Prabowo Subianto-Anwar Ibrahim, Akrab Meski Beda Spektrum

Dalam pertemuan yang tidak dilakukan secara terbuka dan tidak dipublikasikan secara masif, Prabowo Subianto dan Anwar Ibrahim bertemu di Malaysia, Selasa (13/11) kemarin. Anwar Ibrahim dikenal sebagai mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia sekaligus Ketua Umum Pakatan Harapan (PH), aliansi politik yang sekarang sedang memegang kendali pemerintahan Malaysia. Sebenarnya, pertemuan antara Prabowo dengan Anwar ini sifatnya informal. Karena diadakan secara tertutup, pertemuan ini baru diketahui publik ketika Anwar Ibrahim, melalui akun Twitternya @anwaribrahim, mempublikasikan pertemuan tersebut.

Sandiaga Uno, selaku Calon Wakil Presiden yang mendampingi Prabowo dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, memberikan responnya terkait hal ini. Menurut Sandi, pertemuan kemarin merupakan momen bertukar pikiran bagi keduanya. Seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, “Keduanya sahabat lama tentunya bertukar pikiran demi eratnya hubungan Indonesia dan Malaysia dan bagaimana meningkatkan ekonomi kedua negara,” ungkap Sandi, Kamis (15/11) kemarin di kawasan Cikini.

Secara spesifik, bahasan isu-isu yang ada di dalam obrolan kedua politisi adalah terkait investasi dan perdagangan, meskipun juga membahas tentang kebangsaan. “Membahas isu-isu terkini tentang kebangsaan, tentang ekonomi paling utama bagaimana kedua negara ini bisa bekerja sama dan meningkatkan investasi dan perdagangan membuka lapangan kerja khususnya di Indonesia,” tutur Sandi.

Pertemuan di Malaysia ini sebenarnya adalah pertemuan Prabowo-Anwar yang kali kedua. Pertemuan yang pertama sempat dilaksanakan pada bulan Mei 2018 kemarin. Pertemuan antara keduanya ini dilaksanakan di rumah Anwar di Bukit Segambut, Kuala Lumpur. Sama seperti pertemuan yang diadakan minggu ini, Anwar mengunggah pertemuan mereka berdua lewat akun media sosialnya. Kala itu, ia menyampaikan rasa terima kasihnya terhadap Prabowo melalui akun Instagram dan Facebook.

Jika ditilik kembali, pertemuan Prabowo-Anwar di bulan November ini menandakan bahwa mereka telah bertemu dua kali dalam enam bulan terakhir. Tentu untuk dua orang figur politik yang sedang memiliki agenda masing-masing di negaranya, dua kali pertemuan dalam enam bulan dapat dikatakan hubungan yang cukup erat. Sebelumnya, mereka belum pernah melakukan kerjasama dan mengadakan pertemuan dengan intens seperti belakangan ini.

Apakah pertemuan ini didasarkan adanya kesadaran bahwa mereka memiliki pandangan politik yang sama?

Pandangan Politik Prabowo-Anwar

Selama ini, Prabowo memiliki pandangan politik yang beraliran nasionalistik, religius. Sejalan dengan pandangan tersebut, ia memiliki keinginan untuk menciptakan kesejahteraan rakyatnya melalui independensi ekonomi. Pandangan politik ini pun tertulis secara eksplisit dalam visi Partai Gerindra, partai politik yang digagasnya sepuluh tahun lalu. Jika didefinisikan dengan spektrum politik dari kiri ke kanan, spektrum politik Prabowo ini sebenarnya masuk ke dalam spektrum tengah-kanan (centre-right), atau yang lebih dikenal dengan istilah konservatif. Namun nampaknya, untuk urusan branding partai, Gerindra lebih suka menggunakan Pancasila sebagai ideologi partainya.

Sedangkan Anwar  Ibrahim, jika dianalisis dari ideologi politik Pakatan Harapan, memiliki pandangan politik sosial-demokratis. Pandangan politik ini seringkali berafiliasi dengan spektrum politik tengah-kiri (centre-left). Istilah untuk pandangan politik tengah-kiri ini adalah progresif, dan seringkali dianggap menjadi antitesis dari konservatif, meskipun tidak selalu seperti itu adanya.

Dari bahasan di atas, terlihat sebenarnya bahwa Prabowo dan Anwar tidak memiliki pandangan politik yang begitu sama. Prabowo lebih ke kanan, Anwar lebih condong ke kiri. Meski begitu, seperti apa yang disebutkan oleh Anwar dalam cuitannya, nampaknya hubungan keduanya terjalin karena adanya hubungan personal yang telah dijalin lama. Jika Prabowo terpilih sebagai Presiden Indonesia dan Anwar Ibrahim ternyata didapuk sebagai Perdana Menteri Malaysia suatu saat nanti, alih-alih berbasis pandangan politik, kedua politisi ini nampaknya dapat menggunakan basis hubungan personal sebagai landasan untuk kerja sama bilateral antara Indonesia dan Malaysia.

Related Article