Paket Liga Inggris Mola TV, Terjangkau tapi Merepotkan

Kehadiran Mola TV seperti mengulang cerita pada musim 2007/08, di mana siaran langsung Liga Inggris disiarkan TV berbayar Astro asal Malaysia. Sejak saat itu, tak ada lagi tontonan yang bisa dinikmati para penggemar sepak bola secara cuma-cuma. Sebagian besar masyarakat pun akhirnya mau tak mau harus berlangganan televisi berbayar dengan merogoh kocek lumayan dalam agar tetap bisa menyaksikan permainan tim-tim favoritnya.

Padahal, sebelum Astro mengambil alih hak siar Liga Inggris pada musim 2007/08, sejumlah televisi swasta di Indonesia menayangkan Liga Inggris secara gratis. Adapun para penikmat televisi berbayar bisa menyaksikan pertandingan Liga Inggris melalui televisi berbayar yang memiliki dua saluran milik ESS, yakni ESPN dan Star Sports, pemilik hak siar Liga Inggris di Asia saat itu.

Sebenarnya, harga yang ditawarkan pihak Mola TV cukup terjangkau, yakni Rp1,2 juta untuk dapat menonton Liga Inggris selama satu tahun. Namun, fasilitas untuk menonton Liga Inggris justru tidak fleksibel seperti sebelumnya. Di musim 2019/20 ini, hanya ada dua cara untuk menikmati pertandingan Liga Inggris di Indonesia dan Timor Leste. Penonton bisa berlangganan Mola Matrix Pay TV berbayar, atau membeli perangkat Mola Polytron. 

Chief of Distribution and Broadcast Mola TV, Ayi Farid Wajdi mengakui kepada Asumsi.co, Senin (30/07/19), bahwa penjualan alat Mola Polytron adalah kali pertama bagi mereka untuk menggunakan pendekatan yang berbeda ke pasar. Jadi, alih-alih menyediakan aplikasi yang bisa diakses dari berbagai gawai, pihaknya justru menempatkan aplikasi tersebut ke dalam sebuah televisi. 

“Kenapa? Banyak faktor, sih. Yang pertama adalah soal kualitas. Dengan apps Mola embed di perangkat tersebut, kami bisa menjamin quality delivery-nya, video quality-nya, dan audio quality-nya. Kalaupun nanti ditaruh di backscreen, giant screen, gambar nggak akan pecah. Tapi tetap tergantung jaringan internet, ya.” sahut Ayi.

Faktor kedua, lanjut Ayi, untuk memastikan agar aman dari pembajakan. Bisnis konten di Indonesia sukar berkembang dengan baik lantaran ada pembajakan.

“Masih banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa hal tersebut merugikan semua hal dalam bisnis ini. Jadi merasa kalau lihat streaming, yang penting dapet streaming, gratis, that’s it,” 

Menurutnya, masalah seperti itu tak semestinya terjadi karena bakal ada dampak buruk. Misalnya saja nanti Liga Inggris dan liga-liga lain berhenti ditayangkan di Indonesia karena tak ada perusahaan yang mau membeli hak siar resminya.

Namun, di sisi lain, kehadiran TV berbayar seperti Mola dapat memberatkan pelanggan, terutama soal pembayaran dan layanan yang didapat. Konsumen yang telah membayar satu juta rupiah per tahun untuk berlangganan Mola TV itu justru tak bisa mendapatkan akses konten penuh layanan premium langganan mereka lewat smartphone atau tablet di tangan masing-masing. Orang-orang yang sanggup dan mau membayar layanan Mola pun justru mempertimbangkan penggunaan streaming ilegal karena ingin menonton lewat gawai.

Kebiasaan Live Streaming, Sejak Kapan?

Pada 5 September 1995, ESPN SportsZone pernah menyiarkan siaran radio langsung pertandingan bisbol antara Seattle Mariners dan New York Yankees ke ribuan pelanggannya di seluruh dunia. Kala itu, mereka menggunakan teknologi canggih yang dikembangkan oleh perusahaan start-up yang berbasis di Seattle, Progressive Networks. Siaran itu disebut-sebut sebagai acara live streaming pertama di dunia.

Dalam perkembangannya, streaming jadi salah satu wadah yang paling diminati orang-orang dalam menikmati akses konten praktis di internet. Namun, tanpa disadari, kebiasaan itu jadi membawa orang-orang sering mengakses streaming ilegal. Mereka menonton salinan bajakan film, acara TV, atau konten olahraga premium tanpa seizin pemilik hak siar.

Bahkan, ada berbagai aksesori tambahan yang diakses dari perangkat seperti set-top box atau stickstreaming dari situs web yang tidak resmi, atau streaming melalui aplikasi (pada ponsel, tablet, laptop atau sistem gaming). Tak jarang juga orang memodifikasi perangkat streaming seperti set-top box, lalu menjualnya, sehingga orang-orang lain bisa mengakses layanan serupa. Kebiasaan streaming makin bertumbuh seiring perkembangan teknologi digital yang menawarkan kepraktisan. Sudahlah bisa dilakukan di mana dan kapan saja, gratis pula.

Di Indonesia, website streaming mulai marak bermunculan pada 2009 dengan website streaming populer pada masa itu yakni Ganool.com. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) yang bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM), sempat mengambil langkah tegas dengan memblokir sebanyak 22 website penyedia film bajakan pada 18 Agustus 2015.

Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya pemerintah untuk memberantas website pembajak film dan mengalihkan mereka ke halaman internet positif untuk menegaskan jika website yang dikunjungi tersebut berstatus terlarang atau telah diblokir. Namun, pemilik situs ilegal tak kehilangan akal. Mereka kemudian beralih dari satu domain ke domain lain. Maka, setelah penutupan 22 situs ilegal tersebut, muncul situs-situs serupa dalam jumlah yang lebih banyak. Sampai Agustus 2016, tercatat ada 108 situs penyedia konten bajakan atau pelanggar hak cipta yang diblokir oleh Kominfo. 

Terkait pola kebiasaan masyarakat yang gemar streaming, Lawrence Lessig (2004) melihat budaya itu memang sudah menjadi hal yang adiktif di era digital sekarang ini. Sebab, hal tersebut merupakan sebuah cara termudah untuk meraih akses ke beragam jenis konten.

Anti Pembajakan

Sudah banyak contoh kasus dimana pelaku atau penyalur siaran streaming bajakan ini mendapat hukuman. Pada Maret 2019, ada tiga operator streaming yang dijerat hukuman lantaran memberikan akses ilegal pertandingan Liga Inggris ke lebih dari 1.000 bar, klub malam, dan rumah di Inggris dan Wales selama kurang lebih satu dekade terakhir. Total hukuman yang didapat ketiganya adalah selama 17 tahun.

Steven King, sebagai dalang penipuan yang berjualan dengan nama Dreambox, Dreambox TV Limited, dan Digital Switchover Limited, dijatuhi hukuman selama tujuh tahun empat bulan penjara. Sementara itu, Paul Rolston dijatuhi hukuman enam tahun empat bulan, sementara Daniel Malone dihukum tiga tahun tiga bulan oleh pengadilan Warwick, Inggris, lewat persidangan selama empat minggu. Dari aksi penipuan itu, mereka menghasilkan lebih dari 5 juta poundsterling melalui aktivitas ilegalnya.

Di Indonesia, pihak Mola TV pun tak main-main. Mengingatkan soal undang-undang yang mengatur hak siar, Ayi menegaskan bahwa hanya Mola TV yang boleh menayangkan Liga Inggris di Indonesia dan Timor Leste.

"Sudah saatnya kita menghargai hak cipta. Industri ini juga berhubungan dengan masyarakat. Jangan lagi masyarakat mendapatkan siaran secara ilegal," katanya. 

Kombes Pol Parlindungan Silitonga dari Kasubdit IV Tipidter sebagai perwakilan dari Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim) Mabes Polri hadir pada konferensi pers kerja sama Mola TV dengan Matrix TV dan MIX di Jakarta, Kamis (18/07) lalu. Parlindungan mengatakan bahwa akan ada sanksi jika ada yang kedapatan menggelar nobar tanpa izin.

"Semua harus punya izin, yang tidak ada izin bisa langsung terkena sanksi. Ini bentuk pidana murni sehingga bisa diadakan penangkapan," kata Parlindungan.

Pada kesempatan yang sama, Kombes Pol Supriyadi dari Subdirektorat Industri Perdagangan yang juga menangani masalah HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Bareskrim menjelaskan secara rinci soal pelanggaran hak siar dan hak cipta.

"Apabila pelanggaran hak cipta untuk tujuan komersial, ancamannya bisa empat tahun. Apabila untuk pembajakan ancaman hukumannya bisa 10 tahun," kata Kombes Pol Supriyadi.

Selain itu, Supriyadi mengatakan bahwa kepolisian sedang membangun aplikasi pengaduan online. Jadi nanti masyarakat bisa langsung menyampaikan pengaduannya di aplikasi tersebut. Akan terdapat fitur pengaduan, konseling, informasi status laporan, hingga pengetahuan yang berisi data kasus atau perkara apa saja yang sudah pernah ditangani.

Related Article