Negara-Negara Tanpa Kasus Corona Juga Ikut Merana

Hingga hari ini (8/4), pandemi COVID-19 telah menjalar ke 209 negara dan teritori di seluruh dunia. Sejak laporan kasus pertama November tahun lalu, tercatat lebih dari 1,4 juta orang di seluruh dunia positif COVID-19, dengan 82.161 orang meninggal. Kabar gembiranya, menurut pantauan John Hopkins University terdapat 18 negara yang belum melaporkan satu pun kasus COVID-19. Kabar buruknya, kehidupan mereka pun tak indah bak oase.

Per 2 April 2020, negara-negara yang belum melaporkan kasus COVID-19 adalah Komoro, Kiribati, Lesotho, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Korea Utara, Palau, Samoa, Sao Tome and Principe, Kepulauan Solomon, Sudan Selatan, Tajikistan, Tonga, Turkmenistan, Tuvalu, Vanuatu, dan Yaman. Tahan dulu godaan membeli tiket ke negara-negara terpencil itu. Sebab mereka entah berpura-pura bebas COVID-19 atau malah sekarat karena perkara lain.

Dalam beberapa kasus, kondisi internal negara tersebut tidak memungkinkan terjadinya pelaporan kasus positif COVID-19 yang akurat. Yaman dan Sudan Selatan, misalnya, adalah negara yang sedang dikoyak konflik berkepanjangan. Adapun negara lain seperti Turkmenistan dan Korea Utara dinilai sekadar menutup-nutupi kasus positif COVID-19 sebab tak ingin citra mereka tercoreng.

Kedua negara tersebut dikuasai oleh pemerintah otoriter yang kerap tak transparan kepada publiknya sendiri--apalagi media atau lembaga internasional. Seperti dilansir The Diplomat, negara-negara seperti ini menguasai total media dan kanal komunikasi ke publik. Gampangnya, mereka enteng-enteng saja berbohong, sebab tak ada yang akan memarahi juga.

Seperti dilaporkan BBC, sumber-sumber lokal dari Turkmenistan ngeri untuk membicarakan pandemi tersebut sebab tak ingin diciduk pemerintah. Meski negara tersebut telah membatasi penerbangan domestik maupun internasional, tersiar kabar bahwa banyak orang berhasil kabur dari zona karantina dengan menyuap aparat setempat.

Kondisi lebih rumit dihadapi negara-negara kepulauan di Laut Pasifik, yang mayoritas “aman” dari pandemi COVID-19. Lokasi mereka yang terpencil dan jarang dikunjungi warga negara asing membuat mereka lebih lamban terekspos virus asing. 

Menurut pantauan PBB, tujuh dari sepuluh negara yang paling sedikit dikunjungi di dunia sejauh ini selamat dari COVID-19. Nauru, misalnya, hanya menerima 160 turis tiap tahunnya dan hanya memiliki populasi sebanyak 10 ribu penduduk.

Namun, mereka tidak berpangku tangan. Bila virus tersebut tiba di negara mungil mereka, hasilnya dijamin bencana. Pasalnya, infrastruktur kesehatan mereka amat minim dan jelas-jelas tak siap untuk menangani pandemi tersebut.

Hanya Papua Nugini dan Fiji yang mampu melakukan tes COVID-19 di negaranya sendiri. Bahkan Kepulauan Solomon, negara berpenduduk terbesar di wilayah Pasifik, harus mengirim setiap sampel tes ke Australia. Nauru hanya memiliki satu rumah sakit pusat, tak punya ventilator, dan kekurangan perawat. RS terbesar di seantero Vanuatu cuma punya 20 ranjang, 60 dokter, dan dua ventilator untuk melayani seluruh negeri.

Menurut Dr. Colin Tukuitonga, pakar kesehatan masyarakat dan eks-komisioner World Health Organization, negara-negara Pasifik “sama sekali tak siap” menghadapi COVID-19. Saking rapuhnya sistem kesehatan mereka, “wabah sekecil apapun bakal menghabisi populasi mereka.” Strategi terbaik mereka adalah memutus transportasi keluar-masuk negeri dan mengucilkan diri sebaik mungkin. Nol kasus menjadi harga mati.

Sejak Januari, Mikronesia sudah mengumumkan kondisi gawat darurat kesehatan masyarakat dan mengetatkan perbatasan mereka. Pada 26 Maret, Vanuatu juga mengumumkan kondisi gawat darurat. Kapal pesiar tak boleh masuk, dan maskapai penerbangan negara menghentikan penerbangan domestik maupun internasional. Restoran dan hotel ditutup. Pemerintah pun melarang warga keluar rumah dari jam 9 malam hingga 4 pagi.

Hingga kini, mereka bertahan tanpa kasus COVID-19. Namun, krisis ini mulai menghajar ekonomi negaranya. Lebih dari 40 persen total pendapatan negara Vanuatu, misalnya, berasal dari industri pariwisata. Banyak negara-negara ini pun entah bergantung pada bantuan negara asing atau ekspor barang. Menurut Andy Tatem, profesor demografi spasial dan epidemiologi di University of Southampton, “lama kelamaan negara-negara itu terpaksa harus membuka diri.”

Lebih parah lagi, negara-negara Pasifik sedang menghadapi bencana topan Harold. Senin lalu, topan tersebut menghabisi pulau-pulau utara Vanuatu. Aturan physical distancing dan kekuatan ekonomi yang rapuh sejak awal ambyar ketika warga terpaksa berkumpul di pengungsian dan infrastruktur kesehatan habis disapu topan. Diprediksi, topan tersebut akan melawat ke negara-negara Pasifik lainnya dalam waktu dekat.

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, menyampaikan bahwa topan tersebut “datang di waktu yang tak tepat. Penerbangan dihentikan, pekerja amal asing tak datang, dan suplai medis terbatas.” Ia memperingatkan bahwa meskipun kasus COVID-19 di negara-negara Pasifik amat minim, mereka tetap butuh bantuan khusus dari mancanegara.

Pandemi ini tak perlu menunggu kasus positif atau korban berjatuhan. Bahkan dari kejauhan, ia dapat menghancurkan suatu negara.

Related Article