Penderita HIV Bertambah Semasa Corona?

Social distancing dan karantina diri terbukti mencegah laju penyebaran COVID-19, tetapi para pakar kesehatan memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa tanpa sengaja menghambat upaya untuk mengatasi penyakit mematikan lain seperti HIV/AIDS.

Sebuah studi yang dipimpin Travis Sanchez, ahli epidemiologi di Emory University, Amerika Serikat, terhadap sekitar 1.000 pria yang berhubungan seks sesama pria (MSM), menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya mengalami pengurangan jumlah pasangan seksual sebagaimana penggunaan aplikasi kencan yang turun. Sepintas, harusnya fakta tersebut seiring dengan penurunan jumlah penularan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, jumlah orang yang terjangkit HIV malah berpotensi melonjak.

Kok bisa?

Seperempat dari responden mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan mengakses tes penyakit menular seksual karena ribuan pusat tes yang dulu menyediakannya tutup. Akibatnya, orang-orang yang masih melakukan aktivitas seksual tidak dapat memonitor kondisi kesehatan mereka. Menurut Sanchez, situasi ini berpotensi menjadi bom waktu.

“Orang-orang sangat mungkin kembali melakukan perilaku berisiko sebelum mereka punya akses penuh ke layanan pencegahan,” katanya. “Kombinasi itu dapat meningkatkan angka penularan HIV.”

Dampak pandemi COVID-19 terhadap penularan HIV tidak akan diketahui secara komprehensif sebelum Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) menerbitkan statistiknya di tahun depan. Tetapi banyak pakar kesehatan yang mengkhawatirkan kemunduran terhadap program pengentasan infeksi HIV.

Mengafirmasi kemungkinan merebaknya infeksi dalam jangka panjang, CDC mengatakan, “Penurunan ketersediaan tes dan akses terbatas ke layanan pengobatan dan pencegahan dapat mengakibatkan lebih banyak infeksi dan hasil kesehatan yang buruk dalam jangka panjang."

Di Washington, klinik Whitman-Walker mengalihfungsikan tes untuk virus HIV dan infeksi menular seksual (IMS) menjadi tes COVID-19. Sebelum pandemi, normalnya sekitar 50 orang datang tiap hari untuk menjalani pemeriksaan HIV, dan kembali untuk melakukan pemeriksaan rutin setiap tiga bulan setelah pemeriksaan pertama.

Dokter Matthew Spinelli di San Francisco mengungkapkan kekhawatirannya kepada AFP bahwa situasi karantina menghambat akses penderita HIV kepada obat-obatan yang mereka butuhkan sehari-hari. Ada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak memiliki akses ke konsultasi kesehatan online, ada juga yang takut ketularan COVID-19 jika harus mengambil obat ke fasilitas kesehatan.

Hal ini membuat suplai obat-obatan seperti ARV, yang mencegah virus HIV menyerang sel-sel sehat, dan PrEP, yang mencegah penularan lewat seks, tidak bisa mereka penuhi. Dikhawatirkan, angka AIDS dan penularan HIV selama pandemi bisa meningkat karenanya.

"Mengacu pada [faktor-faktor] itu, epidemi HIV bisa jadi memburuk. Itu prediksi saya, baik di negara ini maupun di seluruh dunia," ujarnya.

Dalam kondisi ini, penyedia layanan kesehatan seharusnya menyesuaikan ulang strategi. Misalnya dengan menggunakan layanan telemedicine yang kini mulai lumrah dan menganjurkan alat tes HIV mandiri yang selama ini kurang dimanfaatkan.

Di dalam negeri, pandemi COVID-19 juga berpengaruh buruk terhadap kesejahteraan ODHA.

Ayu Oktariani, aktivis HIV dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) mengungkapkan, buruknya situasi saat ini bukan disebabkan minimnya akses ke fasilitas kesehatan. Puskesmas tetap membuka layanan pemeriksaan HIV dan IMS selama pandemi COVID-19. Akan tetapi, katanya, stok ARV dalam negeri menipis sehingga penyebarannya harus dijatah. Seorang ODHA hanya diberi dosis untuk 10 hari sekali ambil. Maka, ODHA harus sering bolak-balik RS besar mengambil jatah ARV dan jadi rentan terpapar virus COVID-19.

“Yang agak menantang menurut saya kalau pasiennya sudah dinyatakan HIV dan dalam fase AIDS, jadi dia sakit-sakitan dan lain sebagainya, dan harus berangkat ke rumah sakit besar,” katanya kepada Asumsi.co.

Menurutnya, pemerintah harus memperbaiki sistem pengadaan obat di Indonesia semasa pandemi COVID-19 serta memastikan stok ARV cukup untuk ODHA di seluruh Indonesia.

“Karena ODHA kan bukan cuma orang dewasa, ada anak-anak, ada ibu hamil. Ada banyak kelompok terdampak yang semakin buruk kondisinya kalau ARV nggak dijamin ketersediaannya sampe pandemi COVID-19 berakhir,” ujarnya.

Related Article