post

Current Affairs

Pandemi Adalah Waktu yang Tepat Untuk Merayakan Teman-Temanmu

Raka Ibrahim, 27 April 2020

“Bisa tetap waras saja sudah jadi pencapaian tersendiri. Nggak usah melihat terlalu jauh,” kata psikolog saya.

Seperti biasa, saat dia mulai berpetuah, saya cuma bisa manggut-manggut. Ini sesi konseling pertama kami setelah dua bulan absen. Tiap kliennya memproses trauma akibat pandemi dengan cara berbeda. Namun, satu hal mempersatukan kami: perasaan bahwa wabah ini merenggut mimpi dan rencana masa depan kami.

Seorang kawan berencana merekam album barunya tahun ini. Kawan lain ingin menyongsong band kecintaannya di benua seberang, lantas mengejar beasiswa ke luar negeri. Saya sendiri punya sasaran yang kelewat ambisius: merampungkan setidaknya dua proyek buku.

Semua berubah setelah pagebluk menyerang. Kini, saya dikerubungi rencana yang berantakan dan kesempatan yang pupus. Cerita kekecewaan datang saban hari. Namun, psikolog saya benar. Barangkali ini momen yang tepat untuk menangguhkan mimpi-mimpi berkilauan khas kelas menengah dan fokus pada langkah-langkah kecil.

Setelah syok akibat pandemi agak reda dan kita perlahan beradaptasi dengan normal yang baru, saya mulai melihat kabar gembira. Rupanya, kita sanggup bersiasat.

Semakin banyak orang menemukan cara untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan. Kerap kali, prakarsa tersebut tak didorong oleh ambisi besar atau muatan konseptual yang rumit, tetapi semata kehendak tulus untuk menyalurkan energi kreatif dan terhubung dengan orang lain. Upaya-upaya kecil saja, sederhana, namun terasa berharga.

Penulis Gladhys Elliona, misalnya, memulai inisiatif cerdik "Sahabat Pena Ketika Karantina." Setiap orang diajak untuk memperkenalkan diri dan menceritakan keresahan selama karantina lewat korespondensi. Gladhys dan kawan-kawannya mengambil peranan mak comblang yang menjodohkan seorang pesurat dengan sahabat penanya.

Lebih seru lagi, para peserta tak boleh bertukar nomor ponsel atau akun medsos. Percakapan mesti dilakukan lewat surel saja, layaknya orang-orang di zaman dulu. Hingga putaran kedua "Sahabat Pena Ketika Karantina," Gladhys dan kawan-kawan sudah menjodohkan lebih dari 433 orang.

Hasrat untuk berbagi cerita juga disalurkan oleh fotografer yang berbasis di Jakarta, Rukii Naraya. Selama dua pekan karantina, ia memotret dan mengobrol dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Rukii menanyakan apa yang mereka rasakan selama pandemi COVID-19 berlangsung. Rencananya, foto dan obrolan mereka bakal dipamerkan secara virtual pada 2 Mei 2020 nanti.

Kawan-kawan dari toko buku independen POST Santa pun mengabarkan banyak inisiatif yang apik selama pandemi ini. Intersastra, misalnya, memulai serial cerpen, puisi, dan esai personal dengan judul besar "Unrepressed."

Aris Rahman P. Putra menginisiasi proyek "COVID-20," kompilasi 39 cerpen bertema pascaapokalips karya para penulis muda di berbagai wilayah Indonesia. Saya dan kawan saya, Dymussaga, memprakarsai "Kisah Kilat Kiamat," proyek fiksimini mingguan dari para pengarang di seluruh Indonesia.

Tak sedikit pula inisiatif cemerlang yang memadukan kesenian dengan solidaritas. Seniman dan pembuat zine veteran Ika Vantiani memulai proyek kolase "Puan Bantu Puan." Untuk setiap karya kolase yang kamu pesan kepadanya, ia akan mendonasikan Rp100.000 untuk kawan-kawan transpuan yang membutuhkan. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai perias salon, pengamen, atau pekerja seks, dan pandemi menghantam mereka lebih keras dari siapa pun.

"Puan Bantu Puan" bekerja sama dengan #BantuanUntukWaria, inisiatif Queer Language Club yang menyalurkan bantuan untuk puluhan transpuan rentan di wilayah Jakarta Barat dan Bali. Mereka telah mengelola dana bantuan publik senilai puluhan juta rupiah. Di antara banyak penerima manfaatnya, dua transpuan telah dimodali untuk bikin usaha kuliner kecil-kecilan.

Musisi Rully Shabara juga punya upaya asyik. Ia menawarkan jasa menggambar potret. Gratis, dengan satu syarat mudah: peserta harus berjanji menanggung makan atau sembako satu orang teman atau tetangganya yang kesulitan di masa pandemi selama satu hari. Rully bahkan tidak meminta peserta mengirimkan bukti. Semua didasari rasa saling percaya.

Sudah hampir sebulan Rully memulai inisiatif tersebut, dan puluhan potret telah digambarnya. Artinya, ada puluhan orang yang ruwet hidupnya selama pandemi kenyang setidaknya selama sehari. Kini, Rully dan beberapa kawan musisi di Yogyakarta melangkah lebih jauh. Mereka menginisiasi #SamaSamaMakan, gerakan yang menghimpun dan menyalurkan dana untuk pekerja kreatif lokal yang terdampak pandemi. Kabar terbarunya, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 9 juta rupiah dan ratusan kilogram sembako.

Apa-apa yang dilakukan Ika dan Rully adalah politik. Tepatnya politik dalam keseharian. Mereka memberi contoh bagaimana solidaritas dapat dimulai dari inisiatif kecil, sebelum bekerja sama dengan gerakan yang lebih besar dan terorganisir.

Kios Ojo Keos pun menemukan cara untuk bersiasat. Ruang mandiri yang digagas oleh para personel band Efek Rumah Kaca itu meluncurkan banyak program baru selama pandemi. "Program Masak Keos: menampilkan teman-teman Efek Rumah Kaca yang memasak di rumah bersama para pemirsa. Serial diskusi "Ngobrol Keos Dari Rumah" jadi harta karun buat siapa saja yang butuh perspektif kritis soal pandemi ini.

Acara "Baca Karya" mendekatkan para penulis, di antaranya Ratih Kumala dan Kezia Alaia, dengan para pembaca mereka. Program musik "Show Keos" pun berjalan terus, dan menampilkan musisi-musisi beken seperti Zeke Khaseli, Ananda Badudu, hingga Tashoora.

Melihat inisiatif hebat dari berbagai orang di luar sana membuat hati saya agak tenang. Benar, upaya-upaya itu mungil dan sederhana saja. Namun, untuk sementara waktu, kita mesti merayakan setiap riak di lautan. Mungkin saya dan teman-teman saya tidak perlu merekam album, mengejar beasiswa, atau menulis dua buku sekaligus seperti rencana di awal tahun. Saya dapat merasa gembira hanya dengan memulai dan menikmati kebaikan orang-orang di sekitar saya.

Mungkin beberapa kebiasaan dan kesadaran baik yang sedang kita pelajari kembali dapat bertahan melampaui pagebluk ini. Mungkin pemahaman kita tentang kerentanan akan terus melekat dalam benak. Kita terpikir lagi soal bagaimana setiap manusia sebenarnya saling terhubung, terikat, membutuhkan. Dan bahwa pada akhirnya, yang kita miliki adalah satu sama lain.

Ternyata, musisi favoritmu cuma manusia biasa yang butuh makan, sama seperti kamu. Ia punya keluarga dan selusin kru panggung yang harus dijamin penghidupannya. Barangkali, suatu hari nanti, kamu tak segan lagi menunjukkan dukungan dengan membeli tiket, memboyong merchandise, atau bahkan urunan ide untuk mengembangkan koperasi musisi.

Ternyata, banyak teman-temanmu yang berpendidikan tinggi dan bekerja di kantor yang nyaman jumpalitan juga menghadapi pandemi. Kontrak diputus lebih cepat, klien menghilang, invoice beku entah sampai kapan. Mungkin kamu jadi terpikir soal betapa masamnya hidup mereka sekarang, dan bagaimana nasib mereka ternyata tidak beda-beda amat dengan para “buruh.” Mungkin kamu jadi sadar bahwa tak ada pekerja yang tak sengsara di dunia ini. Dengan sedikit nasib baik, bisa jadi kamu bakal nongkrong dengan serikat buruh.

Seorang kawan saya berkelakar: saban hari, 76 persen energi kita sudah habis sekadar untuk menjaga kewarasan. Ketimbang pusing tak berujung memikirkan prestasi dan kesuksesan pribadi, tentu lebih bagus memikirkan apa-apa yang kita lakukan andaikan kita berjalan bersama. Satu-satunya cara menyintas adalah saling membantu, saling merangkul, dan bergerak sebagai kolektif. Hari ini dan selamanya.