featured

Foto: Wikipedia/Gunawan Kartapranata

General

28 Mei 2021

Pengamat: Image Jogja Sebagai Surga Kuliner Murah Harus Dipertahankan

Ilham Anugrah

Sebuah video yang beredar luas di berbagai media sosial berisi curhatan seorang wisatawan soal harga mahal pecel lele di Malioboro, Yogyakarta. Video yang viral itu dibuat oleh akun TikTok @aulroket. Pengguna media sosial itu menceritakan bahwa ia membeli pecel lele seharga Rp20 ribu, belum termasuk nasi dan lalapan.

“Sekarang aku di jalan Malioboro. Di pinggiran jalan ini, kalau menurut gue banyak lesehan-lesehan yang penjualanya menjual harga di luar nalar. Yang kita kenal, kan Yogyakarta kan harganya murah-murah. Terlepas ini adalah kota wisata atau daerah wisata atau turis,” katanya dalam video (26/5/21).

Menurut seleb TiktTok dengan follower seratus ribuan itu, harga lesehan makanan di Malioboro terlalu kapitalis dan harganya tidak sesuai.

“Menurut gue, harga-harganya, ya menurut gue .. belum sama nasi, biasanya harga nasi tujuh ribu. Ternyata guys, kalau gue pesan lalap harus nambah sepuluh ribu. Kalau menurut gue, nggak tahu apakah gue terjebak di suatu tempat. Atau emang semuanya kayak gini. Pokoknya gue nggak tahu, di deretan ini.  Mengapa kapitalis banget! Jadi menurut kalian, makan di daerah sini harganya suka nggak sesuai,” protesnya.

Baca juga: Intoleransi Marak di Yogyakarta, Langkah Apa yang Harus Dilakukan?

Video TikTok dari @aulroket ditonton sampai 2,3 juta orang dan membuat Wakil Wali kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi ikut berkomentar dan melakukan investigasi.

"Ya kami sedang telusuri dan mencari pedagangnya. Tolong yang tahu dimana membeli dan kapan terjadi bisa diinfokan ke pemkot," ujarnya seperti dikutip dari Suara.com (26/5/21).

Ia mengatakan bila benar harga di lesehan Malioboro tersebut mahal, ia akan menindak tegas pelakunya dan memberikan sanksi kepada yang bersangkutan. Menurutnya, Pemkot Yogyakarta sudah memberikan aturan dan kebijakan agar kawasan Malioboro ramah kepada pengunjung, harga yang murah dan kuliner yang beraneka ragam.

"Sudah kebijakan sejak dari dulu, siapapun yang menarik harga tidak sesuai kesepakatan dan tidak normal. Maka akan terkena sanksi yaitu ditutup dan tidak boleh berjualan lagi di Malioboro,” ujarnya.

Pria berusia lima puluh lima tahun itu menambahkan bahwa sebenarnya sudah ada kesepakatan dengan para penjual Malioboro, komunitas hingga tukang parkir di sana. Kesepakatan itu dibuat agar citra kawasan Malioboro tidak rusak karena mahalnya dagangan di sana.

Ia berpesan bila hal itu terjadi lagi, wisatawan bisa segera menghubungi petugas yang ada di Malioboro.

“Baik itu Jogoboro maupun Satpol PP. Sehingga Pemkot bisa langsung mengambil kebijakan saat itu juga,” katanya.

Harga Kuliner di Malioboro Terkenal Murah

Pengamat Ekonomi INDEF, Bhima Yudistira mengungkapkan bahwa memang sejak dahulu harga makanan, apa lagi pecel lele di bawah Rp20 ribu.

"Sejak saya dulu kuliah di UGM tahun 2008 harga pecel lele dibawah 20 ribu, maka dari itu pecel lele favorit mahasiswa jogja. Sekarang pun harga nya kisaran 12 ribu -15 ribu yaitu paket nasi, ikan lele dan lalapan plus sambal. Tapi tergantung juga lokasi warungnya," katanya kepada Asumsi.co (27/5/21). 

Menurutnya harga makanan di Yogyakarta murah salah satunya karena harga tenaga kerja yang lebih murah dibanding daerah lainnya.

"Soal harga beras kan sama aja, kemudian ikan lele mentah per kg juga relatif sama, sayur-sayuran juga tidak beda jauh. Jadi jogja menang soal biaya tenaga kerja dan sewa tempat juga," katanya.

Untuk itu apabila harga kuliner di Maliboro melebihi harga di atas lima belas ribu perlu diinvestigasi mengapa bisa terjadi. Mengingat kuliner di Yogyakarta terkenal murah.

Senada dengan Bhima, praktisi perpajakan, Yustinus Prastowo, yang juga sebagai warga Jogja membenarkan harga kuliner yang murah di kota kelahirannya itu.

"Ya, menurut saya  salah satu ciri khas dan daya tarik jogja adalah kuliner beraneka macam, terkenal enak dan murah dan ini merupakan image bagi siapapun yang pergi ke Jogja. Dan ini rasanya haris  menjadi perhatian, jangan sampai membuat orang tidak terkesan dan membuat pandangan orang berbeda," katanya saat dihubungi terpisah.

Menurutnya  kejadian seperti ini perlu diteliti, salah satunya dari daftar harga yang standar. Kalau mungkin seperti di Malioboro harus ada standar.

"Saya rasa respon Pemda itu bagus dan proper dan yang penting di cek. Apakah itu merata, kalau di Jawa istilahnya nuthuk atau mukul. Kalau di sana, istilah harga tinggi itu nuthuk. Yang saya dengar sering terjadi di situ," katanya.

Ia meminta Pemda untuk menginvestigasi apakah kasus seperti ini merata dan kausistik.

"Kedua, Pemda harus memastikan apakah harga sewa mahal dan ketiga adalah premanisme, pungutan-pungutan dan mungkin saja itu yang membuat harga dan ongkosnya tinggi. Dan ini harus menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bagaimana memastikan environment atau lingkungan usaha di sana win win, yang beli bisa murah dan yang jual biayanya murah," katanya.

Sebagai orang Yogyakarta, ia berharap kasus ini bisa diselesaikan sehingga image orang terkait Yogyakarta tetap dipertahankan sebagai surga kuliner yang murah.

"Dan saya mengajak mereka yang bisnis di jogja punya perspekftif yang luas bahwa kita membawa nama Jogja. Maka perlu kita memperlakukan konsumen dengan harga yang wajar dan ini perlu dipikirkan bersama agar image Jogja tetap dipertahankan," katanya.

Pedagang Kuliner Harus Cantumkan Harga

Agus Suyatno dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengatakan bahwa setiap rumah makan, restoran sebetulnya wajib mencamtumkan harga di menu makanannya.

“Ketika tidak adanya ini, maka akan ada kontraproduktif terhadap mereka, karena konsumen akan menghakimi sendiri dan antipati untuk membeli. Ini harus diperhatikan oleh pelaku usaha dan konsumen,” katanya saat dihubungi Asumsi.co, Kamis (28/5/2021).

Menurutnya ini harus diperhatikan oleh para pedagang kuliner terutama di daerah wisata. Ia berpesan agar para pedagang tidak menaikkan harga sesuka hati. Untuk itu ia berpesan kepada pemerintah kota yang mempunyai wisata di daerahnya, dalam hal ini menangani UKM, perlu menerbitkan aturan yang jelas soal mencamtukan harga makanan.

“Antisipasinya adalah di level pemerintah kota, dalam hal ini menangani tentang UKM, perlu menerbitkan rambu-rambu atau semacam aturan untuk rumah makan untuk mencamtumkan harga untuk di level pemerintah. Sedangkan di level pedagang, ini perlu menjadi perhatian, karena konsumen bisa saja menghakimi dengan menyebarluaskan informasi bahwa di tempat tertentu harganya tidak wajar sehingga kerugian besar bagi pelaku usaha di sana,” katanya.

Baca juga: Makna Lagu Jogja Istimewa yang Dipakai Kampanye Tim Prabowo-Sandi

Sementara di tatanan konsumen, kata Dia, ketika melakukan transaksi perlu bertanya dan menanyakan informasi.

“Ini harus dipahami oleh konsumen, ketika kenaikan harga tidak wajar perlu ditanyakan lebih detail. Kalau kenaikan batas wajar kaitannya terhadap biaya produksi dan ini perlu dipahami oleh konsumen,” katanya.

Agus berpesan kepada konsumen, dan wisatawan lokal agar mencari tempat dan ada harga makanan di menunya.

“Ini sebetulnya salah satu cara promosi harga. Ketika pelaku usaha tidak mencamtumkan harga, maka konsumen akan menomorduakan dan memilih yang ada harganya. Jika suatu wilayah itu tidak ada harganya, maka konsumen harus menanyakan harganya dan ini adalah hal yang wajar,” katanya.

Pe-Nuthuk Akhirnya Ketahuan

Kasus viralnya kuliner makanan di Yogkarta yang mahal membuat Forum Komunikasi dan Koordinasi Jalan Perwakilan (FKKP), Adi Kusuma melakukan investigasi dan akhirnya menemukan lokasi kejadian ‘nuthuk’ harga pecel lele adalah penjual yang baru berjualan dua bulan dan mengambil alih usaha pemilik lama.

“Dia belum bergabung dengam paguyuban dan mengaku tidak tahu aturan harga di kawasan Malioboro,” katanya dilansir Tempo, Jumat (27/5/21)

Share: Pengamat: Image Jogja Sebagai Surga Kuliner Murah Harus Dipertahankan