Prabowo-Sandi Ingin Kuasai ‘Kandang Banteng’, Apa Alasannya?

Pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus memperkuat basis dukungannya jelang kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang tinggal beberapa bulan lagi. Bahkan, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi berencana memindahkan posko pemenangannya ke Jawa Tengah. Apa tujuannya?

Ternyata salah satu alasan terbesar kubu Prabowo-Sandi bakal melakukan ekspansi ke wilayah Jateng adalah untuk memecah suara PDIP di sana. Juru Bicara BPN Ferdinand Hutahean bahkan menilai PDIP dan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo merupakan satu kesatuan. Maka dari itu, sebisa mungkin kubu Prabowo-Sandi bakal mencari celah untuk ‘menggoyang’ basis massa PDIP.

Menurut Ferdinand, dengan memecah suara PDIP di sana, maka perlahan akan terus menggerus elektabilitas Jokowi di Pilpres 2019. Wilayah Jateng, sekali lagi jadi wilayah yang sangat penting bagi pasangan Prabowo-Sandi demi meningkatkan perolehan suara.

"Daerah itu kan dikuasai oleh PDIP di mana PDIP partainya pak Jokowi karena dia kader PDIP, sehingga Jateng sangat penting bagi kami," kata Ferdinand di kawasan Jakarta Pusat, Minggu, 9 Desember 2018.

Ferdinand pun menegaskan sekali lagi bahwa tujuan kubu Prabowo-Sandi adalah untuk menggerus suara PDIP dan Jokowi di Jateng. Ia pun mengakui kandang banteng yang jadi wilayah ‘kekuasaan’ PDIP itu memang sulit diganggu. "Betul sekali (memecah suara). Tentu di sana basis merah jelas siapapun mengetahui peta politiknya basis PDIP," ujarnya.

Baca Juga: Bertarung di Pilpres, Sandiaga Uno Terobos 'Kandang Banteng'

Dominasi PDIP di Jateng terlihat pada Pemilu 2014 di mana mereka mendominasi perolehan suara. Bayangkan saja, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri menguasai delapan dari 10 daerah pemilihan di Jateng. Ferdinand pun menargetkan Prabowo-Sandi bisa merebut setidaknya 35-40 persen suara di Jateng.

"Sehingga Jateng ini satu-satunya kita pastikan kami bisa mendekati Pak Jokowi, tidak berharap menang atau unggul di Jateng tapi target 35-40 persen sudah membuktikan bahwa Prabowo-Sandi akan menang," kata Ferdinand.

Walaupun terbilang sulit apalagi Jokowi bakal didukung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, namun Ferdinand tetap yakin jika timnya bisa mendekati dan merebut suara dari kalangan akar rumput. "Kami juga Demokrat mendukung Pak Ganjar sementara kami sekarang mendukung Pak Prabowo. Sama artinya banyak grassroot kami yang harus kami arahkan kembali kemana sekarang kita bergerak di Pilpres," ujarnya.

Strategi Prabowo-Sandi Rebut Suara Akar Rumput di Jateng

Ferdinand pun membeberkan bahwa timnya punya strategi khusus untuk menguasai akar rumput di Jateng. Salah satunya dengan memaksimalkan pendekatan dari pintu ke pintu (door to door). Kemudian, masyarakat akar rumput itu dikumpulkan ke dalam kelompok kecil. 

Strategi tersebut dianggap sangat efektif karena kubu Prabowo-Sandi bakal menggerakan massa dengan pola multi level marketing (MLM). Nantinya, masyarakat yang sudah diajak, diharapkan akan mengajak masyarakat lainnya untuk ikut mendukung Prabowo-Sandi.

"Kami berkumpul bersama masyarakat kecil-kecil mungkin 300 orang 500 orang, tapi akan sangat efektif karena kita akan menggerakkan mereka kemudian dengan pola MLM sehingga satu orang kita harapkan bisa mengajak dua orang yang dua orang mengajak tiga sehingga semakin besar nanti gerakannya," kata Ferdinand.

Baca Juga: PDIP Klaim Jawa Tengah Kandang Banteng, Begini Reaksi Partai Beringin

Efek Prabowo Diyakini Bisa Dongkrak Suara di 'Kandang Banteng'

Sementara itu Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak optimistis jika perolehan suara Prabowo-Sandi akan naik di Jateng. Maka dari itu, mereka berencana membangun markas di Jateng. Dahnil pun yakin pada survei internal yang memiliki trend positif di Jateng terhadap pasangan Prabowo-Sandi.

"Berdasarkan survei kita, memang Jateng menjadi istilah 'Battle Ground'. Banyak tempat kita menang tipis," kata Dahnil di Kantor Seknas, Hos Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Minggu, 9 Desember 2018.  

Dahnil pun yakin jika sosok Prabowo bisa menarik banyak suara di Jateng. Ia pun merujuk pada angka survei yang hasilnya tidak terlalu jauh dari hasil Pilkada Jateng beberapa waktu lalu, di mana kader mereka Sudirman Said saat itu melawan sang petahana, Ganjar Pranowo. Meski kalah, setidaknya hasil itu bisa jadi rujukan bagi tim Prabowo-Sandi untuk dilakukan evaluasi.

Menurut Dahnil, yang membuat beda tentu adalah soal sosok yang bertarung di Jateng. Kali ini yang akan bertarung adalah sosok Prabowo, yang dianggap bakal punya nilai lebih di ‘Kandang Banteng tersebut.

"Itu di atas 43 persen beda tipis, kita progresif naik sedangkan tokoh sebelah itu stuck. Yang jelas Pilkada Jateng itu miniatur, karena sekarang ada efek Prabowo, saya pikir akan lebih tinggi dari angka statistik 50 persen, kami yakin," ujar Dahnil.

Nantinya, Dahnil mengungkapkan bahwa selain membangun markas, mereka juga akan membangun pos-pos pemenangan yang tersebar di wilayah Jateng. "Jadi memang posko-posko akan diperbanyak, akan diperkuat di sana memang," ucapnya.

PDIP Sudah Kuasai Jateng Sejak Era Reformasi

Perlu diketahui, sudah sejak lama Jateng memang dikenal sebagai 'Kandang Banteng' atau basis massa terbesar PDIP. Pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi menang telak atas Prabowo di Jateng. Bahkan, sejak reformasi, Jateng selalu dipimpin oleh gubernur yang berasal dari PDIP.

Baca Juga: Sudirman Said Tak Mau Jateng Dijuluki "Kandang Banteng", Begini Reaksi Ganjar Pranowo

Tengok saja sejak tahun 1998 hingga 2018, gubernur Jateng selalu berasal dari kader PDIP. Tak hanya itu saja, dari sisi kursi di DPRD Jateng, PDIP memiliki total 31 kursi yang membuatnya bisa mengusung pasangan calon sendiri saat Pilgub. Dari 35 kabupaten/kota di Jateng, PDIP memiliki 17 orang kepala daerah yang merupakan kadernya dan sisanya berasal dari partai lain.

Meski fakta menunjukkan Jateng sudah menjadi basis massa PDIP sejak lama, namun hal itu tak akan menghentikan langkah kubu Prabowo-Sandi untuk merusak dominasi partai berlogo banteng itu. Bahkan Sandiaga Uno menyatakan, bakal fokus berkampanye di Jateng di sisa masa kampanye Pilpres 2019 yang tinggal empat bulan lagi. 

"Ini betul, akan kami pusatkan (kampanye) di Jawa Tengah," kata Sandiaga melalui keterangan tertulis, Minggu, 9 Desember 2018.  

Menurut Sandi, rencana fokus kampanye di Jateng itu merupakan langkah penting lantaran di wilayah tersebut masih banyak masyarakat yang ingin mengetahui visi misinya sebagai pendamping Prabowo Subianto. "Karena di sana (Jawa Tengah) lokasi luas dan animo masyarakatnya banyak," ujar mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Sejauh ini, Sandi tercatat sudah berkampanye di 818 titik, terhitung sejak 23 September 2018 ketika ditetapkan sebagai hari pertama kampanye Pilpres 2019 oleh Komisi Pemiilihan Umum (KPU) .

Related Article