Politik Humor Ala Nurhadi-Aldo, Poros Ketiga yang Diinginkan Kubu Cebong dan Kampret

Adanya pemilihan umum (pemilu) membuat 2019 disebut sebagai tahun politik. Selain ada empat kotak suara untuk memilih calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten, ada satu kotak suara lagi yang dipersiapkan untuk pemilihan presiden (pilpres). Saat ini, ada dua pasangan yang telah resmi mendaftarkan diri sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), mereka adalah pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sejak Pemilu 2014 lalu, Joko Widodo (Jokowi) sendiri memang dikenal sebagai lawan politik Prabowo Subianto. Mereka berdua memiliki pendukung yang cukup fanatik, hingga kedua kubunya saing memberikan sindiran tak berkesudahan. Adalah ‘cebong’, sebutan yang sering diutarakan bagi pendukung Jokowi, sedangkan ‘kampret’ bagi pendukung Prabowo. Kedua pendukung memang kerap berselisih dan bersitegang.

Namun, di antara kedua kubu tersebut tentunya ada masyarakat yang merasa bosan dengan panasnya dunia perpolitikan Indonesia. Kemudian, muncullah sebuah akun media sosial bernama Nurhadi-Aldo, mereka ada di Facebook, Instagram, dan juga Twitter. Sang admin menyematkan Nurhadi-Aldo sebagai capres dan cawapres poros ketiga. Tentunya, itu hanyalah fiktif, tidak ada kepentingan apapun selain membagikan lelucon belaka.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Nurhadi Aldo (@nurhadi_aldo) on

Meski begitu, dua pekan terakhir ini akun Nurhadi-Aldo cukup ramai diperbincangkan. Setidaknya, baru 10 hari aktif di Instagram akun mereka sudah diikuti 61 ribu lebih followers. Sedangkan di Facebook, sejak diluncurkan pada 17 Desember 2018, halaman mereka sudah disukai 81 ribu lebiih akun. Pasangan Nurhadi-Aldo, mereka menyebutnya dengan singkatan Dildo hadir sebagai kubu penengah yang dapat menghentikan kekacauan antara cebong dan kampret.

Benar saja, Nurhadi-Aldo hadir dengan membawa suasana politik menjadi lebih segar dan penuh humor. Meski hanya untuk hiburan, mereka nampak begitu niat mendesain program kerja serta visi misi layaknya politikus pada umumnya. Bedanya, mereka mengemas semua itu dengan sentuhan lelucon dewasa yang bisa membuat gelak tawa bagi orang-orang yang paham.

Jika politisi suka menyingkat kata, begitu juga dengan pasangan Nurhadi-Aldo. Namun yang membuat mereka spesial adalah kemampuan membuat singkatan kata yang nyeleneh. Contohnya, singkatan dari Nurhadi-Aldo menjadi Dildo, padahal Dildo sendiri adalah alat bantu seks yang biasanya berbentuk kelamin pria.

Begitu juga dengan program kerja yang mereka buat. “Perekonomian Juara” mereka singkat jadi Peju. Ada juga “Kurikulum Pendidikan Tingkat Lanjut” yang kemudian disingkat menjadi Kulumpentil. Belum lagi “Program Subsidi Tagihan Warnet Bagi Umum” diringkas menjadi Prostatbau.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Nurhadi Aldo (@nurhadi_aldo) on

Tak hanya sekedar singkatan yang jenaka, beberapa lelucon mereka juga dikemas menjadi sebuah kutipan. Di mana kutipan itu terkadang mengandung makna yang cukup cerdas bagi yang memahaminya. Contohnya, “Democrazy adalah tempat bersuara bagi orang-orang kaya,”demikian kata Aldo. Selain itu ada pula kutipan dari Nurhadi yang mengatakan, “Jika Karl Marx memimpikan tatanan masyarakat tanpa kelas, lalau di mana kita akan belajar.”

Siapakah Nurhadi-Aldo yang Sebenarnya?

Melihat kerapihan tampilan poster yang dibuat oleh pengelola akun Nurhadi-Aldo, membuat orang sekilas bisa terkecoh. Bahkan ada pula (ilustrator Asumsi.co) yang berfikiran bahwa Nurhadi-Aldo adalah salah satu calon legislatif yang akan ikut bertarung di Pemilu 2019 nanti. Tapi semua dugaan itu salah, Nurhadi dan Aldo adalah masyarakat umum biasa yang cukup aktif bermedia sosial.

Nurhadi sendiri berprofesi sebagai tukang pijat di Golantepus, Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh shitposting Indonesia. Selain mempromosikan jasa pijatnya, ia selalu mengirimkan kiriman berbau seksual, kata-kata motivasi, pecinta angka 10 dan juga shalawat.

Ia terkadang hobi mengunggah hal lain yang sulit dicerna logika, termasuk berbagi foto dirinya yang konyol di akunnya. Nurhadi mulai dikenal warganet semenjak 2014 silam. Ia juga masih aktif di facebook-nya hingga saat ini, meskipun intensitas pembicaraanya tidak seramai dulu lagi.

Sedangkan, Aldo Suparman dikenal karena selalu memberikan nasihat di berbagai postingan shitposting anak muda dengan gaya tulisan yang alay, dengan mengganti beberapa huruf menjadi angka. Aldo mengaku mempunyai anak bernama Aldi dan cucu bernama Farhan.

Puncak popularitas Aldo terjadi pada tahun 2016-2017 yang lalu. Ketika itu fanspage shitposting baru mulai bermunculan di Facebook. Di situ, orang-orang kerap me-capture komentar Aldo Suparman. Namun, perlu diketahui kini akun Facebook Aldo telah di retas.

Begitulah singkat sejarahnya, hingga akrhinya kedua bapak-bapak itu dijadikan sebagai tokoh fiktif capres cawapres poros ketiga. Satu hal positif yang mereka kampanyekan adalah, anjuran agar para masyarakat Indonesia tidak golput saat Pemilu nantinya.

Related Article