Opsi-Opsi Selain Maskapai Asing di Penerbangan Domestik

Tingginya harga rute penerbangan domestik membuat Presiden Joko Widodo mengeluarkan wacana untuk membuka rute tersebut bagi maskapai asing. Selama ini, rute domestik antar wilayah Indonesia memang masih hanya dilayani oleh maskapai-maskapai lokal saja. Dengan wacana tersebut, diharapkan kompetisi yang lebih sehat dapat terjadi, membuat harga tiket penerbangan domestik dapat lebih ditekan lagi.

Wacana ini disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Ia mengatakan kalau Jokowi berharap adanya kompetisi yang lebih sehat di dalam industri pesawat terbang rute domestik.

“Beberapa hari lalu pak presiden beri saran bahwa berilah kemungkinan satu kompetisi yang lebih baik, kompetisi bisa terjadi apabila penerbangan asing ikut dalam ini,” ujar Menteri Budi di Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Jawa Timur, Senin (3/6), dikutip dari Detik.com.

Selain Menteri Budi, hal ini juga turut disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko) Susiwijono Moegiarso. Ia menyampaikan bahwa pemerintah sampai saat ini masih mengevaluasi wacana tersebut.

“Itu sudah kita jadwalkan dan akan kita evaluasi. Bagaimana pemikiran untuk undang maskapai asing. Tapi paling penting kita evaluasi dulu karena ada plus minusnya termasuk kebijakan menarik maskapai asing ke dalam negeri ini,” ujarnya di Gedung Kemenko, Senin (10/6).

Opsi-Opsi Selain Membuka Pintu Bagi Maskapai Asing

Walau wacana sudah bergulir, sebenarnya terdapat opsi-opsi lain demi menurunkan harga tiket pesawat rute domestik. Satu opsi lain tersebut sempat diucapkan oleh Menteri Budi usai meninjau Gerbang Tol Kalikangkung, Semarang. Ia menuturkan bahwa prioritas dari pemerintah adalah melakukan improvement maskapai penerbangan lokal, sehingga efisiensi tarif dapat dilaksanakan.

“Prioritas kami tetap pada bagaimana maskapai melakukan improvement, lakukan efisiensi sehingga tarif itu tidak tinggi. Tapi kami tidak bisa menutup kalau memang opsi itu (maskapai asing) ada,” ujar Menteri Budi, Minggu (9/6).

Opsi kedua yang mungkin dilakukan adalah memperbarui kebijakan pajak impor. Pengamat industri aviasi, sekaligus pendiri Arista Indonesia Aviation Center (AIAC), Arista Atmadjati, merasa hal ini dapat lebih efektif menurunkan harga tiket pesawat. Dengan harga komponen pajak yang jauh lebih murah, hal ini akan menekan biaya (cost) dari perawatan pesawat sendiri.

“Bisa (menurunkan harga tiket) tapi bukan menurunkan tarif batas atas, tapi lewat komponen pajaknya. Komponen pajak di pesawat itu kan belanjanya macam-macam, belanja spare part, instrumen cockpit, belanja oli, itu semua dari luar negeri, itu kena pajak masing-masing,” ujar Arista, Selasa (11/6), dilansir dari Liputan6.com.

Hal ini membutuhkan Kementerian Keuangan dalam prosesnya. Jika pajak-pajak tersebut dikurangi, dampaknya akan begitu signifikan.

“Mereka (Kementerian Keuangan) harus membantu juga. Sekarang ini maskapai kita beli mesin, kena pajak. Beli oli, kena pajak. Beli ban, kena pajak. Semua dari luar negeri, itu kena pajak,” tuturnya.

Opsi ketiga untuk menurunkan harga tiket pesawat domestik adalah dengan cara memperbaiki struktur persaingan di maskapai penerbangan lokal. Selama ini, kondisi duopoli antara maskapai grup Garuda Indonesia dan grup Lion Air belum berhasil dipecahkan. Ketiadaan kompetisi yang kuat dari maskapai lokal lainnya membuat kedua maskapai yang memiliki grup masing-masing ini dapat menentukan harga tanpa takut tersaingi. Sehingga, yang terpenting adalah bagaimana memastikan bahwa maskapai lokal lainnya tetap dapat bersaing dengan dua nama besar tersebut.

“Kenaikan harga tiket penerbangan domestik tidak akan terjadi setajam itu, jika struktur pasarnya tidak dalam kondisi duopoli,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, dikutip dari Antara, Kamis (6/6). Ia pun melanjutkan, “kenapa harga tiba-tiba naik? Tentu ada karena langkah-langkah internal dari perusahaan-perusahaan penerbangan. Namun mereka bisa melakukan itu karena pesaingnya tidak ada.”

Related Article