post

Current Affairs

Penelusuran Kontak Pasien COVID-19 dengan Aplikasi Terdengar Solutif? Tak Sesederhana Itu

Raka Ibrahim, 6 Mei 2020

Bukan sulap bukan sihir, juga bukan doa atau jimat, melainkan penelusuran kontak. Siasat ini terbukti ampuh menghambat penyebaran virus SARS-CoV-2019. Penerapan penelusuran kontak yang baik adalah salah satu kunci kesuksesan negara seperti Selandia Baru, Korea Selatan, dan Taiwan dalam menekan dampak terburuk pandemi COVID-19.

Kini, inovasi dari dua perusahaan digital raksasa diharapkan dapat membantu pemerintah tancap gas dalam upaya penelusuran kontak. Teknologi Bluetooth Low Energy (BLE) digadang-gadang bakal berperan penting. Namun, menurut para penemu Bluetooth, penerapannya tidak akan segampang yang kita sangka.

Sebelum lebih jauh, kita mesti memahami penelusuran kontak terlebih dahulu. Prinsipnya gampang: semisal kamu terjangkit virus tertentu, semua orang yang pernah berinteraksi dengan kamu juga berisiko ketularan. Maka, sebagai pasien, kamu akan ditanyai petugas medis soal siapa saja yang berinteraksi secara intens denganmu dalam jangka waktu tertentu. Kemudian petugas akan menghubungi orang-orang tersebut dan memberitahukan bahwa mereka berisiko terpapar virus darimu.

Inilah yang disebut metode penelusuran kontak. Tujuannya jelas: supaya orang-orang itu tidak menyebarkan virus ke lebih banyak orang lagi. Penyebaran virus berhasil ditahan, setiap orang yang berisiko terpapar bisa dites dan diberi penanganan medis, lalu semua orang selamat.

Penelusuran kontak umum dilakukan untuk menahan penyebaran penyakit menular seperti tuberkulosis, campak, HIV, serta penyakit bakterial. Di masa silam, penelusuran kontak terbukti efektif. Kasus terakhir penyakit cacar, misalnya, tercatat pada tahun 1977. Penyakit tersebut berhasil dimusnahkan berkat penelusuran kontak yang akurat dan menyeluruh.

Penelusuran kontak tak jauh beda dengan kerja seorang detektif atau wartawan investigatif. Mereka harus lihai mengorek informasi dari pasien, melacak pergerakan pasien, dan membuat daftar siapa saja yang kemungkinan tertular. Terang saja, metode ini membutuhkan ratusan, bahkan ribuan tenaga bila dikerjakan secara manual.

Ketika kamu berhadapan dengan virus yang menyebar luar biasa cepat dan tidak langsung menunjukkan gejala, petugas medis bakal kelabakan. Sederhananya, tak ada sumber daya manusia yang cukup untuk melakukan penelusuran secara menyeluruh, apalagi mengumpulkan, mengetes, dan mengkarantina para ODP.

Hal inilah yang sedang terjadi dengan pandemi COVID-19. Seperti dilaporkan The Verge, negara-negara maju sekalipun kewalahan melakukan penelusuran kontak untuk sebuah virus yang menyebar begitu cepat. Seseorang di Westport, AS, positif COVID-19 setelah menghadiri sebuah pesta, pekerja medis di sana mendapati bahwa pasien tersebut telah berkontak dengan ratusan orang. Mereka tidak berbuat apa-apa karena alasan sederhana: tak punya sumber daya manusia.

Di sisi lain, negara seperti Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan sukses menekan pertumbuhan COVID-19 dengan penelusuran kontak yang agresif. Kuncinya, tentu saja, adalah melakukan tindakan preventif sejak dini. Namun, rupanya ada faktor lain yang membantu mereka.

Korea Selatan, misalnya, punya senjata lain yang mereka pakai tanpa tedeng aling-aling: salah satu sistem pengawasan publik paling canggih di dunia. Pada 2014, tercatat bahwa terdapat satu kamera CCTV untuk setiap 6,3 penduduk Korsel. Sebuah studi tahun 2010 mengungkapkan bahwa rata-rata penduduk Korsel masuk CCTV setiap sembilan detik sekali sejak keluar rumah. Infrastruktur pengawasan gila-gilaan ini dikerahkan pemerintah Korsel untuk melacak pergerakan pasien.

Pemerintah pun mengakses catatan penggunaan kartu kredit dan ATM, serta memantau pergerakan pasien berdasarkan catatan lokasi ponsel mereka. Berhubung jumlah ponsel di Korsel lebih banyak daripada jumlah manusianya, sinyal 4G dan 5G diterima secara merata di hampir seluruh negeri, dan semua orang wajib mendaftarkan kartu SIM-nya dengan nama asli, hal ini mudah saja dilakukan.

Strategi serupa pun dilakukan oleh Cina, Taiwan, dan Singapura, walau dengan variasi penerapan yang berbeda-beda. Kesimpulannya sederhana: penelusuran kontak mungkin saja dilakukan secara masif, tetapi pemerintah harus bertindak sejak dini dan mereka harus dibantu teknologi yang tepat guna.

Riset teranyar dari Science Mag mengonfirmasi teori ini. Pandemi COVID-19 menyebar terlalu cepat untuk ditangani dengan penelusuran kontak manual. Semisal penelusuran kontak dibantu oleh sebuah aplikasi yang diunduh dan digunakan secara tepat oleh 60 persen populasi, seharusnya pandemi COVID-19 dapat dihentikan.

Aplikasi inilah yang sedang buru-buru dikembangkan oleh pemerintah dan perusahaan di AS dan Inggris. Bulan lalu (10/4), Apple dan Google mengabarkan bahwa mereka tengah mengembangkan kerangka aplikasi berbasis Bluetooth yang dapat membantu upaya penelusuran kontak. Mereka tak akan membangun aplikasi versi final, melainkan bekerja sama mengembangkannya di masa depan dengan pemerintah lokal dan pusat.

Pekan ini (5/5), pemerintah Britania Raya mengumumkan inisiatif serupa. NHSX, divisi Digital dari National Health Service atau NHS (BPJS-nya mereka), menyatakan bahwa aplikasi penelusuran kontak sedang diujicobakan di Isle of Wight, pulau di lepas pantai Inggris dengan populasi 140 ribu jiwa. Aplikasi bikinan NHSX juga menggunakan teknologi Bluetooth Low Energy. Bila ujicoba lancar, pemerintah berencana meresmikan aplikasi tersebut dalam 2-3 pekan.

Begini cara kerja kedua aplikasi tersebut: aplikasi penelusuran kontak yang mereka miliki memunculkan kode anonim di ponsel yang berubah setiap beberapa menit. Kode ini berfungsi layaknya penanda identitas untuk ponsel tersebut. Katakanlah ada dua orang bernama Budi dan Susi. Mereka tidak saling kenal, tapi sama-sama punya aplikasi tersebut di ponselnya. Karena aplikasi tersebut, Bluetooth di ponsel keduanya menyala terus. Mungkin di taman atau transportasi umum, mereka duduk berdekatan agak lama.

Karena ponsel Budi dan Susi mendeteksi bahwa mereka berdekatan untuk tempo waktu lebih dari beberapa menit, mereka bertukar kode anonim tersebut seperti bertukar kartu nama. Berhubung tempat itu ramai dan banyak orang lain, ponsel Budi dan Susi pun mengumpulkan “kartu nama” dari ponsel Said, Mawar, Putri, Tanto Grabwheels, dan masih banyak lagi.

Beberapa hari kemudian, Budi mulai batuk-batuk. Rupanya setelah dites, ia positif COVID-19. Atas persetujuan Budi, ia mengabarkan melalui aplikasinya bahwa ia jadi PDP. Kemudian, setiap ponsel yang “kartu namanya” diterima oleh ponsel Budi selama 14 hari terakhir menerima pesan melalui aplikasi.

Susi, Said, Mawar, Putri, Tanto, dan kawan-kawan lainnya dikabari bahwa mereka ternyata pernah berkontak langsung dengan orang yang positif COVID-19. Mereka tidak tahu siapa, karena identitasnya dirahasiakan, tetapi artinya mereka berisiko terpapar virus dan harus memeriksakan diri. Aplikasi tersebut memberikan info lengkap tentang COVID-19, langkah apa yang harus dilakukan, serta lokasi fasilitas medis terdekat. Mudah!

Sayangnya, ada persoalan serius pada sistem yang tampak ideal ini. Seperti dilaporkan The Intercept, pada hakikatnya Bluetooth hanya menggunakan gelombang radio. Spektrum elektromagnetiknya serupa dengan teknologi yang dipakai untuk mengirim dan menerima sinyal FM Radio, Wi-Fi, dan sinyal ponsel. Tak perlu jadi pakar teknologi untuk tahu bahwa sinyal Wi-Fi, radio, dan ponsel seringkali bapuk tanpa alasan jelas.

Hal ini dikarenakan gelombang radio tidak “melakukan teleportasi” dari pengirim ke penerima. Gelombang tersebut terpantul, teredam, dan terserap oleh benda-benda yang ada di sekitar kita. Pernah kehilangan sinyal ponsel karena mobilmu masuk terowongan atau kamu berada di antara beberapa gedung tinggi? Faktor-faktor lingkungan ini dapat mempengaruhi kuat-lemahnya sinyal. Bila keperluannya sekadar untuk Wi-Fi, sinyal naik-turun mungkin dapat ditoleransi. Namun, untuk penelusuran kontak, bisa berbahaya.

Aplikasi penelusuran kontak berbasis Bluetooth bergantung pada kekuatan sinyal yang diterima, atau RSSI. Sinyal ini yang menentukan apakah kamu cukup dekat dengan orang lain yang punya aplikasi serupa, sehingga ponsel kalian dapat bertukar “kartu nama”. Kalau ponsel si A mendeteksi bahwa jaraknya dengan ponsel si B kurang dari 2 meter, misalnya, mereka otomatis saling mendeteksi.

Swarun Kumar, profesor teknik listrik dan komputer di Carnegie Mellon University, memperkirakan bahwa faktor lingkungan bisa membuat sebuah ponsel Bluetooth yang berjarak 2 meter tertangkap seolah berjarak 20 meter, atau malah sebaliknya. Singkat kata, pembacaan Bluetooth tak akurat.

Dalam kondisi berdesak-desakan, sinyal naik-turun, ponselmu tersimpan dalam tas atau saku celana, pembacaan Bluetooth bisa kocar-kacir. Bahkan Jaap Haartsen dan Sven Mattisson, dua penemu Bluetooth, tak merekomendasikan temuan mereka digunakan untuk penelusuran kontak.

Bayangkan bila kamu mendapat kabar bahwa kamu telah berkontak dengan pasien positif COVID-19, tetapi hal itu tak benar karena pasien yang bersangkutan sesungguhnya berjarak 20 meter dari kamu. Hanya, ponselmu salah tangkap. Atau lebih parah lagi, kamu sebenarnya sudah berkontak dengan pasien positif COVID-19, tetapi karena sinyal jelek, ponselmu tidak mendeteksi kehadiran ponsel sang pasien.

Hal ini dapat menimbulkan persoalan lain: kepercayaan publik. Riset dari Science Mag yang saya sebutkan di awal menyatakan bahwa penelusuran kontak digital dapat menghentikan pandemi jika 60 persen populasi menggunakannya secara efektif dan rutin. Bila warga berulangkali menerima kabar positif yang salah, kepercayaan mereka terhadap ketepatan teknologi tersebut akan menurun. Aplikasi bakal ditinggal, dan penelusuran kontak kembali ke titik nol.

Pada akhirnya, penelusuran kontak digital hanya bisa jadi pendukung kerja penelusuran kontak manual. Pertama, teknologinya belum sepenuhnya siap. Kedua, tak semua orang memiliki ponsel pintar. Bila mereka tak mampu mengakses aplikasi tersebut dan menggunakannya secara rutin, aplikasi tersebut percuma.

Tak heran bila Jason Bay, pejabat publik Singapura yang bertanggungjawab atas upaya penelusuran kontak di sana, menyatakan bahwa kita lebih membutuhkan “pasukan pelacak kontak manual” yang rela turun ke jalan ketimbang aplikasi canggih. Teknologi harus dan bisa membantu. Tetapi supaya penelusuran kontak bisa efektif menghantam pandemi, kerja keras banyak orang tetap diperlukan.