Penuh Kontroversi, Anies Mulai Perbaiki Jakarta

Ketika Pemilu kepala daerah DKI Jakarta 2017 berlangsung, banyak dinamika yang terjadi. Bahkan dapat dikatakan, Pemilu DKI 2017 menjadi salah satu pemilu kepala daerah yang paling kontroversial. Basuki Tjahaja Purnama, yang kala itu menjadi petahana, kalah dan harus menerima dakwaan dipenjara dua tahun akibat undang-undang penistaan agama yang menjeratnya. Anies Baswedan bersama Sandiaga Uno pun naik menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Kini, Anies Baswedan tinggal sendiri, ditinggal oleh Sandiaga yang menemani Prabowo sebagai pasangan capres-cawapres di Pemilu Serentak 2019.

Meski sendirian, Anies ternyata mampu melakukan perbaikan di Jakarta. Anies yang belum mendapatkan wakil gubernur hingga kini sedang merealisasikan kebijakannya satu per satu. Per hari ini, 19 Februari 2019, setidaknya ada tiga kebijakan Anies-Sandi yang sudah berhasil direalisasikan. Realisasi kebijakan-kebijakan ini pun tidak luput dari kontroversi.

Penutupan Alexis yang Langsung Disegerakan

Beberapa minggu setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, salah satu kebijakan untuk menutup Alexis pun langsung disegerakan oleh Anies Baswedan. Bersama para tokoh pemuka agama di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, 14 November 2017, ia mengatakan akan segera menutup praktik-praktik yang dianggapnya tidak sesuai. “Kami tidak ingin Jakarta kompromi terhadap praktik-praktik yang tidak sesuai. Karena itu, baru seminggu, salah satu tempat yang paling terkenal tidak kami teruskan izin operasinya,” tutur Anies di acara tersebut.

Baca Juga: Selain Anies Baswedan di DKI, 3 Gubernur Daerah Ini Juga Pernah Tak Ada Wagub

Benar saja, pada akhir Maret 2018, Alexis pun menutup usahanya. Mereka sekaligus meminta maaf atas kegaduhan yang telah mereka perbuat selama ini. “Bersama ini, kami menghaturkan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang merasa terganggu atas gaduhnya pemberitaan yang terjadi selama beberapa bulan belakangan ini. Demi menghindari polemik yang berkepanjangan terhadap kegiatan di tempat usaha kami, maka bersama ini kami memutuskan terhitung hari Rabu (28/3/2018), seluruh kegiatan usaha di dalam lokasi Jalan RE Martadinata No 1, kami hentikan dan tidak beroperasi lagi,” ujar sebuah spanduk di depan Alexis.

Satu hari sebelumnya, pada tanggal 27 Maret 2018, Anies mengungkapkan kalau penutupan Alexis ini terjadi karena adanya praktik prostitusi dan praktik perdagangan manusia yang ditemukan. “Apa yang diindikasikan tentang praktik-praktik pelanggaran itu ditemukan bukti-bukti yang kuat telah terjadi. Bukan narkoba, yang narkoba kita tidak lihat, tetapi praktik prostitusi, praktik perdagangan manusia ditemukan di situ,” ujar Anies di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Menata PKL Kawasan Tanah Abang Menggunakan Skybridge

Kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat merupakan satu daerah yang terkenal ramai. Tidak hanya karena manusia, tetapi semrawut dengan pedagang kaki lima (PKL). Kini, wilayah Tanah Abang sudah lebih rapi, dengan adanya skybridge yang menjadi sentralisasi para PKL. Namun sebelum ada kebijakan skybridge ini, pembersihan wilayah Jalan Jatibaru Raya dilakukan dengan cara menutup seluruh jalan untuk PKL dari jam 8 pagi hingga 6 sore. Sontak, kebijakan ini dinilai kontroversial. Karena jalan hanya digunakan oleh PKL dan Transjakarta, tidak ada ruang untuk kendaraan jenis lainnya.

Kontroversi ini pun membuat Anies membuka kembali Jalan Jatibaru Raya. Gantinya, ia mencanangkan pembangunan skybridge. Sentralisasi 400 PKL di skybridge pun telah membuahkan hasil. Dilansir dari Kumparan, seorang pedagang bernama Jemi telah merasakan manfaat dari adanya skybridge ini. “Sangat terbantulah, apalagi pedagang kecil seperti kita, biasanya di bawah sesak, panas, dan sering ribut juga sama Satpol PP,” tutur Jemi yang sudah dua bulan menempati Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM), Kamis (7/2). Bahkan, seorang pedagang lain bernama Fajar mengungkapkan kalau pemasukan bertambah setelah sentralisasi ini. “Lebih tertib sejak di atas, orang keluar stasiun langsung bisa ditawarin belanja kan. Pemasukan juga naik daripada jualan di bawah. Kalau ramai, bisa Rp2,5 juta sehari,” tutur Fajar.

Teruskan OK Otrip, Jak Lingko Akan Integrasikan Seluruh Moda Transportasi Ibukota

OK Otrip adalah sebuah gagasan untuk mengintegrasikan moda transportasi ibu kota. OK Otrip ini dicetuskan oleh Sandiaga. Namun, setelah masa uji coba, ternyata OK Otrip ini menemui beragam masalah. Beberapa masalah tersebut seperti kendala tarif dan kerusakan alat pembayaran, hanya 20 persen dari target 2.687 angkutan umum yang terintegrasi, dan minimnya peminat. Masalah ini pun membuat Anies melakukan rebranding OK Otrip dengan nama Jak Lingko. Anies Baswedan meluncurkan nama Jak Lingko ini di tanggal 8 Oktober 2018.

Beberapa bulan setelah diresmikan, Jak Lingko ini nampak lebih menjanjikan. Dalam perkembangannya, Jak Lingko sudah bekerja sama dengan 11 perusahaan swasta angkutan umum yakni Budi Luhur, Koperasi Wahana Kalpika, Lestari Sukma Gema Perseada, Puskopau Halim Perdana Kusuma, Kopamilet Jaya, Komilet Jaya, Komika Jaya, Kolamas Jaya, Purimas Jaya, Kojang Jaya, dan PT Kencana Sakti Transport.

Baca Juga: Rencana Anies Baswedan Beri Dana APBD ke Ormas dan Aturan Pusat yang Perlu Diperhatikan

Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono pun mengatakan kalau tiap harinya, ada 50-60 ribu warga yang menggunakan Jak Lingko. Hingga awal bulan Desember 2018, Jak Lingko telah mengangkut 5 juta penumpang di Jakarta. Pencapaian ini terjadi karena Jak Lingko yang sudah lebih dikenal masyarakat. Sehingga, masyarakat yang sudah mengetahui akan benefit-nya menggunakan Jak Lingko secara reguler. “Warga menikmati program ini, karena dalam tiga jam, mereka bisa kemana saja hanya dengan membayar Rp5.000 saja,” ujar Agung Wicaksono.

Menurut Agung, pencapaian ini pun terjadi karena adanya integrasi Transjakarta, angkutan kota (angkot), dan bus kecil. Nantinya, Jak Lingko akan dapat diintegrasikan di seluruh moda transportasi Jakarta. “Untuk tahap awal, Jak Lingko merupakan integrasi Transjakarta dengan angkutan kota dan bus kecil. Tapi saat LRT dan MRT beroperasi, semua akan terintegrasi menjadi satu. Termasuk commuter line.”

Related Article