Pasca Kecelakaan JT-610, Lion Air Belum Berbenah

Moda transportasi udara seringkali dianggap sebagai moda transportasi paling aman di dunia, lebih aman dari kereta ataupun bus. Meskipun begitu, perusahaan maskapai penerbangan tidak semuanya telah memberikan yang terbaik dalam pelayanannya. Jelas, ada beberapa maskapai penerbangan kelas atas yang pelayanan dan keamanannya mendapatkan penilaian yang begitu tinggi. Di sisi lain, masih ada beberapa maskapai penerbangan yang dikategorikan sebagai Low-Cost Carrier (LCC) yang keamanan dan pelayanannya masih belum baik. Di Indonesia, salah satu maskapai tersebut adalah Lion Air.

Baca juga: Sering Bermasalah, Sanksi Apa yang Pantas Diterima Lion Air?

Lion Air seringkali dianggap sebagai maskapai penerbangan yang terjangkau untuk seluruh kalangan. Dengan tagline “We Make People Fly”, Lion Air berusaha menyajikan pelayanan pesawat yang dapat diakses oleh seluruh kalangan, tidak hanya kalangan kelas menengah ke atas saja. Meski begitu, seringkali pelayanan dikompromikan.

Pasca insiden pesawat JT-610, Lion Air belum berbenah. Itu lah nampaknya kata-kata yang bisa diutarakan jika melihat bagaimana kualitas pelayanan Lion Air. Kecelakaan jatuhnya pesawat JT-610 seharusnya menjadi tamparan keras untuk Lion Air agar segera berbenah memperbaiki pelayanannya. Sebagai salah satu maskapai yang diandalkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, kualitas pelayanan Lion Air pasca jatuhnya JT-610 masih menemui beberapa permasalahan yang pada akhirnya semakin membuat nama Lion Air buruk. Berikut beberapa permasalahan Lion Air yang terjadi pasca pasca kecelakaan tersebut.

JT-556 Rute Jakarta-Yogyakarta Alami Masalah Pendingin Udara dan Lampu

Salah satu permasalahan hadir ketika pesawat JT-556 Jakarta-Yogyakara mengalami masalah pendingin udara dan lampu yang mati. Hal ini terjadi Kamis (15/11) malam. Parahnya, kondisi ini terjadi ketika penumpang semuanya telah masuk ke dalam pesawat. Dilansir dari CNNIndonesia.com, Corporate Communication Strategic Lion Air, Danang Mandala Priantoro, mengatakan hal ini berkaitan dengan permasalahan Auxiliary Power Unit (APU). Pukul 21.00, APU yang menyediakan sumber energi pesawat saat mesin berputar mengalmai penurunan daya sehingga menyebabkan sistem pendingin dan listrik pesawat terganggu.

Gagal Terbang Saat Take-Off

Lain pesawat JT-556, lain pula masalah yang dialami pesawat JT-561. Permasalahan lain terdapat pada pesawat Lion Air nomor penerbangan JT-561 di Bandara Internasional Adi Soemarno, Solo, pada Jumat, 16 November 2018. Permasalahan yang dihadapi cukup signifikan, yaitu gagal terbang. Pesawat Boeing 737-900ER ini gagal terbang setelah berpacu di landasan pacu. Meskipun pemeriksaan sebelum terbang sudah dilakukan dan dinyatakan laik terbang, pilot tak ingin ambil risiko untuk menerbangkan pesawat tersebut dan memilih untuk membatalkan lepas landas ketika posisi pesawat sudah berada di ujung landas pacu. Benar adanya, pemeriksaan yang dilakukan teknisi ternyata ditemui fakta bahwa pesawat membutuhkan komponen pengganti dari Jakarta.

Pesawat Medan Kualanamu Menuju Jakarta Mati Lampu

Penerbangan yang juga dilakukan dengan pesawat Boeing 737-900ER ini pun mengalami permasalahan yang mirip dengan JT-556. Kejadian mati lampu pesawat Lion Air ini terjadi pada hari Minggu (18/11) kemarin. Permasalahan ini terjadi ketika proses penumpang masuk dalam pesawat sudah selesai, namun pesawat belum diterbangkan. Serupa dengan kejadian JT-556, pesawat ini juga mengalami penurunan daya dalam pesawat yang menyebabkan sistem listrik pada kabin terganggu.

Sayap Pesawat Robek Tabrak Tiang Lampu

Di tanggal 7 Oktober 2018 kemarin, 143 penumpang pesawat Lion Air tujuan Jakarta dari Bengkulu terlantar lantaran sebelum terbang, pesawat menyenggol tiang lampu di Bandara Fatmawati hingga sayap pesawat robek. Dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa. Namun, jadwal penerbangan jelas menjadi mundur jauh karena menunggu pesawat yang diterbangkan dari Jakarta untuk menjemput para penumpang yang ada di Bengkulu.

Related Article