Mudik 2019: Harga Tiket Melejit, Pemudik Berkurang

Mudik lebaran tahun 2019 terasa cukup berat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, terutama bagi yang memanfaatkan transportasi udara. Harga tiket penerbangan tahun ini naik berkali-kali lipat. 

Ican, seorang pemudik yang gusar lantaran harga tiket mahal harus menunda kepulangannya dari tanggal yang sudah direncanakan dengan rute penerbangan dari Pulau Bangka ke Jakarta. Ia mengaku harga tiket pesawat yang kelewat mahal benar-benar membuatnya kelabakan. Sehingga ia memutuskan untuk mencari tiket dengan harga yang sedikit turun, meski pada tanggal yang tak diinginkan.

Semestinya Ican kembali ke Jakarta pada Minggu (9/6). Namun, ia tak kebagian tiket pesawat karena kehabisan. Akhirnya, ia pun memutuskan membeli tiket pada hari Minggu (16/6) dengan harga sekitar Rp900.000 dengan rute Pangkal Pinang - Jakarta. Berdasarkan pantauan Asumsi, Senin (10/6), sekitar pukul 17.30 WIB, harga tiket hingga Sabtu (15/6) mendatang berada pada kisaran Rp1,2 juta.

“Kenapa tiket pesawat ke Malaysia, Singapura, dan Thailand itu jauh lebih murah dibandingkan dengan rute penerbangan domestik? Padahal, rutenya jelas lebih jauh ke luar negeri,” kata Ican saat dihubungi Asumsi, Senin (10/6).

Selain itu, Ican juga menyoroti anehnya kebijakan penerbangan pesawat domestik, di samping tiketnya mahal, waktu tempuh pun jadi semakin lama, terutama yang menerapkan sistem transit. “Kenapa tren sekarang itu kebanyakan pesawatnya transit, tiketnya mahal pula. Kan kasihan kalau ada penumpang yang buru-buru mengejar waktu karena ada urusan pekerjaan, jadi terlambat.”

Ican pun merasakan peningkatan drastis harga tiket pesawat terutama pada rute yang biasa ia lalui yakni dari Jakarta ke Pangkal Pinang atau sebaliknya. “Sekarang harga tiket pesawatnya naik tiga kali lipat dari sebelum kecelakaan Lion Air waktu itu. Dulu kami masih dapat harga Rp350 ribu/orang untuk sekali terbang dari Pangkalpinang ke Jakarta. Sekarang harganya jadi Rp1 juta. Kan udah nggak masuk akal,” ucap Ican.

Sama dengan Ican, Marwan jadi salah satu pemudik lainnya yang mengalami derita serupa. Parahnya, Marwan harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan tiket pesawat sesuai jadwal untuk penerbangan dari Pangkal Pinang ke Jakarta.

“Awalnya saya berencana pulang ke Jakarta hari Minggu tanggal 9 Juni, tapi tiket pesawatnya udah habis semua. Saya udah deg-degan kalau sampai nggak bisa masuk kerja hari seninnya. Jadi terpaksa jadwal penerbangan saya percepat dan beli tiket hari Sabtu tanggal 8 Juni, harganya Rp2,2 juta,” kata Marwan kepada Asumsi, Senin (10/6).

Harga mahal itu terpaksa dibayarkan Marwan demi bisa mendarat di ibu kota lebih awal. Menurut Marwan, teman satu rantauannya justru mendapatkan tiket dengan harga murah pada hari Minggu tanggal 9 Juni yakni sekitar Rp950 ribu. Dengan catatan, tiket temannya itu sudah dibeli jauh-jauh hari. “Saya terbang tanggal 8 Juni harga tiketnya Rp2,2 juta, sementara teman saya terbang tanggal 9 Juni harga tiketnya cuma Rp950 ribu. Padahal cuma beda sehari saja penerbangannya, tapi selisih harganya bikin kesal,” ujar Marwan sembari tertawa.

Jumlah Pemudik Pesawat Turun di 2019

Harga tiket mahal tentu berdampak ke banyak hal, salah satunya menurunnya tingkat keinginan masyarakat untuk menggunakan jasa penerbangan saat mudik di tahun ini. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa penumpang pesawat turun 15% pada masa pulang kampung. Beda dengan penumpang kereta api yang naik 9,4-9,5%, bus naik 10-15%, hingga kapal naik 10-15%. 

"Turun sekitar 15%," kata Budi di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Jakarta, Senin (10/6), seperti dinukil dari Tempo.

Budi mengungkapkan ada sejumlah faktor yang memicu penurunan jumlah penumpang pesawat selama masa mudik 2019. "Salah satunya adalah adanya pengurangan jumlah pesawat, itu kan banyak sekali.”

Menurut Budi, kalau saja kalau jumlah pesawat itu ditambah, maka pemudik yang menggunakan angkutan udara juga penurunannya tidak bakal sebanyak itu. "Saya dengar selain pesawat Boeing Max itu juga ada pesawat lain yang tidak dioperasikan."

Selain soal jumlah pesawat, Budi mengatakan persoalan tarif pesawat juga membuat masyarakat enggan menggunakan angkutan udara untuk pulang kampung saat mudik lebaran tahun ini. Meski begitu, ia melihat permintaan untuk angkutan udara sebenarnya relatif baik pada masa mudik kali ini.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan dari H-7 hingga H+4 Lebaran 2019, jumlah keberangkatan penumpang moda angkutan udara turun sekitar 30,73 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2018 lalu. Pada tahun ini jumlah kumulatif keberangkatan penumpang tercatat 2.700.995 keberangkatan, sementara pada tahun lalu adalah 3.899.278 keberangkatan.

Wacana Kehadiran Maskapai Asing di Indonesia

Sebelumnya, muncul wacana agar maskapai asing masuk ke dalam negeri terutama saat harga tiket pesawat domestik mulai melejit. Wacana ini salah satunya dilontarkan Presiden Joko Widodo yang berharap kehadiran maskapai asing agar bisa menciptakan persaingan harga yang lebih sehat.

Menhub Budi Karya menyebut efektif atau tidaknya kehadiran maskapai asing untuk menekan harga tiket tergantung dari maskapai itu sendiri. Ia sendiri sebetulnya masih menaruh harapan kepada maskapai yang telah beroperasi saat ini bisa melakukan sebuah reformasi agar bisa menurunkan harga tiket.

"Efektif atau tidak tergantung kesiapan mereka sendiri. Tapi sebenarnya saya masih menaruh harapan bahwa maskapai yang ada melakukan reformasi lah supaya ada keseimbangan harga, supply demand. Sehingga maskapai asing (itu) second alternatif," kata Budi.

"Mereka kan ada yang sudah ada operasi di sini, tinggal ekspansi," ujarnya.

Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan Presiden Jokowi adalah soal persaingan yang tentunya akan menciptakan harga yang tepat. Dalam artian, hadirnya banyak maskapai, diharapkan bisa membuat harga tiket turun.

Sejauh ini, Budi mengatakan bahwa wacana tersebut masih dipelajari lebih jauh. "Ini bagian konseptual, karena Pak Presiden, Pak Menko, beberapa stakeholder mengusulkan, saya sedang pelajari untuk menyampaikan Pak Menko, Pak Presiden.”

Related Article