PAN Buka Peluang Ikut Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Selama ini Partai Amanat Nasional (PAN) dikenal cukup dekat dengan kubu Partai Gerindra, yang kemungkinan bakal mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Nah, kali ini PAN justru membuka peluang untuk mendukung PresidenJoko Widodo (Jokowi).

Sinyal bergabungnya PAN dengan partai politik koalisi pendukung Jokowi sebagai capres di Pilpres 2019 mendatang disampaikan langsung oleh Ketua Umum PANZulkifli Hasan. Ya, Zulkifli menyebut peluang PAN untuk mendukung Jokowi cukup terbuka.

"Pak Jokowi tentu kan peluangnya incumbent[petahana]besar, menjadi pertimbangan," kata Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 27 Maret.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa PAN akan tetap melakukan penjajakan dengan poros lain di luat parpol pendukung Jokowi. Dalam hal ini, PAN masih sangat mungkin bergabung juga dengan kubu Prabowo atau malah membentuk poros ketiga di luar poros Jokowi dan Prabowo.

Zulkifli menegaskan bahwa dalam membangun parpol koalisi baik di poros Jokowi ataupun Prabowo, PAN tidak membicarakan posisi calon wakil presiden (cawapres) atau jatah menteri di kabinet. Hal itu tak lepas dari pergerakan sejumlah parpol yang sudah mulai menjual ketua umum mereka sebagai cawapres.

"Tentu nanti akan dibicarakan titik temu seperti apa, enggak bisa juga menang-menangan. Karena lain kalau kami bisa maju sendiri, sudah bablas itu. Tapi kan enggak bisa," ucap politisi kelahiran Penengahan, Lampung Selatan, pada 17 Mei 1962 silam itu.

Zulkifli juga mengatakan bahwa partainya sama sekali tak terlalu ngotot untuk mendapatkan kursi cawapres. Ketua MPR RI itu menyebut koalisi antar partai itu harus dibangun berdasarkan visi bangsa ke depan.

Dengan tidak mengincar posisi cawapres, bukan berarti PAN menurunkan standarnya. "Ini bukan soal turun menurunkan standar. Ini soal koalisi yang berkualitas," ujarnya.

Bagi PAN, yang terpenting adalah pemilihan legislatif maupun pilpres berlangsung secara berkualitas dan tidak gaduh. Sekali lagi, Zulkifli menegaskan bahwa dalam tahap membangun koalisi maka bukan jatah bagi-bagi kursi menteri yang dibicarakan, melainkan soal bagaimana membangun Indonesia ke depan.

"Apa yang harus dibicarakan nanti partai-partai ini kan kalau cuma satu menteri, dua menteri. Nanti kalau ke Pak Prabowo satu menteri, dua menteri. Dengan Pak Jokowi dua menteri, dua menteri, terus rakyatnya tanya kami ini dipikirin enggak sih? Kan gitu.

Jadi kita orientasinya itu bagaimana kita bisa ikut bersama-sama terlibat untuk membangun negeri ini. Itu yang paling penting.

"Enggak ada itu kerja sama capres cawapres, kalau kami kerja sama bicara untuk kepentingan bersama memajukan Indonesia," ujar politisi berusia 55 tahun tersebut.

PAN sendiri tak akan terburu-buru untuk menetapkan dukungan mereka di Pilpres 2019 mendatang. Meski begitu, Zulkifli memperkirakan bulan depan peta koalisi akan mulai terlihat.

"Sekarang semuanya terbuka. Ke mana-mana, lihat saja semua partai, tapi Mei, April, rajutannya mulai kelihatan," ucapnya.

Sekadar informasi, sejauh ini terdapat tiga partai politik yang belum menentukan sikap di Pilpres 2019 nanti yakni Partai Demokrat, PKB dan PAN. Bahkan, kabarnya ketiga partai itu tak akan bergabung dengan koalisi Jokowi atau Prabowo, sehingga bakal membentuk poros ketiga.

Seperti diketahui, jumlah kursi ketiga partai tersebut sebenarnya mencukupi untuk mengajukan calon presiden di Pilpres 2019 nanti. Partai Demokrat sendiri memiliki 61 kursi 12.728.913 (10,19%) suara, PAN punya 49 kursi dari 9.481.621 (7,59%) suara, dan PKB dengan 47 kursi dari 11.298.957 (9,04%) suara.

Related Article