maret lalu. 

Dalam laporan The Conversation, Peneliti Biostatistik di Eijkman-Oxford Clinic Research Unit (EOCRU) Iqbal Elyazar memperkirakan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia hingga akhir April 2020 bisa melonjak menjadi 11.000 hingga 71.000 kasus.

Iqbal menggunakan waktu penggandaan kasus di Indonesia selama lima hari atau dengan model Italia. Berdasarkan Our World in Data, waktu penggandaan virus Corona di Indonesia rata-rata dua hari atau jumlah kasus berlipat ganda setiap dua hari, lebih parah daripada italia.

Menurut Iqbal, tanpa pembatasan ketat, jumlah pasien COVID-19 akan eksponensial. Artinya, setiap periode yang sama, jumlah pasien akan bertambah lebih banyak dari jumlah pasien sebelumnya.

Meski banyak prediksi yang muncul soal kapan berakhirnya penyebaran virus Corona ini, semuanya tentu berrgantung pada dua hal, yakni campur tangan atau kebijakan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat.

Related Article