Partai Berkarya dan Rahasianya Kejutkan Pemilu 2019 dengan 2,11 Persen Suara

Partai Berkarya, salah satu partai baru peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 tampil cukup menjanjikan pada kontestasi politik lima tahunan tersebut. Berdasarkan hasil quick count atau hitung cepat sementara Litbang Kompas, Kamis, 18 April 2019, Partai Berkarya berhasil mengumpulkan total 2,11 persen suara nasional. Sebagai partai baru, data suara yang mereka raih itu bukan sekedar angka saja, tapi juga pencapaian.

Dalam catatan quick count atau hitung cepat Litbang Kompas, Partai Berkarya bahkan berhasil mengungguli beberapa partai baru. Yang mengejutkan lagi, partai pimpinan Tommy Soeharto itu juga sukses berada di sejumlah partai lama dalam hal perolehan suara. Secara peringkat, kira-kira begini posisi Partai Berkarya di Pemilu 2019 berdasarkan quick count Litbang Kompas dengan jumlah suara yang masuk mencapai 87 persen:

1.PDI Perjuangan 20,22 persen
2.Partai Gerindra 12,82 persen 
3.Partai Golkar 11,71 persen
4.PKB 9,39 persen
5.PKS 8,56 persen 
6.Partai NasDem 8,13 persen
7.Partai Demokrat 8,09 persen 
8.PAN 6,57 persen
9.PPP 4,65 persen
10.Partai Perindo 2,85 persen
11.Partai Berkarya 2,11 persen
12.PSI 2,03 persen
13.Partai Hanura 1,34 persen
14.PBB 0,76 persen
15.Partai Garuda 0,53 persen
16.PKPI 0,22 persen

Dari daftar tersebut, Partai Berkarya setidaknya berhasil mengungguli tiga partai lama seperti Hanura, PBB, dan PKPI. Atas raihan suara tersebut, Partai Berkarya pun dianggap sebagai salah satu partai baru potensial. Meski belum banyak bicara di Pemilu 2019, partai yang identik dengan warna kuning ini dinilai bisa tampil lebih baik di Pemilu 2024 mendatang.

Lalu, apa rahasia strategi dari Partai Berkarya sendiri sehingga berhasil mencapai angka suara yang cukup baik sebagai partai baru? Sebagian besar tentu ada pengaruh nilai-nilai Soeharto yang selalu digaungkan Partai Berkarya selama proses memperkenalkan diri dengan masyarakat.

Partai Berkarya Terapkan Strategi ‘Menjual’ Sosok Soeharto

Hari ini, Kamis, 18 April 2019 atau sehari setelah pencoblosan di Pemilu 2019 selesai dilaksanakan, pendiri sekaligus Ketua DPP Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang berbincang dengan Asumsi.co soal kiprah partainya di Pemilu 2019. Badaruddin pun membeberkan strategi yang mereka lakukan hingga untuk sementara berhasil meraih total 2,11 persen suara secara nasional.

Badaruddin mengakui bahwa Partai Berkarya memang konsisten ‘menjual’ sosok Soeharto, karena partai ini dipimpin oleh putra dari Presiden RI ke-2 tersebut yakni Tommy Soeharto. Selama masa kampanye, Partai Berkarya memang mengidentikkan diri dengan sosok Soeharto. Segala pencapaian Soeharto kembali disampaikan ke masyarakat dan Partai Berkarya berjanji untuk mengulang kesuksesan yang sama dengan menghidupkan kembali pemikiran Soeharto.

“Kita tetap ikut tahapan sesuai dengan aturan KPU ya. Partai Berkarya selaku partai baru memang di masa-masa kampanye lalu itu kita tetap fokus menjual sosok Pak Soeharto ya. Keyakinan partai ini sejalan dengan pemikiran-pemikiran beliau, keberhasilan beliau di masa pemerintahannya,” kata Badaruddin saat dihubungi Asumsi.co, Kamis, 18 April 2019.

Sosok Soeharto dan anak-anaknya juga punya pengaruh penting bagi kiprah Partai Berkarya di Pemilu 2019. Menurut Badaruddin, anak-anak Soeharto juga bekerja keras untuk membesarkan Partai Berkarya. Selain memang, Partai Berkarya juga terus meyakinkan masyarakat dengan sejumlah pencapaian Soeharto.

“Buktinya anak-anak Pak Soeharto ada di Partai Berkarya dan jelang pemilihan, mereka-mereka aktif turun ke lapangan. Faktor keberadaan mereka ya lumayan, karena memang basis-basis suara kita ada di daerah-daerah transmigrasi, di daerah-daerah yang dampak pembangunan zaman Pak Soeharto itu ada dan kelihatan, jadi mereka merasakan,” ucapnya.

Program Unggulan Soeharto yang ‘Dijual’ Partai Berkarya

Lebih lanjut, Badaruddin mengungkapkan bahwa Partai Berkarya memang benar-benar memiliki ruh dan semangat dekat dengan rakyat, persis seperti apa yang sudah dilakukan Soeharto saat memimpin Indonesia. Bahkan, Partai Berkarya juga tak menampik jika mereka bakal menerapkan program-program pro rakyat seperti di era Soeharto dulu.

“Yang jelas partai ini akan pro rakyat, akan banyak program-program yang langsung menyentuh ke masyarakat. Contoh misalnya di pertanian, kita sudah ada program pertanian terpadu Partai Berkarya, sudah ada contohnya di Sentul kita buat, ada di sejumlah titik di kabupaten juga kita buat, dengan luas tanah yang sedikit tapi di dalamnya ada kegiatan pertanian terpadu bahkan hasil pertanian dan peternakannya itu bisa diolah secara mandiri dan sesuai kebutuhan saat ini dengan teknologi yang memadai kan.”

Badaruddin pun mengatakan bahwa program-program itu sudah diterapkan di daerah-daerah pertanian begitu pula dengan potensi ekonomi lainnya. Partai Berkarya juga membanggakan toko grosir Goro (gotong royong) yang disebut bakal menjadi elemen penting ekonomi kerakyatan.

Menurut Badaruddin, Goro dalam beberapa bulan ini sudah bergerak dan melibatkan kader Partai Berkarya secara struktur di kabupaten dan kota. Nantinya, Goro juga akan dibangun di setiap kabupaten dan kota, di mana akan mempertemukan pihak petani, atau pengadaan barang atau produsennya dengan penjual di lapangan. “Seperti toko lah tapi ini harga murah terjangkau dan memihak kepada rakyat.”

“Ini tentu berdasarkan program-program unggulan yang pernah dilakukan di zaman Pak Soeharto, ada opsi diterapkan di zaman saat ini, bagaimana program itu terarah dan terukur lewat trilogi pembangunan Pak Soeharto, stabilitas keamanan, perekonomiannya berjalan dan bertumbuh, kemudian pemerataan pembangunan di mana-mana, itu payungnya.”

Dalam hal ini, secara mikro, Partai Berkarya akan lebih banyak menerapkan program-program yang menyentuh langsung masyarakat. Misalnya dengan memberdayakan masyarakat difabel agar bisa bekerja dan bisa mendapatkan peluang yang sama dengan orang-orang lain. Nantinya bisa saja mereka direkrut sebagai karyawan di Goro.

“Lalu, anak-anak muda dan milenial, kita buatkan program-program yang bisa masuk dan misalnya nanti kita buat perusahaan-perusahaan yang bisa jadi start up yang bisa mengikuti perkembangan zaman saat ini.”

Pencapaian di Pemilu 2019 Jadi Modal Penting Partai Berkarya

Badaruddin pun optimistis Partai Berkarya bisa berbicara banyak di Pemilu 2024, lima tahun mendatang. Hal itu tentu berkaca dari hasil hitung cepat sementara di Pemilu 2019 yang menempatkan Partai Berkarya sebagai salah satu partai baru dengan perolehan suara yang cukup baik.

“Memang banyak yang bilang Partai Berkarya potensial. Di sejumlah survei-survei sebelumnya kan kita selalu di bawah Hanura dan PSI, tapi kenyataannya sekarang kita berada di atas kan. Artinya partai ini diterima di masyarakat,” ujar Badaruddin.

Catatan angka sebesar 2,11 persen itu pun dianggap sudah cukup baik mengingat Partai Berkarya baru sekitar dua tahun muncul ke publik. Partai Berkarya pun akan terus melakukan pembenahan sumber daya manusia (SDM) agar bisa tampil lebih baik di masa mendatang.

“Sekarang kita juga punya modal untuk Pilkada karena caleg-caleg kita di kabupaten dan provinsi insya allah ada yang jadi. Walaupun di pusat ini belum pasti dan selesai ya karena kan perhitungan manual belum selesai ya, bisa jadi kita lolos dan bisa jadi juga kita tidak lolos kalau berdasarkan quick count itu kan.”

“Yang jelas partai ini tetap ada, kalau toh di Pemilu 2019 ini kita belum bisa masuk Senayan, ya kita usahakan di Pemilu 2024, insya allah Partai Berkarya masuk.”

Related Article