Perpustakaan Nasional: Lengkap Fasilitasnya, Nyaman Suasananya

Hari ini (14/9) kita merayakan Hari Kunjung Perpustakaan Nasional. Karena beberapa hari lalu saya sempat datang ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), saya ingin sekali membagikan pengalaman saya pada hari ini. Terutama, bagi saya, kunjungan kemarin memberikan saya pengalaman yang berbeda. Kenapa? Pertama, itu adalah kunjungan kali pertama saya ke PNRI. Kedua, saya sangat senang menemukan ragam media sebagai sumber pengetahuan yang ada di perpustakaan yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta Pusat ini. Belum lagi, tempat ini juga sangat tenang sehingga nyaman untuk bekerja atau belajar berjam-jam di sana.

Memulai Hari dengan Mengunjungi Perpustakaan Nasional RI

Saya memutuskan untuk mengunjungi PNRI di pagi hari, dengan alasan saya tidak ingin kehabisan kuota harian pendaftar anggota PNRI. Dengan menggunakan Commuter Line, saya turun di Stasiun Gondangdia. Saya pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek online. Sesampainya di PNRI, jam telah menunjukkan pukul 9.02. Itu berarti, saya datang tidak terlalu cepat. Sekedar informasi, hari Senin sampai Kamis PNRI beroperasi dari jam 08.30 pagi hingga 6 sore. Sedangkan di hari Jumat, PNRI beroperasi dari jam 9 pagi hingga jam 6 sore. Dan di akhir pekan PNRI beroperasi dari jam 9 pagi hingga 4 sore.

Untuk masuk ke gedung utama PNRI yang setinggi 24 lantai, pengunjung harus melewati gedung tua yang terletak di depan gedung utama. Di dalam gedung ini, terletak berbagai kesenian, mulai dari kesenian pahat, lukis, hingga digital. Meskipun tua, gedung ini telah dilengkapi berbagai macam fasilitas modern yang memberikan kenyamanan seperti pendingin ruangan dan lampu-lampu artistik.

Pameran seni di gedung tua depan gedung utama PNRI. Sumber foto: Dok.pribadi/Asumsi.co

Setelah berkeliling-keliling di gedung tua tersebut, saya pun masuk ke gedung utama. Penampakan pertama yang menarik perhatian saya adalah tumpukan buku di antara eskalator. Selain itu, juga ada foto-foto presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo, dan seluruh mantan presiden Indonesia, mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

Tumpukan buku di antara eskalator. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co.

Untuk mendapatkan akses berkeliling dengan leluasa di seluruh lantai, saya harus mendaftar di ruang pendaftaran di lantai 2. Di ruangan ini, terlihat banyak sekali komputer yang disediakan untuk mendaftar, demi mengatasi kondisi ramainya pendaftar. Dengan adanya kuota 500 penndaftar sehari, besar kemungkinan adanya tumpukan jika komputer untuk mendaftar hanya disediakan satu atau dua saja.

Ruang pendaftaran keanggotaan PNRI. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co.

Setelah saya mendapatkan kartu keanggotaan PNRI, saya harus turun lagi ke lobi utama untuk menitipkan tas saya di loker yang telah disediakan. Setelah tas dititipkan, barulah saya dapat leluasa untuk ingin mengunjungi setiap ruang perpustakaan di PNRI.

Loker yang saya pinjam untuk menitipkan tas. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co.

Berkeliling untuk Melihat Koleksi di PNRI

Saya pertama-tama memutuskan untuk mengunjungi ruang di lantai 4, yaitu area pameran dan kantin. Di lantai ini, buku diletakkan di dalam etalase secara apik. Jadi, buku-buku di sini memang tidak untuk dibaca. Di sebelah ruangan ini, terdapat kantin yang cukup bersih dan luas, sehingga ketika lapar menyerang di tengah-tengah membaca buku, tidak perlu susah-susah untuk mencari tempat makan di luar PNRI.

Kemudian, saya pun naik ke lantai 8 dengan menggunakan lift. Lift yang disediakan tidak sedikit, jadi tidak perlu khawatir akan kesulitan untuk mobilisasi naik turun lantai. Ruang di lantai 8 ini merupakan ruang Layanan Koleksi Audio Visual. Saya senang karena di ruangan ini, ada berbagai koleksi audio visual yang dapat dinikmati, mulai dari Pidato Presiden hingga budaya pop kontemporer. Selain itu, ada juga ruangan bioskop mini yang digunakan untuk menonton film bersama.

Tampak depan ruang lantai 8. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co.

Setelah dari lantai 8, saya langsung pindah ke lantai paling teratas, yaitu lantai 24! Di ruangan ini, tersedia layanan koleksi budaya nusantara. Di lantai ini, saya melihat-lihat kebudayaan yang ada di Indonesia. Selain itu, di lantai ini juga diletakkan berbagai macam buku yang bernuansa ke-Indonesia-an, seperti buku tentang masyarakat multikultural Indonesia.
 

Ruang membaca di lantai 24. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co.

Namun sebenarnya, bukan layanan koleksi budaya nusantara lah yang menjadi tujuan utama saya ke lantai ini. Melainkan adanya balkon yang dapat digunakan untuk melihat jauh ke seantero selatan Jakarta! Dari balkon di lantai ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Jakarta sambil duduk-duduk membaca buku. Sebenarnya, hampir di setiap lantai ada balkonnya. Namun, saya memutuskan untuk bersantai di balkon lantai paling atas agar mendapatkan pengalaman melihat Jakarta secara maksimal. Jika dilihat-lihat, nampaknya tinggi dari balkon lantai 24 gedung PNRI ini hampir sama tingginya dengan pemandangan dari lantai teratas Monas.

Pemandangan dari balkon lantai 24 PNRI. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co.

Setelah bersantai-santai sekitar hampir satu jam di balkon lantai 24 ini, saya pun memutuskan untuk pulang. Saya merasa bahwa fasilitas yang ditawarkan oleh PNRI sudah amat baik. Tidak hanya tentang jumlah buku yang ditawarkan, tetapi juga pengalaman yang akan didapatkan. Dengan fasilitas sebaik ini, sudah tidak ada alasan untuk enggan mengunjungi PNRI dan bekerja di sana. Sayang, perpustakaan ini tidak buka sampai malam hari. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak datang ke PNRI.

Related Article