Politisi-politisi Senior yang Terancam Gagal Lolos ke DPR RI

Proses rekapitulasi suara secara nasional Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 masih terus dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tak hanya suara pasangan calon presiden dan wakil presiden saja, tapi juga proses rekapitulasi suara bagi calon legislatif. Hingga saat ini, ada sejumlah caleg, baik politisi senior dan nama populer lainnya, yang terancam gagal melenggang ke DPR RI. Siapa saja mereka?

Meski masih harus menunggu penghitungan resmi dari KPU, namun hasil quick count atau hitung cepat sudah memberi gambaran mengenai siapa saja caleg yang berhasil lolos. Yang mengejutkan, ada nama-nama populer yang justru berpotensi tidak lolos berdasarkan hitung cepat.

Memang faktor popularitas dan ketenaran di level nasional, tak menjamin seorang caleg bisa dikenal di daerah pemilihannya (dapil) masing-masing. Sekalipun juga sering muncul di televisi nasional. Selain itu ada juga faktor-faktor lain yang membuat sejumlah politisi senior terancam gagal lolos.

Misalnya saja bisa saja karena caleg-caleg tersebut bersaing dan berada di dapil neraka atau dapil yang isinya adalah caleg-caleg populer, punya nama tenar, dan pengaruh cukup kuat. Siapa saja sosok-sosok caleg dengan nama populer yang terancam tak lolos ke parlemen berdasarkan hitung cepat?

Budiman Sudjatmiko (PDIP)

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko kabarnya berpotensi tidak lolos ke DPR RI periode 2019-2024. Budiman yang dikenal sebagai sosok aktivis reformasi dan juga mantan politisi Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini bersaing di Dapil Jawa Timur VII, yang meliputi Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi.

Budiman, yang sebelumnya sudah duduk di parlemen selama dua periode dari PDIP, dinilai kalah bersaing, lantaran persaingan yang berat di dapilnya tersebut. Adapun caleg-caleg lain yang menjadi pesaing di dapilnya adalah eks Juru Bicara KPK Johan Budi SP (PDIP), putra SBY Edhi Baskoro Yudhoyono (Demokrat), dan Jessica Herliani Tanoesoedibjo (Perindo).

Meski begitu, Budiman tetap akan menunggu hasil resmi dari KPU. "Belum final tapi biarin aja enggak apa-apa," kata Budiman kepada wartawan di acara syukuran relawan Joko Widodo di fX Sudirman, Jakarta, Jumat, 3 Mei 2019. 

Budiman mengatakan seandainya memang gagal melenggang ke parlemen untuk ketiga kalinya, ia mengaku akan berhenti mengikuti kontestasi pemilu legislatif. 
Namun ia mengatakan bahwa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto telah memanggilnya untuk membantu capres Jokowi memenangi dapil yang gagal dimenangi petahana pada lima tahun lalu.

"Sekjen bilang yang penting kamu tetap bisa bantu Pak Jokowi dalam pilpres, biar kamu ada fokus kerjaan ya sudah kamu bekerja di wilayah, di mana 2014 Pak Jokowi kalah di dua kabupaten," ucapnya.

Sebelumnya, Budiman bertarung di Dapil Jawa Tengah VIII, yang meliputi Cilacap dan Banyumas sejak Pileg 2009 hingga 2014. Di dapil tersebut, ia sukses meraup total 68.861 suara pada Pileg 2014. Sayangnya, di Dapil Jatim VII, ia gagal mengulang sukses lima tahun lalu. 

Ferdinand Hutahaean (Demokrat)

Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean juga terancam tidak lolos ke Senayan. Bahkan, Ferdinand sendiri sudah memprediksi bahwa dirinya tidak akan lolos di Pileg 2019. Ongkos politik yang mahal disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang membuatnya sulit bersaing di Dapil Jawa Barat V yang meliputi Kabupaten Bogor.

Bahkan sudah sejak awal ikut bersaing sebagai caleg, Ferdinand mengaku seperti sudah tidak punya harapan untuk lolos sebagai anggota DPR RI. Ongkos politik yang sangat mahal, membuatnya hanya mampu turun ke 40 titik wilayah dapilnya selama kampanye. Sehingga dapil yang bisa dijangkaunya itu sangat terbatas.

Pileg 2019 merupakan debut perdana bagi Ferdinand sendiri. Dalam kontestasi politik kali ini, nama Ferdinand memang cukup dikenal sebagai salah satu pentolan di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Sayangnya, ia berada di dapil yang cukup berat karena harus bersaing dengan politisi senior lainnya seperti Fadli Zon (Gerindra) dan Andian Napitupulu (PDI).

Maruarar Sirait (PDIP)

Politisi senior PDIP lainnya Maruarar Sirait juga disebut-sebut terancam gagal lolos ke Senayan untuk keempat kalinya. Ara, sapaan akrabnya, maju sebagai caleg di wilayah baru, yakni Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat III, yang meliputi Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur. Ia harus bersaing dengan sejumlah politisi populer lainnya di dapil tersebut, seperti Ahmad Riza Patria dari Gerindra, Syarifuddin Hasan dari Partai Demokrat, atau Eddy Soeparno dari PAN.

Sebelumnya, selama tiga pemilu, Ara memang ditempatkan di Dapil Jawa Barat IX, yang meliputi Subang, Majalengka, dan Sumedang. Namun pada Pileg 2019, Ara dipindahkan oleh partainya ke dapil baru yakni Dapil Jabar III. Di sana, Ara juga harus mendapatkan posisi atau nomor urut buncit yakni nomor urut 9.

Padahal pada kontestasi Pileg 2014 lalu, Ara sendiri berhasil melaju ke Senayan dengan meraih suara terbanyak dengan mencapai 130 ribu suara di Sumedang, Majalengka, dan Subang. Namun, hasil yang jauh berbeda justru harus ia terima sejak pindah dapil kali ini.

Ara sendiri dikenal sebagai sosok politisi senior di partai besutan Megawati Soekarnoputri tersebut. Apalagi saat ini, ia juga menjadi salah satu influencer Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf. Namun, faktor dapil baru dan beratnya persaingan, akhirnya harus memupus mimpi Ara yang sudah 15 tahun menjadi anggota legislatif.

Jansen Sitindaon (Demokrat)

Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon yang juga caleg Demokrat dari daerah pemilihan (Dapil) Sumatera Utara III juga diprediksi gagal lolos ke DPR RI pada Pileg 2019 ini. Dapil Sumut III sendiri meliputi wilayah Asahan, Kota Tanjung Balai, Kota Pematangsiantar, Simalungun, Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Kota Binjai, Langkat, dan Batu Bara.

Kabarnya, salah satu faktor yang membuat Jansen gagal melenggang ke Senayan adalah lantaran dampak dari Pilpres 2019, di mana dapilnya cenderung memilih Jokowi daripada Prabowo. Sehingga caleg yang mendukung paslon 02 kalah suara dibandingkan caleg 01. Selain itu, alasannya lainnya karena biaya politik yang mahal.

Jansen sendiri cukup dikenal selama persiapa Pemilu 2019. Ia sering tampil di televisi nasional menjadi pembicara bagi kubu Prabowo-Sandi. Bahkan, lantaran sering berdebat dengan tim sukses Jokowi-Maruf, banyak video Jansen yang tersebar di YouTube. Sayangnya, popularitasnya itu gagal mendongkrak perolehan suara di dapilnya sendiri.

Eva Sundari (PDIP)

Politisi senior PDIP lainnya yang maju sebagai caleg, Eva Kusuma Sundari, juga disebut-sebut bakal gagal melenggang ke DPR RI. Ia sendiri bertarung di Dapil Jawa Timur VI, yang meliputi Kediri, Blitar, dan Tulungagung. Ia sendiri harus kalah dari rekan separtainya, seperti Guruh Sukarno Putra, Arteria Dahlan, dan Sri Rahayu, di dapil itu.

Eva sendiri memang harus melalui jalan terjal karena mesti bertarung dengan rekan-rekan di internal PDIP sendiri. Bahkan, lima caleg PDIP di dapilnya tersebut, masuk ke sembilan besar suara terbanyak (individu). Jika memang gagal ke Senayan, ia mengaku bakal memilih beristirahat dan mengurus anak untuk sementara waktu.

Sebelumnya Eva sendiri pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014, di Komisi III dengan lingkup tugas di bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Ia kembali berhasil menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 dengan menduduki Komisi XI dengan lingkup tugas di bidang Keuangan dan Perbankan.

Priyo Budi Santoso (Partai Berkarya)

Nama politisi senior lainnya yang disebut-sebut juga gagal melenggang ke Senayan adalah Priyo Budi Santoso. Padahal, sebelumnya, ia merupakan mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Golkar.

Pada Pileg 2019, Priyo memutuskan untuk berpindah dari Partai Golkar ke Partai Berkarya besutan putra Soeharto yakni Tommy Soeharto. Di partai baru tersebut, ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Berkarya.

Priyo maju sebagai caleg dari Partai Berkarya yang bertarung di Dapil Jatim 1 yang mencakup Kota Surabaya dan Sidoarjo. Di dapil tersebut, ia harus bersaing dengan nama-nama populer lainnya seperti Puti Guntur Soekarno (PDIP), Arzeti Bilbina (PKB), hingga musisi Ahmad Dhani Prasetyo (Gerindra).

Namun, sama seperti pemilu sebelumnya di Pileg 2014, Priyo juga berpotensi kembali gagal ke DPR RI di Pileg 2019. Salah satu faktor yang membuatnya berpotensi gagal lolos ke Senayan adalah karena berdasarkan hasil hitung cepat, Partai Berkarya gagal memenuhi ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

Related Article