post

Current Affairs

Donald Trump Ditendang dari Media Sosial Karena Serikat Pekerja?

Permata Adinda, 12 Januari 2021

Foto: Alphabet Workers Union

Donald Trump kehilangan panggung setelah diblokir oleh berbagai media sosial. Tak lama setelah ia mengglorifikasi kekerasan yang dilakukan para pendukungnya di Capitol Hill di Washington DC (6/1), Twitter, Facebook, Youtube, hingga TikTok menghapus unggahan-unggahan sekaligus menangguhkan akunnya.

Bukan cuma platform media sosial, para pendukung Trump ini juga kena larangan naik pesawat. Tak sedikit di antara mereka berakhir telantar di bandara atau diusir dari pesawat.

Fenomena ini bukannya terjadi secara serta-merta. Di belakang keputusan perusahaan media sosial hingga maskapai penerbangan itu, ada ribuan pekerja yang tergabung dalam serikat yang mendesak perusahaan mereka untuk mengambil langkah konkret mencegah disinformasi, ujaran kebencian, hingga kekerasan semakin meluas.

Alphabet Workers Union Desak Youtube Blokir Trump

Ambil Google salah satunya. Hanya beberapa hari setelah serikat pekerja bernama Alphabet Workers Union (AWU) dibentuk, ratusan pekerja yang tergabung di dalamnya mendesak salah satu produk Google, Youtube, untuk memblokir Presiden Trump dari platform secara permanen.

Langkah Youtube yang hanya menghapus satu video Trump yang menyebut “We love you, you’re very special” kepada para penyerbu Capitol dianggap tidaklah cukup. Dalam surat pernyataannya, AWU menyatakan bahwa respons Youtube “loyo” dan mendemonstrasikan kebijakannya yang “selektif dan tidak memadai” dalam menghentikan penyebaran kebencian dan ekstremisme.

Pihak mereka juga mengakui bahwa media sosial telah berkontribusi dalam memperkuat gerakan fasis yang berkembang di Amerika Serikat. “Youtube akan terus berfungsi sebagai vektor bagi perkembangan gerakan fasis jika ia terus memprioritaskan pengiklan dan mengekspos publik.”

300 Pekerja Twitter Bikin Petisi untuk Blokir Akun Trump

Sama halnya dengan AWU di Google, para pekerja di Twitter juga bergerak. Meskipun mereka belum memiliki serikat pekerja, lebih dari 300 pekerjanya menandatangani petisi internal yang mendesak agar Donald Trump diblokir secara permanen dari Twitter.

Surat yang bocor ke publik itu menyatakan bahwa para pekerja “terganggu” dengan serangan kepada Capitol Hill, dan Twitter mesti mengambil langkah serius dengan menangguhkan secara permanen akun Trump. “Kita harus merefleksikan peran Twitter dalam aksi huru-hara di Capitol yang membahayakan kesejahteraan Amerika Serikat, perusahaan kami, dan karyawan kami,” tulis mereka di petisi.

Ada pula pekerja yang mengkritisi kebijakan Twitter yang menurutnya telah berkontribusi dalam membiarkan Trump mengeluarkan hasutan hingga disinformasi. “Percakapan ini selalu fokus pada bagaimana kita telah menegakkan kebijakan yang ada. Apakah kita tidak mempertimbangkan bahwa persoalan itu terletak pada kebijakan kita sendiri?” katanya di salah satu grup internal Twitter.

Hanya berselang satu jam setelah The Verge pertama kali membocorkan isi petisi para karyawan Twitter tersebut, Twitter memutuskan untuk memblokir akun Trump secara permanen. Dalam keterangannya, Twitter mengatakan bahwa, “Berdasarkan hasil evaluasi atas cuitan-cuitan terbaru dari @realDonaldTrump dan konteks yang mengelilinginya, kami memutuskan untuk menangguhkan akun ini secara permanen karena berisiko untuk memantik kekerasan lebih lanjut.”

Asosiasi Pramugari Desak Agar Perusuh Dilarang Naik Pesawat

Serikat pekerja juga berperan menghalau para perusuh di Capitol untuk bepergian. Serikat pekerja yang merepresentasikan 50 ribu pramugari di 17 maskapai penerbangan berbeda, Association of Flight Attendants-CWA (AFA), mendesak agar para perusuh ini dilarang menaiki pesawat.

Presiden AFA, Sara Nelson, mengatakan bahwa perilaku para perusuh dengan “mentalitas preman” ini “tidak dapat diterima” dan merupakan ancaman bagi “keamanan dan keselamatan setiap orang di pesawat.” “Prioritas pertama kita dalam keselamatan dan keamanan penerbangan adalah menjaga agar semua masalah tetap di darat. Kepergian sejumlah perusuh dari wilayah DC setelah tindakan mereka yang kejam dan menghasut di Capitol memantik kekhawatiran.”

“Aksi melawan demokrasi, pemerintah, dan kebebasan ini membuat kita mesti mendiskualifikasi individu-individu ini dari kebebasan untuk terbang,” tambah Nelson, mendesak penegak hukum dan pemangku kepentingan untuk mengintervensi situasi demi melindungi penumpang dan kru penerbangan.

Setelah pernyataan Nelson keluar pada Rabu (6/1), maskapai penerbangan Alaska melarang 14 penumpang melakukan penerbangan dari Washington DC ke Seattle pada Kamis (7/1). Begitu pula dengan Delta Air Lines yang mengusir dua penumpang yang hendak terbang dari Washington DC ke Minneapolis pada Jumat (7/1).

Mesipun begitu, maskapai-maskapai penerbangan ini tak secara gamblang mengatakan bahwa pelarangan itu disebabkan oleh aksi kerusuhan. Delta Air Lines mengatakan bahwa mereka “tidak taat aturan”. Sementara Alaska menyebutkan bahwa mereka tidak tahu kegiatan penumpang-penumpang ini selama di Washington DC, tetapi melarang mereka naik pesawat karena mereka “menolak memakai masker, membuat gaduh, dan melecehkan kru kami.” Namun, Alaska tidak menyangkal bahwa jumlah penumpang yang mereka tolak di hari itu tergolong signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya.