post

Politik

Pemimpin-pemimpin yang Gagal Mengatasi Pandemi COVID-19

MM Ridho, 6 Mei 2020

Pandemi COVID-19 menyoroti yang terbaik dan yang terburuk dari para pemimpin dunia. Banyak yang menunjukkan ketangguhan dan kecakapan strategis dalam menangani krisis, tetapi ada pula yang sebaliknya. Tak perlu memungkiri bahwa pandemi ini sangat sulit diatasi, namun mereka mengambil langkah-langkah yang kelewat payah dan mengundang kritik baik dari dalam maupun luar negeri masing-masing.

Nama-nama yang kerap disebut di antaranya Presiden Brazil Jail Bolsonaro, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador (AMLO), dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, misalnya, membuat publik marah ketika ia menjawab, "terus kenapa?" kepada seorang reporter yang meminta tanggapannya tentang rekor 474 kematian akibat COVID-19 dalam sehari.

Sebelumnya, Bolsonaro menuding pers telah membesar-besarkan ancaman pandemi dan membuat masyarakat khawatir dengan menyebarkan disinformasi yang dimaksudkan untuk menjatuhkannya dari kekuasaan.

“Karena latar belakang saya sebagai atlet, saya tidak perlu khawatir jika terinfeksi oleh virus. Saya tidak akan merasakan apa-apa, paling buruk itu akan [terasa] seperti flu ringan," kata Bolsonaro pada 25 Maret.

Sementara itu, ia dan para pendukung setianya melakukan demonstrasi terhadap Kongres dan Mahkamah Agung pada Minggu (3/5) untuk memprotes kebijakan karantina dan social distancing Ketua Dewan Deputi Rodrigo Maia. Dalam aksi tersebut, setidaknya tiga jurnalis dan satu fotografer dari surat kabar Sao Paulo mengalami pengeroyokan.

Perisakan jurnalis bukanlah fenomena langka yang dilakukan pemimpin dalam mengelola penyebaran informasi. Di Turki, para jurnalis yang mengkritik kebijakan penanganan COVID-19 Erdoğan harus berurusan dengan penjara. Pemerintah Turki setidaknya menutup 18 situs berita, membungkam para dokter yang menyuarakan kejanggalan, dan menahan 410 orang karena mengunggah informasi yang dinilai provokatif oleh pemerintah sepanjang bulan Maret.

Semua itu berhubungan dengan kecurigaan publik terhadap data yang dilaporkan oleh pemerintah Turki, minimnya transparansi, dan kemungkinan sejumlah kasus yang tidak dilaporkan. Selain itu, Turki dinilai gagal melakukan langkah penanggulangan COVID-19 karena pemerintah pusat kerap menghalangi langkah-langkah pengendalian yang dilakukan pemerintah daerah, khususnya pemerintah daerah yang dikuasai partai oposisi.

Meski jumlah kasus terus bertambah, Erdoğan tetap ngotot supaya kegiatan bisnis terus berjalan.

“Turki akan terus mewajibkan pabrik-pabrik berproduksi dan akan mempertahankan roda ekonomi tetap berjalan dengan alasan apapun,” tegas Erdoğan pada pekan pertama April 2020

Presiden Meksiko, AMLO, yang diharapkan membuat perbedaan dari para pendahulunya, juga mengecewakan. Sementara kasus COVID-19 meningkat di Meksiko, sesi-sesi konferensi pers pemerintahnya kerap dibandingkan dengan pernyataan-pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang sering kali bukannya memberi informasi akurat, justru berujung menjadi promosi personal dan serangan kepada lawan politik.

Ia menyinggung berbagai isu darurat di depan publik, tapi sambil bergurau soal lawan-lawan politiknya atau menyalahkan pemerintahan sebelumnya untuk krisis yang ada di depan mata. Ia kerap mengungkit-ungkit nilai-nilai moral dan mengutip ayat Alkitab. Ia bahkan menunjukkan beberapa kartu doa dari dompetnya, yang menurutnya merupakan semacam jimat penangkal COVID-19.

Di balik kelakar dan khotbah AMLO, Meksiko menangani pandemi dengan cara yang sangat buruk. Ahli-ahli kesehatan mengatakan jumlah kasus positif yang sebenarnya bisa mencapai delapan kali lipat jumlah yang dilaporkan pemerintah. Penyebabnya: kekurangan tes. Sejauh ini, Meksiko baru melakukan 100.041 tes, di bawah Indonesia dengan 121.547 tes pada Selasa (5/5).

Nama terakhir, yang paling sering dibahas oleh media: Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sejak meraih kemenangan di pemilu tahun tahun 2016, kepemimpinan Trump tidak pernah sepi dari kritik. Kebijakan dan pernyataannya yang kontroversial terus berlanjut sampai pandemi COVID-19 menyebar dan menjadikan AS negara dengan jumlah kasus positif dan kematian tertinggi di dunia.

Sang presiden memadukan perangai antisains, sentimen rasis, dan sikap kekanak-kanakan dalam menanggulangi pandemi.

Trump pernah menyebut pandemi COVID-19 sebagai "virus Cina". Ia menuduh pihak pemerintah Cina telah melakukan kegiatan mencurigakan di Laboratorium Keamanan Hayati Nasional Wuhan, yang menyebabkan virus tersebut menyebar ke seluruh dunia--termasuk Amerika Serikat.

"Kami sedang melakukan penyelidikan yang sangat serius ... Kami tidak senang dengan Cina," kata Trump saat memimpin rapat di Gedung Putih pada 17 April.

Dalam satu kesempatan, Trump pernah mengajukan percobaan untuk membunuh virus COVID-19 dengan memasukkan disinfektan ke dalam tubuh. Yang terbaru dan masih berlangsung hingga kini, Trump memberikan dukungannya kepada para demonstran yang melakukan unjuk rasa menentang kebijakan lockdown.

Berikut jumlah kasus positif dan kematian tiap negara per Selasa (5/5) menurut Worldometer.

Negara

Jumlah Kasus Positif

Jumlah Kematian

Amerika Serikat

1.226.613

71.372

Turki

129.491

3.520

Brazil

110.156

7.485

Meksiko

24.905

2.271