Panduan Hari Raya: Kenyang, Glowing, dan Nggak Merasa Bersalah

Sudah berhari-hari koperku menganga di lantai kamar. Aku memilih ini dan itu dan ini dan itu buat kubawa mudik, tetapi semuanya masih di tempat masing-masing. Biasanya berkemas bukan persoalan, namun hari-hari ini aku merasa bersalah kalau memandangi seisi kamar. Bagaimana piyama ini, serum-serum ini, speaker yang bisa dibawa-bawa ini nanti mempengaruhi penilaian orang terhadapku? Aku bahkan mencoba menerapkan aturan sederhana. Semua yang membuatku terkesan boros: keluar. Sebaliknya: masuk. Sisanya kusiapkan buat benda-benda yang harganya lumayan tapi orang lain tidak bakal menyadarinya--sampo bebas paraben dan parfum Diptyque share-in-bottle, misalnya.

Idulfitri seharusnya merupakan hari untuk bermaaf-maafan, untuk mulai dari awal, untuk berbagi dan merayakan bermangkuk-mangkuk opor ayam bersama keluarga. Namun, kenyataannya, ia juga hari untuk bertukar basa-basi sampai kepala pengar, untuk berpura-pura--lebih dari hari-hari lain sepanjang tahun. Bagiku, tantangannya bukan hanya menghindari topik-topik sensitif seperti pilihan dalam pemilu kemarin atau bagaimana aku tidak menikah tapi betul-betul berbahagia.

Aku menyadari keruwetan ini untuk pertama kali saat berumur 18 tahun, atau pada lebaran sembilan tahun lalu. Kami sedang menuju rumah nenekku dari pihak ayah, di Jakarta, setelah salat Idulfitri--kewajiban keluarga besar kami. Saat aku hendak turun dari mobil, ibuku berbalik dan berkata, "Kalau ada yang tanya, bilang itu hadiah, ya." Aku tidak mengerti maksud ibuku, dan dari wajahnya, ia kelihatan ogah-ogahan, bahkan nyaris malu, untuk mengulangi permintaannya.

"Itu... tasnya," katanya menjelaskan. "Kalau ada yang tanya, tas itu hadiah dari klien Ayah. Oke?" Aku mengangguk lemah, tidak tahu mesti bilang apa. Rasanya seperti disemangati di depan pintu pengadilan.

Hanya itu yang kupikirkan seharian. Itu dusta yang lumayan rinci, maka aku sibuk membayangkan berapa lama ibuku menyiapkan pembenaran untuk tas-tas baru yang menggelayut di tangan-tangan kami. Selain itu, yang utama, aku memikirkan kenapa ia merasa perlu berbohong.

Ibuku tak perlu khawatir, sebab pada akhirnya tak ada yang bertanya. Dan bukankah sewajarnya begitu? Namun, melompat ke 2019, aku paham bahwa  itu perkecualian yang jarang terjadi alih-alih kewajaran. Saudara-saudaraku bisa saja bertanya dari mana aku mendapatkan tas yang kupakai, dan kalau jawabanku lain dari yang disiapkan ibuku, mereka bakal bertanya berapa harganya. Setelah itu, mereka bakal meragukan kewarasan finansial kedua orangtuaku selaku bagian dari kelas menengah kepepet, atau malah langsung menjatuhkan vonis: dasar tukang berfoya-foya™.

Hari ini, aku ada di posisi orangtuaku.

Aku seorang perempuan 27 tahun dengan pekerjaan tetap. Setelah menyisihkan sebagian gajiku untuk tabungan dan kiriman ke rumah, aku senang memanjakan diri... tapi kemudian merasa cemas bukan main.

Tak hanya karena sekarang Idulfitri--aku sebetulnya merasakan kecemasan ini setiap hari. Jika ada teman yang memuji pakaianku, misalnya, aku pasti bilang aku mendapatkannya dengan harga murah. Seandainya aku dan teman-temanku makan malam sehabis gajian dan ada yang bilang tempatnya borju banget, meski cuma bercanda, aku bakal merasa tak nyaman sekalipun mengerti bahwa dia tidak sedang meledek gaya hidupku. Kurasa libur lebaran melipatgandakan kecemasan itu karena ia membuat orang-orang yang jarang ketemu berkumpul cukup lama di ruangan yang sama, berharap bisa memulihkan kedekatan, menyiasati waktu bersama yang sebelumnya tak pernah ada. Sayangnya, usaha itu kerap diterjemahkan menjadi banyak sekali pertanyaan yang mengganggu dan pendapat lancang mengenai hal-hal yang paling terlihat dari satu sama lain.

Dan, ternyata, orang-orang senang membuatmu merasa bersalah kalau kau menjalani hidup dengan layak. Coba lihat bagaimana infografik Kumparan ini menyalahkan keputusan-keputusan finansial kita sekaligus menjadikan perempuan sasaran olok-olok: “aku laper tapi aku tetep glowing.

Tapi okelah, mari lupakan sejenak bahwa ruang redaksi mereka memelihara seksisme terang-terangan. Membandingkan pangan secara langsung dengan toner dan pelembab jelas keliru dan mencerminkan kemalasan. Perempuan telah dan akan terus membeli makanan dan perlengkapan perawatan kulit, dan pelabelan semena-mena seperti yang mereka lakukan hanya memiskinkan kompleksitas seorang manusia yang memiliki pertimbangan-pertimbangan "utilitarian" sekaligus "hedonic."

Barangkali aku yang seharusnya tak berharap banyak, mengingat kita hidup di masyarakat yang para pejabatnya yakin bahwa para istri koruptor juga bersalah, dan sekali lagi menampilkan perempuan sebagai Hawa yang liar dan ngaco, yang terus-menerus menggoda pasangannya untuk berbuat dosa.

Tak hanya perempuan (yang sejak dulu disalah-salahkan terus), masyarakat bahkan menaruh seluruh generasi kita di bawah mikroskop. Tak sekali dua "Milenial" digambarkan ceroboh dalam mengatur uang, menghambur-hamburkan uang untuk roti panggang alpukat, Starbucks, dan staycation, sehingga tak sanggup membeli rumah. Kita terlalu sering dituduh menyia-nyiakan sedikit uang yang kita punya untuk hal-hal yang kurang berharga alih-alih menabung--atau lebih baik lagi--menginvestasikannya agar kelak bisa hidup lebih nyaman.

Kenyataannya, ada sangat banyak faktor lain yang menentukan mobilitas ekonomis kita selain beternak uang lewat tabungan. Di antaranya: di mana kita sekolah, siapa saja teman-teman kita, seberapa besar modal kultural, pengaruh semasa tumbuh dewasa, apakah kita punya pekerjaan, dan kesehatan kita dan keluarga masing-masing. Beberapa hal berada di luar kendali kita dan kadang kita hanya dapat memainkan kartu yang kita punya. 

Lagi pula, gagasan "bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian" meleset jauh dari kenyataan, sebab dalam kenyataan tak ada yang dapat menjamin apakah kesenangan itu benar-benar akan datang. Kalaupun ya, tak ada yang tahu kapan.

Neurosaintis Joseph W. Kable dari University of Pennsylvania, yang banyak meneliti soal pengambilan keputusan, berkata kepada New York Times: "Ada banyak keadaan, mungkin malah sebagian besar keadaan di dunia nyata, di mana semakin lama bersusah-susah justru menandakan kesempatan bersenang-senang semakin redup." Kupikir kita sudah di jalan yang benar. Kita bekerja, menabung semampunya, dan bersenang-senang sesekali--ketimbang ngotot mempertaruhkan seluruh waktu yang kita punya buat menunggu kereta yang mungkin takkan tiba.

Dalam kasusku, kalau aku menabung segiat-giatnya dan benar-benar mengencangkan ikat pinggang, mungkin kereta itu akan tiba lima belas tahun lagi dan aku mendapatkan hadiahku, kesenanganku, dalam bentuk rumah mungil di pinggiran Jakarta. Itu pun kalau aku cukup beruntung, toh pengalaman membuktikan bahwa tak jarang hal buruk terjadi dan tabunganku terpaksa maju selangkah mundur dua langkah.

Jadi, kenapa tidak membeli kesenangan selagi mampu? Seporsi makanan lezat setelah gajian, celana panjang yang nyaman, dan skincare--kemewahan-kemewahan kecil itu menjamin kewarasanku. Benda-benda itu membantuku menjelajahi dunia yang morat-marit dan penuh ketidakpastian ini, membuatku sanggup menoleransi kegilaan harian dan bayangan bahwa aku mungkin harus bekerja seumur hidup. Dan kita tak perlu menunggu segalanya tercukupi untuk "memanjakan diri" dengan kegembiraan-kegembiraan kecil. Tekanan agar kita tak membeli apa pun selain kebutuhan dasar sebelum kita "mapan" sungguh tidak manusiawi. Sebagaimana golongan 1%, kita juga punya hasrat untuk menyenangkan diri. Dan seperti mereka, kita pun berhak berbahagia.

Sejam yang lalu, aku akhirnya bergerak untuk mengemas koper--kali ini tak cuma dalam pikiran--dan memutuskan untuk membuang aturanku keluar jendela. Aku memasukkan semua benda yang kubutuhkan dan kusukai ke koper, untuk sepekan penuh di Cirebon. Saat kalian membaca tulisan ini, aku mungkin sedang di rumah nenekku, menikmati opor ayam, mangkuk kedua. Dan kalau ada yang bertanya berapa harga pakaianku, tasku, sepatuku... aku akan mengatakan yang sebenarnya. Dan yang terpenting, aku akan bilang kepada ibuku: tidak apa-apa, kita layak mendapatkan semua ini.

Related Article