Mungkinkah Seseorang Terjangkit COVID-19 Dua Kali?

Hari ini, lebih dari 79 ribu orang telah dinyatakan sembuh dari virus COVID-19. Bagi mereka, pengalaman menaklukkan virus misterius yang merenggut nyawa ribuan orang bakal jadi kisah klasik untuk masa depan. Namun, apakah ada kemungkinan orang yang sudah sembuh dari COVID-19 kena virus tersebut lagi? Apakah virus tersebut mengamalkan seruan Chairil untuk jadi “sekali berarti, sesudah itu mati”?

Ada kabar yang agak mengkhawatirkan dari Jepang dan Cina. Bulan lalu (27/2), seorang pemandu wisata di Jepang yang dinyatakan sembuh dari COVID-19 mengikuti tes rutin sebagai bentuk pemantauan. Hasilnya, ia positif COVID-19 lagi, dan harus kembali dikarantina. Kasus tersebut adalah laporan pertama yang mengindikasikan bahwa COVID-19 dapat menyambar seseorang lebih dari sekali.

Penelitian terhadap pasien-pasien di Cina, negara yang pertama disapu pandemi tersebut, mengindikasikan fenomena serupa. Seperti diberitakan kantor berita Caixin, 14 persen pasien yang dinyatakan “sembuh” dari COVID-19 dan diperbolehkan pulang dari RS di provinsi Guangdong, Cina Selatan, rupanya positif COVID-19 saat menjalani tes susulan. Peristiwa serupa terjadi di Wuhan. Empat orang pekerja medis yang sempat dinyatakan bebas dari COVID-19 positif lagi setelah melalui tes susulan dua pekan kemudian.

Lantas, apakah virus ini dapat menyerang berkali-kali? Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sebelum saya jelaskan, ada dua hal yang perlu kamu ingat baik-baik. Pertama, virus ini dinamai Novel Coronavirus bukan karena ia tergolong karya sastra, melainkan sebab ia baru dan belum dikenal. Kita sudah akrab dengan sanak familinya seperti virus SARS atau MERS, tetapi virus COVID-19 adalah pemain anyar. Hasil terhadap virus tersebut belum dianggap harga mati, karena memang kita masih butuh waktu untuk mengenalinya.

Kedua, keputusan menyatakan pasien bebas COVID-19 dan boleh keluar RS tidak gampang. Pasien harus menunjukkan tanda-tanda seperti suhu tubuh normal selama lebih dari tiga hari, tak ada gejala masalah pernapasan, hasil CT scan normal, serta hasil negatif dalam dua kali tes RT-PCR yang dilakukan dalam interval minimal satu hari. 

Sekalipun semua prasyarat tersebut terpenuhi, setelah keluar dari RS kamu tetap wajib isolasi diri di rumah selama minimal 14 hari disertai cek kesehatan rutin. Tempat isolasi pun harus spesifik. Sebaiknya, pasien ditempatkan dalam ruangan dengan ventilasi baik, terpisah, kontak minim dengan penghuni rumah lain, makanan terpisah, serta tak ada kegiatan di luar rumah sama sekali. Singkatnya, tidak segampang itu menyatakan orang sembuh dari virus COVID-19. 

Namun, bukan berarti kesalahan mustahil terjadi. Sekali lagi, kita belum sepenuhnya mengenali SARS-CoV-2. Temuan-temuan baru tentang sifat virus ini menunjukkan bahwa protokol-protokol penanggulangan pandemi yang selama ini kita lakukan bisa jadi perlu diubah.

Temuan teranyar dari jurnal medis The Lancet mendapati bahwa dalam kasus-kasus tertentu, virus COVID-19 tetap hidup dalam tubuh pasien selama 37 hari, bahkan setelah pasien tersebut dinyatakan sembuh. Artinya, 37 hari setelah pasien keluar dari RS, ia masih dapat menyebarkan virus tersebut ke orang lain. Beberapa peneliti pun merekomendasikan agar masa isolasi diri setelah dinyatakan sembuh dinaikkan dari 14 hari menjadi 40 hari.

Laporan teknis dari European Center for Disease Prevention and Control pun mengkritik standar penanganan COVID-19 saat ini. Banyak pasien COVID-19 diperbolehkan pulang karena hasil negatif dari tes oral swab. Padahal, virus tersebut ternyata masih hadir di feses pasien 4-5 minggu setelah pertama terpapar. 

Dikutip oleh The Guardian, Prof. Philip Tierno dari New York University juga menyatakan bahwa pasien COVID-19 bisa saja tampak seolah sudah sembuh. Padahal, virus tersebut sedang dalam kondisi mati suri di dalam tubuh. Pasien tak akan menunjukkan gejala, tetapi virus akan terus menjalar ke sistem pernapasan. 

Boleh jadi, penyakit ini bukannya menyerang dua kali, melainkan memang tidak pernah sembuh, tetapi luput dari perhatian pekerja medis yang menanganinya. Selain karena sifatnya masih belum dikenali betul, sistem kesehatan di berbagai negara pun ambruk karena tak mampu menangani begitu banyak pasien dengan jangka waktu singkat.

Namun, bagi pasien yang sungguh-sungguh sembuh dari COVID-19, prospek masa depan agak lebih cerah. Penasihat medis pemerintah Britania Raya, Prof. Chris Whitty, menyatakan bahwa setelah sembuh dari COVID-19, umumnya sistem imun tubuh akan lebih kebal terhadap virus tersebut. Menurut pakar virologi Leeds University, Prof. Mark Harris, infeksi kedua pun “amat tidak memungkinkan” di manusia, meski infeksi tersebut dapat menyerang berulang kali pada hewan seperti kelelawar.

Menurut Prof. Jon Cohen, pakar penyakit menular di Brighton and Sussex Medical School, hingga kini kita tak dapat memastikan apakah pasien COVID-19 dapat terinfeksi lebih dari sekali. Penyebabnya, belum ada tes antibodi yang konklusif terkait infeksi ini. Namun, berdasarkan perangai infeksi virus lainnya, umumnya sistem imun seseorang yang sudah pernah kena infeksi tersebut bakal beradaptasi supaya tak terkena virus tersebut lagi.

Pernyataan Prof. Cohen diamini oleh hasil penelitian teranyar dari Journal of Clinical Investigation. Riset tersebut menunjukkan bahwa pasien yang pulih diindikasikan menghasilkan antibodi baru, dan immunoglobulin dari pasien yang telah sembuh kemungkinan dapat diramu jadi vaksin untuk menanggulangi infeksi COVID-19. Terakhir, pasien yang telah sembuh dari COVID-19 ada indikasi mengembangkan antibodi pelindung yang dapat mencegah infeksi serupa di masa mendatang.

Antibodi memang bisa bikin kamu kebal terhadap penyakit tertentu, tetapi tidak selamanya. Ambil contoh kasus SARS, virus Corona yang satu keluarga dengan COVID-19. Studi dari jurnal Emerging Infectious Diseases (2007) di Cina menunjukkan bahwa antibodi yang menyerang virus SARS hadir di darah pasien selama dua tahun setelah kesembuhan. Kemudian, pada tahun ketiga, jumlah antibodi tersebut turun drastis. 

Riset ini mengindikasikan bahwa setelah serangan pertama, seseorang cuma “kebal” SARS selama tiga tahun. Setelahnya, ia rawan infeksi lagi.

Persoalannya terbesarnya ada dua. Pertama, semua riset ini masih preliminer alias belum saklek. Kita masih perlu data dan penelitian lebih untuk memastikan bahwa orang yang sukses menaklukkan COVID-19 bakal memproduksi antibodi yang perkasa. Apalagi untuk mengambil kesimpulan bahwa antibodi tersebut dapat digunakan untuk melawan infeksi serupa di orang lain. Kedua, kalaupun antibodi ajaib tersebut ada, kita tidak tahu berapa lama ia akan efektif. Apakah antibodi tersebut bakal bertahan selama tiga tahun, sama seperti antibodi SARS? Atau lebih singkat lagi?

Saat ini, kita dan COVID-19 seperti dua orang yang tidak saling kenal tapi dipaksa menikah dadakan. Kita mesti berkenalan seiring berjalannya waktu, dan beradaptasi terhadap perangainya. Meski riset terus dilakukan supaya kiat sukses menumpas COVID-19 dapat dipetakan, jalan di depan masih panjang. A luta continua!

Related Article