Fathan Sembiring: "Warga Cina Nggak Iseng dan Rese Soal Agama"

Fathan Sembiring merasakan perbedaan suasana Ramadan yang mencolok antara di Indonesia dan di Cina. Jika di Indonesia ia biasa berbuka puasa dengan kolak pisang, es sirup, dan kue-kue manis, kehidupan di negeri Tirai Bambu menuntutnya menyesuaikan diri. Putra eks Menteri Komunikasi dan Informatika sekaligus politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring itu hidup di Beijing dan Tianjin dalam rentang 2011-2016.

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan jauh dari keluarga tentu jadi tantangan menarik buat Fathan. Selera lidah hanya satu dari sekian banyak hal yang mesti disesuaikannya.

“Kalau di Cina, muslim kan minoritas. Pengalaman menjadi minoritas itulah sebenarnya yang penting. Bukan hanya bagi saya, tapi juga teman-teman di negeri-negeri lain di mana muslim jadi minoritas. Rasa-rasanya menyadari: oh, selama ini saya beragama itu take it for granted gitu. Ya sudah gue Islam, gue muslim, gue puasa, gue salat,” kata Fathan saat berbincang dengan Asumsi pada Rabu, 8 Mei 2019.

Menurut Fathan, memeluk agama Islam di Indonesia jauh lebih gampang dan nyaman, apalagi masjid ada di mana-mana. Di Cina, situasinya sangat berbeda. Kalau kurang cekatan, bakal kesulitan. “Menjadi minoritas itu membawa kita ke new level, sih," ujarnya. "Sejak kecil kan kita diajarkan orang tua untuk menjadi muslim di sini, dibiasakan dengan banyak hal."

Memang, dalam perkara durasi saja berpuasa di negeri lain bisa sangat berbeda dari di Indonesia. Umumnya orang Indonesia berpuasa selama 13-14 jam. Di Cina, lapar dan haus mesti ditahan tiga atau empat jam lebih lama. Dan di Finlandia, misalnya, durasi puasa bisa mencapai 22 jam. Belum lagi perkara iklim. Di Cina, Ramadan bertepatan dengan musim panas.

Terlepas dari kesulitan-kesulitan yang ia hadapi, Fathan mengaku jatuh cinta dengan Cina, khususnya dengan teman-temannya yang merupakan warga setempat. Menurutnya, orang-orang di negeri itu tak sibuk mengurusi kehidupan relijius satu sama lain. Jangankan mengusik, berkomentar saja tidak, sebab agama dipandang sebagai urusan privat.

“Umumnya, warga Cina nggak iseng dan rese soal agama. Tidak ada fobia-fobia yang selama ini selalu dikhawatirkan orang Indonesia, seperti anggapan kalau mereka komunis berarti mereka anti-Islam. Nggak seperti itu,” ujarnya. "Memang ada batasan-batasan, tapi untuk beribadah secara personal nggak ada masalah. Kita saja yang pakai takaran Indonesia, di mana kita sangat mudah beragama."

Paling jauh, kata Fathan, teman-temannya di Cina sekadar heran bahwa ia tak kelaparan atau kehausan. “Mereka mikirnya kita berpuasa nggak putus-putus. Padahal kan cuma ketika ada matahari ya nggak makan. Ya itu saja intinya, dan pas malam baru boleh makan.”

Pada akhirnya semua biasa-biasa saja. Fathan tetap dapat menjalankan hak-haknya dan tak diperlakukan secara berbeda, tak dipersulit maupun diistimewakan. "Toh orang berpuasa juga bukan karena ingin dihormati," katanya.

Related Article