Polusi akan Kembali: Saatnya Berpamitan kepada Langit Cerah?

Dalam perjalanan ke toko swalayan pekan lalu, saya berkendara di bawah langit biru yang seperti digantungi banyak permen kapas. Pada perjalanan pulangnya, menjelang matahari terbenam, warna langit berubah menjadi jingga keemasan.

Setelah mengingat baik-baik, saya baru menyadari bahwa selama bekerja dari rumah dan merokok di balkon saat beristirahat, langit hanya beberapa kali terlihat keruh. Itu pun karena hujan hendak turun.

Belakangan, jumlah teman-teman saya yang mendokumentasikan pemandangan serupa di Instagram bertambah cukup signifikan. Pada pekan kedua bulan April, sempat ramai tagar #langitjakarta di linimasa Twitter. Dari ketinggian tertentu, bahkan ada yang mendokumentasikan penampakan Gunung Salak yang terlihat jelas di sisi selatan Jakarta.

Barangkali penerapan PSBB untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 mengurangi polusi udara hingga langit kembali cerah. Hal ini dibuktikan dengan kualitas udara Jakarta berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang ajek berada pada kategori sehat dan sedang sejak akhir Februari 2020.

Direktur Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad “Puput” Safrudin mengungkapkan, sejak tahun 1992 atau selama 28 tahun, baru kali ini Jakarta mencatatkan kualitas udara yang mendekati kategori baik.

“Menurun pernah, tapi posisinya tetap di sedang atau tidak sehat,” kata Puput kepada Ekuatorial.com.

Tidak hanya di Jakarta, data indeks polusi udara di seluruh dunia juga menunjukkan kesamaan. Copernicus Atmosphere Monitoring Service (Cams), yang mengamati polusi udara di 50 kota di Eropa menunjukkan bahwa 42 di antaranya mencatat level Nitrogen Dioksida (NO2) di bawah rata-rata pada bulan Maret. Di kota-kota tersibuk benua biru tersebut, pengurangan polusi bisa mencapai 70 hingga 80%.

Akan tetapi, rasa tenang ketika melihat langit yang cerah dan menghirup udara yang bersih itu mungkin akan segera berakhir seiring berakhirnya PSBB di berbagai daerah. Saya selalu skeptis memikirkan bagaimana jadinya kalau kelaziman baru (new normal) diterapkan. Para ahli, misalnya, memprediksi bahwa kemacetan Jakarta akan lebih parah karena orang-orang akan lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi untuk menghindari risiko penularan COVID-19

Benar saja, pada Rabu (3/6), banyak kendaraan bermotor yang terpantau kembali memadati area Jabodetabek. Reportase berita foto Hafitz Maulana, kawan saya yang bekerja untuk Tirto, menampilkan kondisi Jalan Gatot Subroto dan jalur tol dalam kota yang tiap ruasnya penuh sesak dipadati mobil-mobil pada jam pulang kerja.

Di Cina, yang masyarakatnya mulai berkegiatan seperti sedia kala, polusi udara kembali seperti sebelum pandemi COVID-19. Padahal selama negara itu memberlakukan lockdown, polusi udara turun hingga 38%. Secara spesifik, emisi gas industri dan pembakaran batu bara menyumbang polusi yang sangat besar. Kalau pemerintah dan industri tidak menganggap polusi udara sebagai masalah genting, polusi tetap akan menggila.

Yang lebih menyeramkan: sebuah studi mengimplikasikan udara berpolusi dapat meningkatkan risiko kematian karena COVID-19. Sebelum pandemi, warga negara-negara Asia sudah terbiasa--bahkan distereotipkan--dengan penggunaan masker karena polusi udara yang ekstrem. Seandainya setelah ini kita harus kembali berkegiatan di luar rumah sambil mengenakan masker, saya harap sebabnya ialah upaya mencegah penularan pandemi, bukan karena takut keracunan udara.

Related Article