Penanganan COVID-19 di Kerala Banyak Dipuji. Ini Alasannya.

Dari sekian banyak negara di seluruh dunia, respons India terhadap pandemi COVID-19 termasuk mengkhawatirkan. Setelah ribuan kasus positif COVID-19 dilaporkan dan angka kematian terus menanjak, pada 24 Maret 2020 Perdana Menteri Narendra Modi tiba-tiba mengumumkan bahwa seluruh negara tersebut akan di-lockdown. 

Akibat titah dadakan tersebut, jutaan pekerja informal dan migran di India morat-marit. Tak sedikit yang mati begitu saja di pinggir jalan. Hingga hari ini, India melaporkan total 13,495 kasus positif COVID-19 dan 448 kematian. Perdana Menteri Modi pun telah mengumumkan bahwa perintah lockdown akan diperpanjang lagi sampai 3 Mei 2020. Situasi di India diperkirakan akan terus memburuk.

Namun, di tengah kekacauan tersebut, salah satu wilayah di India justru menonjol karena mengambil tindakan cepat, efektif, dan menyeluruh terhadap pandemi COVID-19. Negara bagian Kerala, di ujung Selatan India, banyak dipuji karena menekan habis-habisan laju penyebaran virus COVID-19. Terdapat 364 kasus positif COVID-19 di Kerala, menjadikannya negara bagian dengan jumlah kasus tertinggi kedelapan. Tetapi, jumlah pasien sembuh di Kerala paling tinggi di seantero India. Apa rahasia mereka?

Seperti dilansir Tribune, infrastruktur kesehatan dan pelayanan publik di Kerala termasuk paling top di India. Selama 30 tahun terakhir, Kerala dikuasai oleh partai-partai Sosialis atau Komunis (Menteri Utama dan Menteri Kesehatan Kerala sama-sama anggota Partai Komunis-Marxis India atau CPIM) yang berinvestasi habis-habisan ke layanan kesehatan dan pendidikannya. Tingkat literasi di Kerala tertinggi di India, dan infrastruktur kesehatan publiknya dianggap terbaik di India. Angka imunisasi saat kelahiran dan ketersediaan dokter spesialis di fasilitas kesehatan pun tertinggi di India.

Namun, pada saat bersamaan, Kerala berisiko tinggi dihajar pandemi COVID-19. Populer karena daerah perdesaannya yang asri dan resor-resor kesehatan, Kerala dikunjungi oleh lebih dari 1 juta turis asing saban tahun. Seperenam dari 33 juta penduduknya adalah imigran, dan ratusan mahasiswa asal Kerala kuliah di Cina. Tiga kasus pertama COVID-19 di Kerala berasal dari mahasiswa Kerala yang mudik.

Setelah tiga kasus tersebut dilaporkan di akhir Januari 2020, Kerala mewajibkan karantina untuk semua orang yang baru tiba dari Cina. Mulai dari 10 Februari 2020, siapapun yang tiba dari negara-negara rentan COVID-19 seperti Iran dan Korea Selatan diwajibkan swakarantina di rumah. Pemerintah Kerala pun mendirikan fasilitas karantina sementara untuk menampung orang-orang yang hanya berkunjung sementara ke Kerala, seperti turis. Semua ketetapan ini dilaksanakan Kerala dua pekan sebelum pemerintah pusat India memberlakukan aturan sama untuk seluruh negara.

Karena sistem kesehatan mereka tokcer, Kerala pun mampu mengikuti rekomendasi World Health Organization (WHO) dan melakukan tes COVID-19 besar-besaran kepada warganya. Seperti dilaporkan oleh The Washington Post, pada pekan pertama bulan April, Kerala telah melakukan lebih dari 13 ribu tes--10 persen total tes untuk seluruh India. Kerala pun mulai mendistribusikan test kit untuk rapid testing dan memulai program tes walk-in yang dapat mengurangi risiko keterpaparan virus pada pekerja medis.

Sebagai perbandingan, Andhra Pradesh, negara bagian dengan jumlah kasus COVID-19 serupa, hanya melakukan 6 ribu tes. Sementara Tamil Nadu, dengan jumlah kasus dua kali lipat, “hanya” melakukan 8 ribu tes. Adapun di Indonesia, pada periode yang sama (pekan pertama April) jumlah total tes yang telah dilakukan adalah 9.700 tes.

Kerala pun serius melakukan contact tracing atau penelusuran kontak terhadap setiap pasien COVID-19 di wilayahnya. Dengan teknologi GPS, CCTV, dan catatan ponsel, misalnya, mereka melacak pergerakan keluarga yang termasuk salah satu kasus positif COVID-19 pertama di Kerala. Dalam hitungan hari, restoran, bank, dan gereja tempat mereka berinteraksi dengan orang banyak telah dilacak dan 1.000 orang diminta swakarantina.

Otoritas Kerala paham bahwa pasien positif COVID-19 dapat menjadi korban stigma dari masyarakat. The Washington Post melaporkan kisah sebuah keluarga yang menyembunyikan riwayat perjalanan mereka karena tak mau tetangganya tahu mereka habis pulang dari Italia. Konselor psikologis dari pemerintah bercakap-cakap rutin dengan mereka untuk meyakinkan mereka menghadapi stigma tersebut dan membuka riwayat perjalanannya. Informasi tersebut pun disebarkan lewat aplikasi seperti GoK Direct, bersama tips menangani COVID-19 lainnya.

Fasilitas kesehatan dan gedung-gedung terbengkalai pun diduduki. Sebuah gedung bekas rumah sakit swasta yang bangkrut di wilayah Kannur diambil alih oleh pemerintah dan disulap jadi fasilitas khusus penanganan COVID-19. Pemerintah juga telah mengambil alih gedung-gedung kosong atau tak terpakai untuk mendirikan pusat swakarantina pasien COVID-19, termasuk pasien yang belum menunjukkan gejala sama sekali.

Menteri Utama Pinarayi Vijayan pun mempopulerkan slogan “physical distance, social unity” untuk menegaskan pentingnya solidaritas sosial dalam pandemi. Koperasi, organisasi perempuan, pemerintah desa, hingga perusahaan-perusahaan bergotong-royong melakukan contact tracing, memproduksi masker dan hand sanitizer, hingga mendistribusikan alat kesehatan dan makanan ke orang-orang yang rentan.

Baru-baru ini, Kerala mengumumkan paket ekonomi senilai USD2,6 miliar untuk menanggulangi pandemi tersebut. Paket ini termasuk dana besar-besaran untuk tunjangan ke masyarakat berupa pinjaman uang dan pembagian sembako. Bayaran tunjangan hari tua senilai dua bulan untuk penduduk lansia akan dibayarkan lebih cepat, pemerintah mengorganisir pengiriman makanan ke anak-anak, dan bekerja sama dengan penyedia jasa telekomunikasi untuk meningkatkan kapasitas Internet di Kerala.

Tak henti di sana, Kerala mendirikan 4.600 pusat bantuan untuk menampung pekerja informal dan pekerja migran, termasuk 35 fasilitas yang khusus untuk tunawisma dan masyarakat termiskin. Gedung pendidikan yang tak terpakai seperti gedung sekolah dan kampus pun digunakan untuk menampung pasien COVID-19, dan orang-orang yang dikarantina di sana diberikan makanan, masker, sabun, dan hand sanitizer.

Sekarang, hasilnya terlihat nyata. Seperti dilaporkan harian The Hindu, tingkat kesembuhan pasien di Kerala tertinggi di seluruh India. 218 dari 387 pasien positif COVID-19 telah dinyatakan sembuh total hingga dua hari lalu (15/4). Menteri Kesehatan Kerala, KK Shailaja, menyatakan bahwa tingkat kematian akibat COVID-19 di Kerala hanya 0,5%, lebih rendah dari rata-rata 5% di seluruh dunia.

Selagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diterapkan di berbagai daerah Indonesia dan Pemda dituntut punya inisiatif untuk membantu rakyatnya, kisah-kisah seperti Kerala menjadi contoh yang apik. Penanggulangan pandemi COVID-19 adalah upaya bersama yang membutuhkan kepemimpinan cekatan dari atas, persiapan dari jauh-jauh hari, dan komitmen untuk mendahulukan keselamatan rakyat di atas segala-galanya.

Related Article