post

Current Affairs

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson Positif COVID-19

Ramadhan, 27 Maret 2020

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson positif terjangkit COVID-19. Kabar itu disampaikannya dalam sebuah video di akun Twitter resminya, Jumat (27/03/20). Politikus berusia 55 tahun itu mengaku hanya mengalami gejala ringan dan keadaannya relatif stabil.

Otoritas kesehatan Inggris meminta Johnson menjalani tes COVID-19 setelah ia melaporkan bahwa dirinya menderita demam dan batuk berulang selama 24 jam. Begitu hasil tes keluar, ia memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri dan bekerja dari rumah.

Over the last 24 hours I have developed mild symptoms and tested positive for coronavirus.

I am now self-isolating, but I will continue to lead the government’s response via video-conference as we fight this virus.

Together we will beat this. #StayHomeSaveLives pic.twitter.com/9Te6aFP0Ri— Boris Johnson #StayHomeSaveLives (@BorisJohnson) March 27, 2020

Dalam videonya, Johnson juga meminta warga Inggris untuk tetap di rumah, tidak bepergian jika tak mendesak, serta melarang penduduk berkumpul lebih dari dua orang. Karantina adalah metode paling efektif untuk menghambat penularan COVID-19.

Sehari sebelumnya, pria kelahiran New York City, 19 Juni 1964, itu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh petugas medis di garis depan penanganan COVID-19, antara lain para dokter, perawat, staf NHS (Layanan Kesehatan Nasional) Inggris dan lain-lain.

Di Inggris, berdasarkan data real time WHO, Jumat (27/03) sore WIB, jumlah kasus positif COVID-19 mencapai 465.915 orang, dengan rincian 21.031 meninggal dunia. Selain Johnson, virus SARS-CoV-2 juga telah menginfeksi anggota keluarga Kerajaan Inggris, yaitu Pangeran Charles, putra Ratu Elizabeth II sekaligus putra mahkota Inggris, pada Rabu (25/03). Ayah Pangeran William dan Pangeran Harry ini dikabarkan baik-baik saja dan tetap menjalankan tugas-tugasnya dari rumah.

Pemerintah Inggris sedang menerapkan kebijakan penguncian wilayah atau lockdown selama tiga pekan demi menekan penyebaran COVID-19.