post

Current Affairs

Pawang Hujan dan Murahnya Harga ‘Ayat’ Tuhan

Ramadhan, 8 Februari 2018

Guys, adakah kerjaan yang lebih asyik dari makan mie instan pake cabe rawit, terus ngopi pas lagi hujan deras sore-sore? Ada, guling-guling selimutan di kasur sambil inget mantan. Hmm, gak juga, yang asyik sih ya mindahin hujannya lah biar lo gak mager mulu. Lho?

Hujan emang bikin kita males ngapa-ngapain, bikin gak pengen kemana-mana, cuma mau dimanja. Tapi, hal itu gak berlaku bagi pawang hujan, yang kerjaannya emang ‘berhentiin’ hujan. Cinta pawang hujan kepada hujan itu sangat besar, lebih hebat dari cinta Dilan ke Milea, percayalah.

Kalau Son Goku di Dragon Ball bisa dengan mudah memanggil dan memindahkan awan kintonnya dengan sekali teriakan, pawang hujan di Indonesia juga tak kalah tangguh. Meski tak bisa menaiki awan seperti Son Goku, tapi pawang hujan bisa menggeser awan beserta hujannya sekaligus! Keren gak tuh?

Di musim hujan seperti sekarang ini, kebutuhan atas jasa pawang hujan pun dijamin meningkat pesat untuk menggeser hujan di hajatan pernikahan, proyek bangunan, acara pemerintah, sampai event besar seperti konser musik. Kang pawang hujan pun laris manis bak Via Vallen dan Nella Kharisma yang gantian di-booking.

Ya iyalah, Vicky Prasetyo aja mau nyewa 4 pawang hujan kok biar pesta outdoor saat pernikahannya dengan Angel Lelga di Ancol, 10 Februari besok gak diguyur hujan. Tapi, walaupun bakal menyewa 4 pawang hujan, Vicky sendiri tetap pasrah karena mengaku gak bisa negosiasi sama takdir Allah, karena kalau hujan ya hujan. Kita doakan gak ada hujanisasi lah ya di pernikahanisasi-nya Vicky dan mbak Angel!

Kita mungkin udah gak asing dengan mekanisme kerja bapak-bapak pawang hujan yang ada di Indonesia, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Mulut komat-kamit, ngerokok, bahkan sampe ngelempar sempak ke atas genteng buat berhentiin hujan, wes biasa.

Berbeda dengan Bang Jayusman, pawang hujan asal Kampung Gunung, Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, yang punya gaya selow, rock n roll, dan banyak mantra saat bekerja ‘menaklukkan’ hujan. Bang Jayus bercerita panjang lebar dengan Asumsi.co di awal-awal Februari 2018 ini.

Gimana sih cara kerja Bang Jayus ngegeser hujan?

Bang Jayus bilang setiap orang sebener-nya bisa aja jadi pawang hujan, ngendaliin hujan sepertinya, tapi ya emang enggak mudah. Sosok pawang hujan dinilai harus punya hati dan kalbu yang bersih dari hal apapun agar permohonannya bisa dikabulkan.

Mekanisme kerja pawang hujan sendiri, kata Bang Jayus, itu banyak tahapannya, tiap-tiap pawang hujan punya metode masing-masing. Tapi kalau Bang Jayus sendiri pake cara simpel seperti 'datang, duduk, tawasul, minta kepada yang maha kuasa, melihat sekitar, lalu pulang'. Emak-emak dasteran lagi bawa motor juga bisa bang kalau kayak gitu doang mah. Eits, tunggu dulu, jangan ngegas dulu.

“Banyak orang jadi pawang hujan dengan berbagai mekanisme kerja. Mereka ada yang menggunakan bawang, cabai di tanam. Lalu, ada juga yang pake batu pengasahan di taruh di atas genteng, tapi juga ada ayat tertentu,” kata Bang Jayusman kepada Asumsi.co di Ciputat, Tangerang Selatan, Senin 05 Februari.

Gak tanggung-tanggung nih guys, Bang Jayus sih bilang beliau pake mantra ayat-ayat hasil kolaborasi dari 4 kitab lintas agama sekaligus. Wei ajib ya Bang Jayus, sekolah di mana sih beliau? Masak sih cuma mondok di pesantren doang?

Nah ayat tertentu itu dalam tradisi Betawi ada banyak. Kalau ayat abang sendiri itu kolaborasi antara Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur'an. Dasarnya itu adalah Al Qur'an, cuma Al Qur'an itu sebagai penyempurna karena bahasanya menggunakan bahasa malaqut,” jelas Bang Jayus.

Mekanisme itu sebenarnya mudah sekali, dengan tawasul kepada junjungan alam, tawasul kepada Sultan Aulia Syekh Abdul Qadir Jailani, tawasul kepada malaikat Mikail sebagai pemberi rezeki, baca surat Al Ikhlas 3 kali sambil tahan nafas. Bang Jayus menyebut kuncinya di situ.

Bang Jayus mengatakan bahwa ada beberapa syarat-syarat jadul yang masih berlaku kalau ingin memindahkan hujan. Beberapa di antaranya adalah ngelempar kutang atau celana dalam ke atas genteng kayak orang zaman dulu atau pasang garam sama bawang.

Eits, Bang Jayus sendiri udah gak pake cara jadul itu ya guys, yang pake ngelempar underwear, garam, bawang, atau apalah itu. Beliau menegaskan dirinya cuma bermodalkan fisik sehat karena berpuasa serta mental dan spiritual yang kuat.

“Apa dasarnya itu? Itu ada dasarnya semua. Cuma yang lebih ajib adalah jangan sampai hal itu menimbulkan syirik. Tipis lho ini antara pengen bantu orang berhentiin hujan atau syirik. Takutnya, nanti percayanya sama benda-benda itu lagi bukan karena izin Allah.”

Ternyata gak cuma sempak aja ya guys yang dilempar ke atas genteng, kutang juga boleh tuh. Tapi ngomong-ngomong, bapak-bapak yang pake cara jadul itu, dapet underwear buat dilemparnya dari mana ya?

Mantra yang biasa Bang Jayus baca apa sih?

Sudah, sudah, tinggalin dulu soal underwear buat syarat berhentiin hujannya. Bang Jayus punya mantra sendiri tanpa embel-embel menggunakan perkakas underwear dan kawan-kawannya. Apa sih bang mantranya?

“Kalau ayat purwa bahasanya bismillahirahmanirrahim aki anclang nenek anclang, jangan nganclang di ancak ancik, nganclang lah di gunung liwang liwung, jemeneng maring dewa,” kata Bang Jayus menyuarakan mantra tersebut dengan kecepatan maksimum.

“Nah artinya apa di liwang liwung, kalau mau hujan ya hujanlah di hutan di mana orang gak ada urusan, jangan di tempat orang yang lagi ada hajatan.”

Pada ngerti gak boy? Gak ya pasti? Sama, kita juga gak ngerti sama sekali. Hanya Bang Jayus dan Tuhan lah yang tau.

Bang Jayus bilang ada 5 tahapan sebelum mindahin hujan

Sebagai sosok yang religius, Bang Jayus yang punya perawakan dan bentuk badan mirip Agung Hercules itu, tak menampik kalau hujan itu rezeki dari sang maha pencipta. Untuk itu, kalau ingin sekedar ‘menggeser’ hujan saja, maka lakukanlah dengan cara baik-baik.

Cara baik-baik itu gimana caranya sih bang? Bang Jayus tak ingin aksinya menggeser hujan justru terkesan melawan kehendak Tuhan. Biar gak kualat dan ‘dikutuk’, Bang Jayus pake cara soft, serta lebih beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bang Jayus bakal memberi tahu kepada yang meminta bantuannya untuk sama-sama berpuasa di hari H saat acara digelar. Lalu, ia ingin keduanya sama-sama berdoa, meminta kepada Tuhan agar kalau boleh jangan hujan di tempat hajatan, tapi digeser sedikit ke tempat yang gak ada acara.

“Malaikat Mikail yang memberikan rezeki dan hujan itu ketentuan Allah. Cuma bagaimana makhluknya memohon dan meminta kepada yang punya,” terang Bang Jayus.

“Tahapannya itu ada 5 yakni yang pertama tau, kedua kenal, ketiga suka, keempat cinta, kelima rindu. Kelima hal itu ditujukan kepada sang pencipta. Kalau kelima hal ini masuk, insyallah haqul yakin di mana pun dan kapan pun kita minta pasti dikabulkan,” selorohnya.

Jadi segala sesuatu itu kalau kita benar-benar memohon dan meminta kepada sang pencipta, maka insyallah akan didengar. Bang Jayus menganalogikan kelima tahapan atau proses itu dengan situasi cowok yang berpacaran dengan ceweknya. Wah..

“Misalnya saja, ada seorang laki-laki punya kedekatan dengan salah satu perempuan. Nah, kalau laki-laki itu sudah kenal dekat dengan si perempuan, sudah tau, kenal, suka, cinta, dan rindu, begitupun sebaliknya, apa yang gak bisa dikasih? Apapun dikasih, kuncinya disitu. Analoginya seperti itu.”

Jelas ya guys, Bang Jayus jadi pawang hujan itu emang tak ingin melanggar ketentuan Tuhan. Beliau sadar segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Tuhan, jadi beliau memilih pake cara mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berdoa tanpa ritual sesajian, agar semua ‘proposal’ permintaannya di-approve, gitu lho guys. Negosiasi sama Tuhan segampang itu kok.

Resiko ‘perang’ sesama pawang hujan

Pekerjaan sebagai pawang hujan gak mudah lho guys, ada resikonya juga. Selain berpotensi gagal menghentikan hujan saat berlangsungnya event besar seperti konser musik, atau saat mengawal proyek pembangunan infrastruktur, kredibilitas dan nama besar si pawang hujan juga dipastikan bakal runtuh.

Belum lagi tantangan menghadapi kekuatan sesama pawang hujan lainnya yang bekerja di saat yang sama, namun di tempat yang berbeda. Bang Jayus pernah ngerasain dapet kiriman hujan di wilayah kerjanya dari kolega seprofesinya. Tapi, Bang Jayus tetep aja santai.

Nah, orang-orang yang paham akan hal itu atau para pawang hujan, hujannya di geser terutama di setiap ada acara event besar, acara di mall-mall, dan lain-lain, itu mereka pasti pakai cara itu (menggeser hujan). Misalkan, ada yang geser hujannya ke selatan, lalu yang dari selatan geser hujannya ke utara, kan jadinya beradu.”

Perlu diketahui, saat terjadinya ‘perang’ sesama pawang hujan, satu tanda yang akan muncul adalah munculnya awan yang berputar-putar dari satu lokasi ke lokasi yang lain di zona yang sama. Nah, kalau udah begitu, siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang?

Ternyata, hujan akan turun di tempat pawang hujan yang memiliki kekuatan paling lemah, itu berarti pawang hujan yang doanya kurang nampol dipastikan bakal kalah. Ya mirip-miriplah kayak kejadian Chelsea dibantai Watford dengan skor telak 1-4 di Vicarage Road Stadium pada 6 Februari kemarin.

Saat itu, Watford dengan kekuatannya yang luar biasa sukses mempermalukan Chelsea yang lembek, si juara bertahan Liga Primer Inggris. Jangan ada yang debat ya soal ini. Skor telak gak bisa bohong kan? Itu fakta, jadi clear. Sepakat? Case closed ya.

“Di sini usaha dan doa siapa yang bakal dijabah oleh Allah? Tentu yang tau, yang kenal, yang suka, yang cinta, dan yang rindu kepada Allah dan rosulnya. Itulah yang dijawab dan menang.”

Berapa ya tarif sekali pake jasa Bang Jayus?

Banyak yang bilang pawang hujan itu punya penghasilan yang lumayan tinggi. Seperti obrolan Asumsi.co dengan putra salah satu pawang hujan rekannya Bang Jayus (gak mau dicantumin namanya, tapi sebut aja ‘Bejo’) di kampung yang sama, memang bayaran jasa pawang hujan tuh gede banget.

Bejo bilang bayaran jasa pawang hujan untuk durasi waktu 2-3 jam ada pada kisaran Rp 1 juta. Lalu, jika memakai jasa si pawang hujan dengan durasi 5-6 jam, maka bayarannya ada di angka Rp 2 juta. Itu pun tergantung event atau acara apa yang sedang berlangsung.

Sayangnya untuk bayaran per event atau acara tertentu seperti mengawal pembangunan infrastruktur, si Bejo gak mau ngebocorin daftar bayarannya. Doi bilang gak enak ngebongkar ‘rahasia negara’ lantaran bapaknya aja gak mau saya wawancara.

Berbeda dengan Bejo yang masih mau sedikit berbagi informasi soal tarif jasa pawang hujan, Bang Jayus malah agak sensitif waktu diajak ngomongin soal bayaran. Bang Jayus yang saat ditemui berkaus hitam ketat, seketat jersey-nya Timnas Kamerun dengan sponsor Puma di Piala Dunia 2014, menyebut dirinya tak mematok bayaran resmi.

“Saya pernah diminta kontrak dengan Event Organizer (EO), tapi saya gak mau. Saya itu nolong, tapi saya cukup di belakang layar. Saya minta tolong rahasiakan nama saya, kalau nanti nama saya yang muncul, itu bisa memunculkan 3 unsur yaitu ujub, riya dan takabur.”

Bang Jayus bilang sama sekali gak mematok bayaran. Setiap kali ia diminta mengendalikan hujan, maka hal pertama yang ia lakukan adalah fokus agar hujan gak turun di tempat si yang punya hajatan agar acaranya pun berjalan lancar.

Memang banyak yang memberikan amplop berisikan uang, namun seringkali Bang Jayus menolak. Jika memang yang punya hajatan memaksa agar uang bayaran tersebut diterima, maka Bang Jayus akan menerimanya dengan tangan terbuka sebagai rezeki dari Tuhan.

Ayat Tuhan kok dijual murah amat tong!

Bang Jayus pun tak main-main soal profesinya sebagai pawang hujan. Sekali lagi Bang Jayus menegaskan bahwa dirinya tak meminta untuk dibayar dan tak terlalu peduli dengan bayaran, sehingga seberapa pun dikasih maka itulah rezekinya.

“Tapi, sekali lagi saya mohon maaf, beberapa kali saya diminta sama EO untuk dikontrak dalam proyek besar, saya tolak. Waduh dalam hati saya kok Allah mau dikontrak, yang benar aja,” tegas Bang Jayus mengulangi pernyataannya yang pertama.

“Kan sudah saya bilang, kalau saya minta angka ke orang-orang yang minta digeser hujannya, nanti pasti bakal muncul ujub, riya, takabur. Kalau ada yang nanya berapa biayanya? Saya bilang wallahi, saya kenal Anda dan Anda kenal saya, mari saya bantu.”

Bang Jayus yang menyebut dirinya sebagai lulusan S. Ag, bukan Sarjana Agama ya guys tapi Sarjana Alam Gaib itu, punya alasan yang cukup kuat untuk tak meminta upah dari hasil kerja kerasnya. Ia gak mau ayat Tuhan yang tak ternilai itu malah dihargai sebegitu murahnya dengan uang yang dalam sekejap bisa habis dan lenyap.

“Kalau kita lihat dari tawaran EO itu ada angka (uang) yang sangat besar. Nah, adanya angka atau nominal (uang) besar itu, tapi kok ayat Allah dijual murah banget ya. Pawang hujan kok malah dibayar sekian, murah banget ayat Allah dijual.”

“Ayat Allah itu mahal lho, gak bisa dibayar pake uang. Tapi kalau kita dengan ikhlas, jangan pake angka (tarif), seikhlasnya yang bersangkutan, maka hal itulah yang harus kita kedepankan.”

Jadi, Bang Jayus akan terus memegang teguh prinsip bahwa hujan adalah nikmat dan rezeki Tuhan, maka wajib diperlakukan secara bijak. Apakah pantas pawang hujan yang sudah menggeser hujan (berarti ‘menolak’ rezeki) semaunya, lalu ‘menjual’ murah ayat Tuhan dengan mematok bayaran?