Penemuan Baru Menunjukkan Udara Rumah Sakit Wuhan Mengandung Virus Corona

Setelah sejumlah eksperimen mengindikasikan bahwa virus Corona dapat bertahan di udara, hasil penemuan dari Cina yang dipublikasikan di Nature 27 April lalu mengkonfirmasinya. Penemuan yang mengobservasi sejumlah rumah sakit di Wuhan ini menemukan bahwa virus memang dapat bertahan di udara—terutama di tempat-tempat kecil dengan saluran udara yang minim.  

Berjudul “Aerodynamics analysis of SARS-CoV-2 in two Wuhan hospitals”, penemuan ini mengambil sampel dari Rumah Sakit Renmin yang menjadi rujukan pasien COVID-19 bergejala parah dan Rumah Sakit Wuchang Fangchang yang khusus merawat pasien bergejala ringan. Lokasi-lokasi di rumah sakit yang diambil sampelnya adalah 1) wilayah pasien seperti ruang perawatan intensif, rawat inap, dan toilet; 2) wilayah staf medis atau tempat staf bekerja setelah berkontakan dengan pasien; 3) ruang umum di sekitar rumah sakit. Peneliti juga mengambil sampel dari sejumlah ruang publik yang berdekatan dengan lokasi rumah sakit, seperti tempat hunian, supermarket, dan toko serba ada.

Hasilnya, ruangan-ruangan kecil yang tidak memiliki ventilasi udara mengandung virus dalam konsentrasi besar, seperti di dalam toilet yang tidak memiliki ventilasi dan memiliki luas 1 m2. Sementara itu, ruang isolasi dan rawat inap yang aliran udaranya bagus cenderung mengandung virus dalam jumlah sangat kecil. Peneliti juga mendeteksi virus di udara di tempat para staf medis menanggalkan alat pelindung diri atau baju hazmat mereka—mengindikasikan bahwa virus yang menempel di pakaian dapat kembali ke udara.

Hasil penelitian di ruang tertutup ini juga mengkonfirmasi hasil penelitian oleh Sean Wei Xiang Ong yang menemukan bahwa sampel lap yang digunakan untuk membersihkan ruangan dan toilet pasien COVID-19 positif mengandung virus SARS-CoV-2.

Sementara itu, di luar rumah sakit, virus hampir tidak terdeteksi atau berada dalam jumlah yang sangat kecil. Dua ruangan terbuka yang memiliki kandungan virus dalam jumlah cukup signifikan adalah di tempat-tempat pasien sering berlalu lalang—seperti di depan sebuah toko serba ada dan wilayah untuk berkumpul di sebelah Rumah Sakit Renmin.

“Hasil ini mengindikasikan bahwa ruangan terbuka atau yang punya ventilasi udara yang baik punya risiko rendah terkontaminasi virus. Tetapi, tetap penting pula untuk menghindari tempat-tempat ramai,” ujar peneliti Yuan Liu dkk dalam studinya.

Penelitian ini juga mengambil sampel batch kedua—ketika jumlah pasien berkurang separuhnya dan disinfektasi dilakukan secara lebih rutin dan menyeluruh. Lantai wilayah pasien, misalnya, disemprot dengan cairan yang mengandung klorin. Begitu pula ruangan tempat melepaskan APD yang dilap dengan 3% hidrogen peroksida setidaknya seminggu sekali dan ruang-ruangan tertutup yang dipasangkan alat pembersih udara. Hasilnya, langkah-langkah ini telah berhasil membuat virus tidak terdeteksi sama sekali.

Walaupun belum diketahui secara pasti apakah virus yang berada di udara dapat menular ke manusia, hasil studi ini mengkonfirmasi langkah-langkah pencegahan dengan mendisinfektasi ruang dan menghindari kerumunan terbilang efektif. Para peneliti merekomendasikan untuk:

1) memastikan toilet memiliki ventilasi udara dan disterilkan secara rutin karena ruangan ini berpotensi jadi sumber penyebaran virus; 2) melakukan langkah-langkah pencegahan dengan menghindari tempat ramai dan menggunakan masker; 3) mensanitasi ruangan-ruangan berisiko tinggi menyebarkan virus di rumah sakit; 4) membatasi transmisi dengan menempatkan rumah sakit sementara di tempat yang memiliki ventilasi natural dan lapang; 5) mensanitasi permukaan pakaian medis sebelum ditanggalkan untuk mengurangi potensi infeksi.

Related Article