Kisah Henrikh Mkhitaryan, Sepakbola di Tengah Konflik Dua Negara

Gelandang serang dari klub Arsenal di Liga Premier Inggris, Henrikh Mkhitaryan, tengah gundah gulana. Di saat rekan-rekannya bersuka cita karena berhasil masuk laga final Liga Europa musim 2018/19 di Olympic Stadium, Baku, Azerbaijan, pada Rabu (29/5) mendatang, pemain berusia 30 tahun itu justru terancam absen tampil. Micki, panggilan akrabnya, sedang tidak cedera atau terkena akumulasi kartu, tapi terkena imbas konflik politik negara asalnya, Armenia. 

Armenia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Azerbaijan, negara di mana pertandingan final Liga Europa tahun ini akan dilaksanakan. Hubungan diplomatik mereka tegang karena konflik perebutan wilayah Nagorno-Karabakh di daerah perbatasan kedua negara. Daerah otonomi yang sejak dulu banyak dihuni oleh etnis Armenia ini diciptakan oleh Rusia di akhir Perang Dunia I (1914-1918). Azerbaijan, yang saat itu merupakan bagian dari Uni Soviet, resmi menguasai Nagorno-Karabakh di tahun 1920.

Di akhir keruntuhan Uni Soviet, penduduk Nagorno-Karabakh memilih untuk kembali bersatu dengan Armenia. Inilah sebab-musabab dari konflik yang kemudian memuncak menjadi perang di tahun 1991. Lebih dari 30,000 penduduk tewas sebagai korban perang sampai akhirnya gencatan senjata terjadi di tahun 1994. Namun, hal tersebut tidak berarti ketegangan antar dua belah pihak berakhir. Pada April 2016, belasan tentara Armenia dan Azerbaijan tewas dalam perkelahian terburuk antar dua negara selama dua dekade terakhir. 

Malang bagi Micki, ini berarti ia tidak bisa memasuki wilayah Azerbaijan. Selain tak ada izin, keselamatan pemain Arsenal bernomor punggung 7 itu bisa terancam.

Arsenal Minta Jaminan UEFA untuk Mkhitaryan

Arsenal sendiri sudah mendesak Asosiasi Sepakbola Uni Eropa (UEFA) agar segera memberi jaminan keamanan dan keselamatan untuk Micki agar ia bisa tetap tampil di laga final. Sampai saat ini, tim asal London Utara itu pun masih menanti jawaban dari federasi sepakbola Eropa itu terkait jaminan keamanan itu.

"Keselamatan dan keamanan pemain kami sangat penting. Kami sudah meminta jaminan dari UEFA untuk memastikan keamanan Henrikh Mkhitaryan jika ia ikut ke Baku untuk laga final nanti. Arsenal dan Mkhitaryan sangat membutuhkan jaminan tersebut, demikian pernyataan resmi Arsenal. Namun, kami belum mendapat jaminan yang diminta dari UEFA. Kami berharap UEFA dapat segera memberikan jaminan tersebut. Sejauh ini, kami masih belum yakin kalau Mkhitaryan bisa ikut ke dalam skuat untuk bermain di Baku,” ujar juru bicara Arsenal, seperti dikutip oleh The Guardian. 

Mkhitaryan Berkali-kali Diusik Masalah yang Sama

Ini bukan kali pertama Micki terkena dampak konflik politik dua negara. Pemain kelahiran Yerevan, Armenia pada 21 Januari 1989 ini juga pernah absen membela The Gunners dengan alasan yang sama. Pada 22 Oktober 2015 lalu, ia juga tak ikut dalam rombongan tim saat menghadapi klub Azerbaijan, Gabala FC di Liga Europa. Padahal saat itu, timnya harus berjuang menghadapi klub raksasa asal Jerman, Borussia Dortmund.

Saat itu, UEFA telah memberi Micki jaminan visa untuk masuk Azerbaijan. Namun, ia memilih untuk tidak ikut bersama tim dan menyaksikan dari jauh permainan Arsenal yang akhirnya menang 1-3.

Kejadian sama berulang di laga fase grup pada 4 Oktober 2018, ketika Arsenal harus bertandang ke markas klub Qarabag FK yang berasal dari Azerbaijan. Dukungan pengurusan visa dari UEFA tidak cukup untuk meyakinkan pelatih Unai Emery untuk membawa Micki ke Azerbaijan. Pelatih Qarabag FK, Gurban Gurbanov, mengatakan bahwa hampir semua atlet asal Armenia yang bertanding di Azerbaijan pasti akan mendapat tekanan dari tuan rumah.

"Jika Henrikh Mkhitaryan datang ke Azerbaijan, itu bukan pertama kalinya bagi seorang atlet Armenia - banyak olahragawan Armenia tampil di Azerbaijan. Tapi, sudah menjadi pilihan Arsenal untuk tidak mengirimnya,” kata Gurbanov seperti dilansir BBC, Jumat (10/5).  “Arsenal mungkin takut bahwa di depan 60.000 penggemar Azerbaijan, Mkhitaryan mendapat tekanan," 

Absen di laga puncak Liga Europa tentu jadi kerugian bagi Arsenal maupun Micki. Micki, yang sudah pernah membantu Arsenal memenangkan Liga Europa ketika dihadang Manchester United pada 2017 lalu, tengah mengincar gelar keduanya.

Arsenal sendiri berhasil melaju ke partai final Liga Europa musim ini setelah mengalahkan wakil Spanyol, Valencia 4-2 pada laga leg kedua semifinal, Jumat (10/5) dini hari WIB. The Gunners unggul agregat telak 7-3 usai pada leg pertama menang 3-1.

Ozil dan Gundogan Pernah Dikecam Publik Jerman Usai Temui Presiden Turki

Gesekan atau konflik politik dua negara yang berimbas kepada Mkhitaryan juga pernah menimpa pesepakbola lainnya. Bintang tim nasional Jerman, Mesut Ozil, pernah dikecam keras oleh warga negaranya lantaran berfoto dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Mei 2018 lalu.

Kecaman itu berawal saat Ozil, Ilkay Gundogan (pemain Manchester City) dan Cenk Tosun (pemain Everton), yang semuanya merupakan pemain keturunan Turki, bertemu dengan Erdogan di Hotel Four Seasons, London, pada Minggu, 13 Mei 2018. Pada kesempatan itu, ketiga pemain menandatangani seragam klub masing-masing dan memberikannya kepada Erdogan. Gundogan, yang secara resmi memiliki paspor Jerman dan Turki, bahkan menambahkan tulisan, "Untuk presiden saya, dengan penuh hormat."

Beberapa saat setelah foto tersebut muncul di media sosial, kecaman dan kritikan tajam pun muncul dari publik. Meski yang berfoto dengan Erdogan ada tiga pemain, Ozil menjadi sasaran kritik utama publik dan media-media Jerman. Akun media sosial Ozil, seperti Twitter dan Instagram, tak lepas dari serbuan kecaman publik Jerman, meski ada juga yang memberi dukungan. Warga Jerman menganggap, foto itu adalah bukti bahwa ketiga pemain tersebut telah membantu kampanye Erdogan dalam Pemilu Turki yang dilaksanakan beberapa hari setelah pertemuan tersebut. 

Di mata publik Jerman, Erdogan adalah pelanggar hak asasi manusia yang tidak patut didukung. Di bawah pemerintahannya, Turki diketahui telah melakukan tindakan represif terhadap para pendukung kudeta militer yang gagal pada Juli 2016 lalu. Turki juga dikabarkan menutup banyak media, menahan ratusan ribu orang, dan memecat pegawai negeri dalam jumlah yang besar.

Situasi semakin runyam ketika Timnas Jerman tampil buruk di ajang Piala Dunia 2018. Pada turnamen empat tahunan itu, Jerman langsung tersingkir sejak penyisihan grup. Ozil, yang tercatat hanya bermain dua kali dari tiga laga timnya itu, menjadi sasaran pelampiasan emosi publik dan media Jerman. Kritik untuk Ozil datang dari berbagai pihak, seperti manajer Timnas Jerman, Oliver Bierhoff, legenda klub Bayern Munchen, Stefan Effenberg, dan bahkan Kanselir Jerman, Angela Merkel. 

Setelah tak henti-hentinya mendapatkan kecaman, Ozil pun akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dari Timnas Jerma pada Senin, 23 Juli 2018.

"Dengan berat hati, dan setelah (melewati) banyak pertimbangan karena peristiwa baru-baru ini, saya tidak akan lagi bermain untuk Jerman di level internasional selama saya masih ditimpa rasisme dan sikap tidak hormat," tulis Ozil dalam pernyataan resminya yang diunggah di akun twitter @MesutOzil1088. 

Meski terlanjur jadi kontroversi, Ozil juga menegaskan bahwa fotonya dengan Erdogan sama sekali tidak memiliki muatan motif politik. "Saya sadar bahwa foto kami menyebabkan tanggapan besar di media Jerman, dan sementara beberapa orang mungkin menuduh saya berbohong, foto yang kami ambil tidak memiliki niat politik,” kata Ozil.

"Bagi saya, berfoto dengan Presiden Erdogan bukan tentang politik atau pemilihan umum. Foto tersebut tentang saya yang menghormati pemimpin tertinggi negara asal keluarga saya. Meskipun media-media di Jerman menggambarkan sesuatu yang berbeda, kebenarannya tetap sama. Tidak bertemu dengan Presiden Erdogan berarti saya tidak menghormati akar leluhur.”

 

Related Article