Pendidikan Generasi Muda Indonesia dan Skema BRI Tiongkok

Sejak deklarasi skema Belt and Road Initiative oleh Presiden RRT Xi Jinping pada 2013, tampaknya belum ada tanda-tanda bahwa skema kerja sama dagang internasional ini akan berakhir. Bahkan, saat ini sekretariat BRI dapat mengklaim bahwa sudah ada 152 negara di dunia yang tertarik untuk menjadi anggotanya. Salah satu alasannya mungkin negara-negara tersebut seakan sedang bernostalgia pada abad-abad pertengahan di mana Tiongkok menggunakan Jalur Sutera dan jalur perdagangan maritim sebagai instrumen konektivitas yang melancarkan terhubungnya penawaran dan permintaan.

Baik demi nostalgia maupun kebutuhan dana investasi dari skema BRI, banyak negara-negara yang optimistik dengan adanya skema BRI ini. Tidak hanya bahwa keanggotaan bersifat sukarela, tetapi skema BRI didesain sedemikian rupa sehingga win-win solution menjadi jargon utama. Terlepas dari berbagai macam isu seperti yang terjadi terhadap muslim Uighur di Xinjiang, RRT berhasil mengambil hati para pemimpin negara lain, khususnya di pentas-pentas internasional seperti G20, APEC, RCEP, dan pertemuan tingkat tinggi lainnya.

Tiongkok sesungguhnya membutuhkan skema baru untuk mendorong penjualan produk-produk mereka seperti olahan baja, besi, bahan tambang, bahan baku industri, plastik, tekstil, dan lainnya sehingga tidak terbuang percuma karena sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi di pasar domestik. Selagi negerinya mengalami konversi menuju service-based economy, para pelaku industri manufaktur di Tiongkok beramai-ramai melebarkan bisnis ke luar. Oleh karena itu, sudah banyak investasi Tiongkok yang direalisasikan seperti di negara-negara Afrika. Harapannya, dengan begitu produk-produk bahan baku pembangunan jalan raya, jembatan, bandara, pelabuhan, dan lainnya dapat digunakan secara maksimal.

Nasib Indonesia Menghadapi Skema BRI Tiongkok

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah skema BRI ini menguntungkan atau merugikan? Yang pasti, dalam salah satu klausul yang disebutkan pada bagian Prospek, proyek ambisius BRI diperkenalkan sebagai "jalan dari inovasi." Dalam perencanaan Made in China 2025, Tiongkok menyatakan bahwa aspek inovasi sudah menjadi langkah pasti mereka. Tiongkok sendiri sangat terinspirasi oleh inisiatif Industry 4.0 yang dilaksanakan oleh Jerman sejak tahun 2011. Dengan begitu Tiongkok mengharapkan bahwa para anggota skema BRI ini ikut terangkat status tren industrinya menjadi Industry 4.0. Lalu apakah Indonesia siap untuk mengikuti tren Industry 4.0 dunia tersebut?

Terlepas dari semua pertanyaan-pertanyaan itu, ada baiknya kita merefleksikan hal-hal apa yang dapat dipersiapkan oleh generasi muda sebagai potensi lumbung SDM yang berkualitas menghadapi tidak hanya adanya skema BRI asal Tiongkok ini, tapi juga perubahan-perubahan di dunia yang niscaya terjadi setiap detiknya.

Era bonus demografi segera tiba. Apakah generasi muda SDM Indonesia sudah menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya supaya lebih berdaya dan diperhitungkan di ranah global? Ketika para entitas ekonomi global terdongkrak atau terstimulus dengan skema kerja sama BRI Tiongkok, talenta-talenta generasi muda SDM Indonesia dapat mengisi berbagai lini baik itu teknis, taktis, maupun strategis. Baik itu sebagai penerjemah, analis, teknisi, pemasar, programmer, pengembang bisnis, kuasa hukum korporat, dan lain sebagainya. Ada jutaan kesempatan lapangan pekerjaan yang dapat dihasilkan oleh skema BRI Tiongkok ini (Chen, International Business Research, 2018). Alangkah sayang jika Indonesia dengan limpahan bonus demografi tak bisa memperoleh setidaknya kesempatan-kesempatan kerja tersebut.

Apabila generasi muda SDM Indonesia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang terjadi, banyak hal yang perlu dimatangkan. Pendidikan formal merupakan hal yang wajib dikenyam oleh generasi muda SDM Indonesia. Melanjutkan pendidikan sampai ke Strata-2 dan Doktoral juga merupakan bagian dari penyiapan kapasitas SDM Indonesia. Apalagi kalau fokus utamanya adalah mengenai kesiapan untuk menghadapi skema dagang BRI, agaknya menyiapkan diri dengan memperlajari bisnis, perdagangan, logistik, dan rantai pasok sudah dirasa merupakan modal yang cukup. Namun, salah satu kemampuan yang cukup sering luput dari perhatian adalah kemampuan berbahasa asing kedua, selain Bahasa Inggris.

Mengapa demikian? Ambil contoh target keberdayaan generasi muda SDM Indonesia adalah memiliki daya tawar pada panggung skema BRI yang diinisiasi oleh Tiongkok. Dengan begitu bahasa asing utama yang signifikan selain bahasa Inggris untuk dikuasai adalah bahasa Mandarin. Lalu, bila disimak, negara-negara utama seperti Rusia, Jerman, dan Perancis dilewati skema BRI ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan penguasaan bahasa asing kedua, ketiga, dan keempat dengan relevansi target keberdayaan tadi.

Salah satu jalan pintas untuk mempelajari bahasa asing kedua adalah dengan langsung berstudi di negara-negara utama tadi. Dengan begitu, ketika sudah lulus dengan gelar master atau doktor, individu generasi muda SDM Indonesia juga mendapatkan kemampuan berbahasa asing yang dapat menjadi modal utama dalam berkompetisi secara global, khususnya pada era kebangkitan Tiongkok.

Dengan semaraknya produk-produk IT, kemudahan mengakses internet, kemudahan mengakses berbagai macam informasi, generasi muda SDM Indonesia sesungguhnya hampir tidak memiliki alasan tidak bisa menyiapkan kualitas dan kapasitas diri. Kafe, restoran, atau tempat nongkrong lainnya banyak menyediakan wi-fi gratis, sehingga, alasan untuk misalnya mempelajari bahasa asing kedua atau ketiga tidak bisa lagi dicari-cari. Dengan kemampuan bahasa asing yang beragam ini, diharapkan para generasi muda SDM Indonesia yang memiliki produk maupun jasa dapat langsung menawarkan produk/jasa yang dimiliki kepada calon konsumen tanpa perantara penerjemah.

Tiongkok sedang mempersiapkan generasi muda mereka agar dapat terus bersaing dengan SDM dari negara lain. Sistem pendidikan digalakkan, kampus-kampus terbaiknya menyediakan perlbagai jurusan yang mampu menunjang masa depan siswanya.

Tiongkok memang sedang menjadi primadona dalam mendorong ekonomi global ke arah yang mungkin banyak kalangan tidak mengira sebelumnya. Namun, ingat, posisi Tiongkok saat ini juga bisa digeser oleh negara maupun entitas ekonomi lainnya di dunia suatu waktu. Sehingga, yang perlu sama-sama dipersiapkan adalah kembali lagi pada kualitas generasi muda SDM masing-masing. Lantas, sudah sampai manakan generasi muda SDM Indonesia mempersiapkan itu?

Related Article