Pejuang-Pejuang Asing untuk Kemerdekaan Indonesia

Ichiki Tatsuo menerjang hantaman peluru senapan pasukan tentara Belanda di desa Arjosari, Kota Malang, Jawa Timur pada 9 Januari 1949. Maut dihadapinya semata-mata demi Merah Putih, mengobarkan semangat kawan-kawan seperjuangannya dalam perang kemerdekaan 1945-1949. 

Tatsuo lahir dan tumbuh besar di Jepang. Namun, ia telah lama tinggal di Indonesia. Tatsuo dikirim sebagai prajurit pasukan Kekaisaran Jepang jauh sebelum Perang Dunia II. Bertahun-tahun makan dan minum dari tanah air Indonesia, darahnya bergolak ketika kedaulatan negeri ini terancam.

Dalam jurnal Indonesia, Oktober 1976, Kenichi Goto menulis bahwa Tatsuo, seorang nasionalis Jepang, pada akhirnya melepaskan kewarganegaraannya  sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Jepang yang menurutnya ingkar janji untuk membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. 

Tatsuo tak sendirian. Ada Ono "Rahmat" Shigeru dan Yoshizumi "Arif" Tomegoro, prajurit-prajurit Jepang lain yang membelot ke Indonesia. Nama "Arif" merupakan pemberian Tan Malaka untuk sang mantan intel. Kalau Arif "diindonesiakan" Tan Malaka, Tatsuo mendapatkan nama "Abdul Rachman" dari Agus Salim, hadiah karena ia menjadi penasihat Divisi Pendidikan PETA, Tentara Sukarelawan Pembela Tanah Air.

Jabatan terakhir Tatsuo sebelum gugur di medan perang adalah Wakil Komandan Pasukan Gerilya Istimewa, sementara posisi Komandan diemban Tomegoro. 

Pada 15 Februari 1958, Presiden Sukarno memberikan sebuah teks kepada Nishijima Shigetada untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo. Teks itu berisi kenangan Sukarno tentang Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro. Di biara tersebut didirikan monumen yang bertuliskan: "Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno."

Tak hanya dari Jepang. Prajurit-prajurit dari berbagai negara seperti Belanda, India, Nepal, Jerman, Korea, dan Inggris memutuskan keluar dari pasukan mereka untuk menjadi kombatan demi Indonesia merdeka. Para prajurit itu mengerti bahwa mereka tak sepatutnya memerangi bangsa yang berjuang keras untuk meraih kemerdekaan.

Yoshizumi Tomegoro dan Ono Shigeru

Yoshizumi Tomegoro dan Ono Shigeru punya peran yang sama pentingnya dengan Tatsuo. Keduanya menyerahkan jiwa dan raga untuk membantu kemerdekaan Indonesia, di saat Jepang sendiri mengirimkan tentara untuk menduduki tanah air.

Tomegoro pernah mencuri barang-barang di gudang Markas Besar Kaigun Bukanfu, lalu menjualnya di pasar gelap. Hasil penjualan itu diserahkannya kepada Tan Malaka untuk mendanai perang gerilya. Dia juga berperan dalam membangun pabrik senjata di Blitar dan Kediri dengan bantuan Affandi, pelukis dan pemimpin serikat buruh PAL. Pada 10 Agustus, ia gugur di Blitar dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Blitar, Jawa Timur.

Sementara itu, Shigeru menerjemahkan buku khusus rangkuman taktik dan trik perang gerilya untuk tentara Indonesia bersama "Bapak Intel Indonesia" almarhum Kolonel Zulkifli Lubis. Selain ikut bergerilya di kaki Gunung Semeru, Jawa Timur, dia juga pernah menyerang markas KNIL di Mojokerto pada Juni 1947. Ketika Jepang menyerah terhadap Sekutu, Shigeru memilih bertahan di Indonesia.

Eiichi Hayashi dalam Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik mengungkapkan alasannya membela Indonesia: “Indonesia sudah banyak membantu Jepang. Kami ingin memberikan yang tidak bisa dilakukan oleh negara kami.”

Pengorbanan Shigeru jelas tak setengah-setengah. Dia kehilangan tangan kanannya akibat ledakan mortir. Belum lagi ia juga menjadi buronan militer Belanda selama berjuang memimpin pasukan di wilayah Jawa Timur. Tepat pada 25 Agustus 2014, sang prajurit meninggal dunia di Batu, Jawa Timur, pada usia 95 tahun akibat penyakit tifus dan pembengkakan pembuluh darah.

Maeda Tadashi

Maeda Tadashi, nama yang lebih dikenal, ialah seorang pejabat militer Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia meski penguasa di Jawa mematuhi peraturan Sekutu menjaga status quo. 

Dikutip dari Historia, gelagat sang laksamana untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia sudah terlihat sejak lama. Dalam wawancaranya dengan sejarawan Abdoerahman Soerjomihardjo pada 1973, Tadashi mengungkapkan hal itu: “Tahun 1944, saya mengirimkan permohonan atau pendapat kepada Tokyo supaya memberi kesempatan untuk merdeka.” 

Bentuk dukungannya yang lain ialah mendirikan Asrama Indonesia Merdeka di Kebon Sirih. Selain itu, Laksamana Maeda juga sering menjalin komunikasi dengan Sukarno dan Hatta serta aktivis-aktivis muda.

Tadashi Maeda bahkan mempersilakan dan menjamin keamanan para pemimpin Indonesia saat merumuskan teks proklamasi di rumahnya. Rumah yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, itu kini menjadi Museum Naskah Proklamasi.

J.C. Princen

Johannes Cornelis Princen, seorang prajurit Belanda, memutuskan pindah menjadi warga negara Indonesia pada 1949.

Poncke, nama panggilannya, punya rekam jejak sebagai pejuang tangguh sejak muda. Ia terlibat dalam berbagai pergolakan seperti melawan berbagai rezim yang melakukan penindasan mulai dari Nazi di Eropa hingga Orde Baru.

Awal 1947, Princen yang terancam hukuman mati terpaksa ikut dalam rombongan tentara Belanda yang berangkat ke tanah Jawa dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Dia ditempatkan di Purwakarta, Jakarta, dan Bogor. Di kedua kota terakhir, dia menyaksikan perilaku brutal para serdadu dari bangsanya sendiri.

Maka Poncke muak. Pada Agustus 1948, dia melarikan diri dari kesatuan. Sayangnya, ia malah ditangkap oleh Tentara Merah (pasukan pro FDR PKI) dan dipenjarakan di Pati. Berselang sebulan, Batalyon Kala Hitam dari Divisi Siliwangi membebaskan dan mempersilakannya untuk kembali ke pasukannya. Yang mengejutkan, Princen justru tetap memilih ada di barisan pasukan Siliwangi dalam melakukan long march ke Jawa Barat.  

Pada 1949, saat Belanda menggempur Yogyakarta, dia telah tercatat di divisi Siliwangi dengan nomor pokok prajurit 251121085, kompi staf brigade infanteri 2, Grup Purwakarta. Seterusnya, ia aktif sebagai gerilyawan Republik yang berjuang di wilayah Cianjur-Sukabumi.

Langkah yang diambil Princen pun punya risiko yang mengerikan: jadi sasaran utama militer Belanda. Meski begitu, ia senantiasa lolos, termasuk dari  operasi khusus yang dilakukan oleh KST (Korps Pasukan Khusus Angkatan Darat Belanda) pada 10 Agustus 1949 di Cilutung Girang, Cianjur.

Poncke menerima anugerah Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno pada 1949. Ia meninggal dunia pada 22 Februari 2002.

Warner dan Losche

Selain orang-orang Jepang dan Belanda, ada pula prajurit Jerman yang memilih bergabung dengan pasukan Indonesia. Warner dan Losche adalah dua anggota Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), yang sempat jadi tawanan tentara Inggris di Jakarta pada 1945, lalu diasingkan ke Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Selanjutnya militer Belanda menangani mereka sebelum diberangkatkan ke Eropa. Warner dan Losche beserta para tawanan perang lainnya di Onrust mendapat perlakuan yang sangat buruk dari Belanda. Nasib orang-orang Jerman di sana pun beragam, ada yang mati karena penyakit demam berdarah, malaria dan kelaparan. Untuk yang masih hidup, mereka pun harus pasrah menghadapi kenyataan harus bertahan dalam penderitaan.

Belum lagi yang mencoba kabur dari Onrust. Tak semua berhasil. Ada yang harus meregang nyawa seperti prajurit AL Jerman bernama Freitag. Menurut sejarawan Jerman Herwig Zahorka, mereka yang pada awalnya memang ditugaskan di Indonesia pada era militer Jepang berkuasa (1942-1945) pada saat Perang Dunia II berakhir, diwajibkan untuk menyerahkan diri kepada pihak Sekutu.

Zahorka menyebut Werner dan Losche yang merupakan eks awak Kapal Selam U-219, pada akhirnya berhasil melarikan diri dari Onrust. Keduanya memutuskan bergabung dengan para gerilyawan Indonesia selepas mendarat di Jakarta. Selanjutnya, oleh Kolonel Zulkifli Lubis, keduanya ditempatkan di Ambarawa selaku instruktur militer untuk pelatihan intelijen Republik Indonesia.

John Edward

John Edward adalah letnan berkebangsaan Inggris dari Batalyon 6 South Wales Border Brigade 4 pimpinan Brigjen Ted Kelly. Pada 1946, Edward memutuskan membela Indonesia dengan bergabung bersama Batalyon B pimpinan Kapten Nip Xarim.

Setelah itu, Edward diterbangkan ke Aceh dan di sana ia menjadi penyiar bahasa Inggris Radio Rimba Raya. Kadang-kadang dia menjadi ajudan Komandan Divisi X Kolonel Husein Yusuf. Beberapa waktu kemudian, pangkatnya dinaikan menjadi kapten. Di kalangan gerilyawan Indonesia kawasan Sumatera, John Edward lebih dikenal sebagai Kapten Abdullah Inggris.

Muhammad TWH, jurnalis Medan yang mengetahui perjalanan hidup Edward, mengatakan, “Setelah memperistri perempuan Pematang Siantar, dia masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdullah Siregar. John Edward meninggal di Pematang Siantar pada tahun 1956 sebagai orang biasa yang hidupnya sangat sederhana."

Para prajurit ini berasal dari berbagai tempat dan memiliki riwayat yang berbeda-beda, namun dalam suatu masa mereka pernah mempertaruhkan segala yang mereka miliki untuk kemerdekaan Indonesia, negeri yang dengan satu atau berbagai cara telah membuat mereka jatuh cinta.

Dengan darah dan perjuangan, mereka membuktikan bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan penindasan di atas dunia harus dihapuskan.

Related Article