Pengobatan Perempuan dan Laki-laki Seharusnya Berbeda

Selama ini, pengetahuan lelaki-sentris masih menyelimuti praktik medis. Yang menjadi acuan pengetahuan medis adalah tubuh laki-laki, diteliti oleh laki-laki, dan orang-orang sakit diberi pengobatan dengan kekhasan fisiologis laki-laki. Hal ini menyebabkan dunia medis sering kali gagal memahami penyakit dan kondisi tubuh perempuan. Kekhususan perempuan terabaikan, seolah-olah mereka hanyalah lelaki dengan vagina dan payudara.

Perempuan memiliki banyak perbedaan fisiologis dengan laki-laki, misalnya kromosom dan interval detak jantung. Perempuan juga memetabolisme obat secara berbeda. Banyak alasannya, tetapi kerap dihubungkan dengan perbedaan hormon dan tingkat enzim. Hal ini dapat menyebabkan obat tertentu tetap berada dalam tubuh dalam waktu yang lebih lama atau mencapai tingkat yang sangat berbahaya pada titik-titik tertentu dari siklus menstruasi.

Alyson McGregor yang meneliti hal ini dan menulis buku Sex Matters: How Male-Centric Medicine Endangers Women’s Health and What We Can Do About It (2020), semuanya dapat ditelusuri kembali ke awal penelitian medis yang memutuskan bahwa perempuan usia subur harus dikeluarkan dari percobaan. Hal ini secara jelas menghapuskan perbedaan jenis kelamin dari pengetahuan medis.

Meski beralasan untuk melindungi mereka, hal ini juga dilakukan agar membuat pekerjaan lebih cepat, lebih mudah dan murah karena mengesampingkan variabel-variabel seperti siklus menstruasi dan lonjakan hormon. 

Salah satu contoh yang sangat menakutkan adalah dampak pengobatan pada QT (jeda di antara detak jantung) perempuan. QT seorang perempuan --yang normalnya sudah lebih panjang daripada seorang laki-laki-- dapat meningkat lebih panjang karena efek samping penggunaan obat yang sama seperti laki-laki. Risikonya, bisa berkisar dari aritmia sederhana hingga kematian jantung mendadak.

Akan tetapi, metode pengobatan saat ini masih memperlakukan serta memberikan obat dan dosis yang sama pada keduanya, termasuk penggunaan obat-obatan seperti Chloroquine pada pasien COVID-19 dengan dosis laki-laki.

"Hydroxychloroquine, obat yang diuji coba sebagai pengobatan untuk COVID-19 [dan disukai oleh Donald Trump], juga memiliki efek samping memperpanjang interval QT," kata McGregor kepada The Guardian. "Jika diresepkan untuk perempuan, kita harus mengukur interval QT-nya terlebih dahulu, tapi itu bahkan tidak dibicarakan." 

Lebih jauh lagi, dia khawatir bahwa dalam usaha untuk menemukan vaksin COVID-19, penelitian-penelitiannya menggunakan protokol penelitian standar (sel jantan, hewan jantan dan tidak ada analisis spesifik jenis kelamin dari uji coba manusia). Hal ini tentu dapat melanjutkan kesenjangan dalam pengetahuan medis, yang tentunya berbahaya bagi perempuan.

Sosiolog Medis dari Universitas Boston, Patricia Rieker, mengatakan lensa gender sangat penting untuk memahami pola-pola yang saat ini sedang terjadi. Menurutnya, untuk benar-benar menjawab berbagai pertanyaan, para peneliti membutuhkan data yang lebih kuat tentang penyakit ini berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, serta latar belakang sosial ekonomi, dan berbagai kombinasi dari kategori tersebut.

"Ini memberi kita kesempatan untuk memahami siapa yang terkena penyakit ini, siapa yang sembuh dari penyakit ini, dan siapa yang mati karenanya," kata Riekers kepada TIME.

Dalam kasus COVID-19, laki-laki dan perempuan mengalami dampak yang berbeda. Ini dapat tercermin dari data di banyak negara, misalnya Amerika Serikat dan Cina. Di AS, sebuah studi yang diterbitkan JAMA menemukan bahwa dari 5.700 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 di wilayah Kota New York, 60% adalah laki-laki. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina (CCDC) menunjukkan tingkat kematian laki-laki karena COVID-19 tinggi daripada perempuan, yakni 2,8% berbanding 1,7%. 

Dalam kasus COVID-19 di Indonesia, data resmi pemerintah menunjukkan proporsi jumlah pasien positif laki-laki sebanyak 55,3% dibandingkan perempuan sebanyak 44,7%. Begitu pula pada angka kematian pada pasien yang terjangkit virus corona tersebut, rasionya lebih ekstrem: 63,4% berbanding 36,6%.

Perbedaan biologis mungkin dapat menuntun kita menjelaskan hal ini. Kuncinya, mungkin dapat ditemukan pada fakta bahwa perempuan memiliki dua kromosom X, yang mengandung gen imun dengan kepadatan tinggi.

Namun, jumlah pasien perempuan yang lebih sedikit dan kekhasan biologisnya bukan alasan pengobatan khusus bagi perempuan boleh disederhanakan dengan menyamakannya seperti laki-laki. Jika praktik medis masih berkutat dengan cara ini, banyak nyawa perempuan terancam di masa mendatang.

Related Article