Misi Kubu Prabowo-Sandi Rebut Suara Swing Voters di Debat Pertama Pilpres 2019

Debat pertama jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dipastikan akan berlangsung pada 17 Januari di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta, dengan tema hukum, hak asasi manusia (HAM), korupsi, dan terorisme. Pada debat itu, selain mendebatkan isu utama, misi menggaet suara swing voters juga menjadi fokus penting. Misalnya saja kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengincar suara swing voters.

Kubu pasangan Prabowo-Sandi pun cukup percaya diri untuk ikut debat capres-cawapres yang digelar KPU tersebut. Direktur Pencapresan PKS, Suhud Alynudin mengatakan debat capres-cawapres itu sangat ditunggu masyarakat karena dipastikan akan menjadi tempat pertarungan ide dan gagasan. Apalagi selama ini kedua kubu kerap hanya membicarakan banyak hal yang tak substansial.

"Kami sangat pede menghadapi debat. Debat capres itu yang kami tunggu. Dan kami kira juga masyarakat pun menunggu, karena selama ini perdebatan yang terjadi pada hal-hal yang tidak substansial," kata Direktur Pencapresan PKS, Suhud Alynudin seperti dikutip dari Detikcom, Kamis, 20 Desember 2018. 

Kubu Prabowo-Sandi pun sudah mempersiapkan materi debat dengan matang agar nantinya argumentasi yang disampaikan bisa dipahami masyarakat dengan baik. Suhud pun menyampaikan bahwa pihaknya ingin memberikan pendidikan politik kepada masyarakat sekaligus meyakinkan para pemilih mengambang atau swing voters. Keberadaan swing voters ini dianggap cukup vital bagi kubu Prabowo-Sandi.

Baca Juga: Saling Sikut Merebut Suara Swing Voters di Pemilu 2019

"Target kami melalui debat capres ini selain memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, juga meyakinkan pemilih yang masih galau atau swing voters untuk menjatuhkan pilihan pada pasangan Prabowo-Sandi. Karena di akhir nanti swing voters akan menjadi penentu hasil akhir pilpres," ujarnya.

Swing Voters di Pilpres 2019

Wajar jika akhirnya kedua pasangan capres-cawapres dalam hal ini kubu Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf sangat berhasrat untuk merebut suara dari kalangan swing voters di Pilpres 2019 mendatang. Namun, swing voters yang didominasi oleh kalangan milenial ini memerlukan pendekatan yang riil dan konkret. Salah satu tantangan bagi para calon pasangan adalah meyakinkan konstituen agar memilih mereka.

Pasalnya, swing voters ini lebih dikenal sebagai perilaku pemilih yang berubah atau berpindah pilihan dari satu partai ke partai lain atau satu calon kandidat ke calon kandidat lain dalam satu pemilu. Hal itu dikarenakan pemilih kerap tidak melihat sesuatu yang menarik dari kedua calon pasangan. Sehingga calon pasangan dinilai akan sulit untuk mendekati swing voters di Pilpres 2019.

Swing voters dalam politik Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada Pilpres 2019 nanti, disebut-sebut diwarnai oleh 40% orang yang belum mantap menentukan pilihan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kepercayaan publik terhadap calon yang sedang bertarung.

Apalagi, kedua calon pasangan yang ada saat ini dinilai belum menunjukkan gagasan yang cerdas, program yang konkret, dan visi misi yang jelas. Sejauh ini yang muncul ke permukaan dari kedua kubu lebih banyak kampanye negatif. Sehingga hal itu lah yang semakin menguatkan posisi swing voters.

Dalam sejarahnya, perilaku swing voters di Indonesia jumlahnya sangat besar sejak Pemilu demokratis dilangsungkan kembali pada tahun 1999. Terakhir, polling dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tahun 2017 membeberkan kedekatan psikologis (party identification) dengan partai lemah, hanya sekitar 11,7%.

Selain itu, hasil polling itu juga mengungkap swing voters paling banyak dialami Partai Demokrat (51%), kemudian diikuti PAN (50%), PPP dan Hanura (masing-masing 47%), Gerindra (45%) dan Golkar (38%). Adapun partai yang paling sedikit swing voter-nya adalah PKS (20%) dan PDI-P (23%).

Baca Juga: Prabowo Temui SBY dan Upaya Gerindra Merangkul Demokrat

Peneliti dari lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro pernah mengatakan dalam sebuah forum bahwa swing voters atau pemilih mengambang didominasi oleh generasi muda atau millenials. Hal ini bisa saja bukan isapan jempol belaka. Jika merujuk pada prediksi KPU, jumlah pemilih muda saat ini diperkirakan 35-40% atau mencapai 70-80 juta dari 139 juta pemilih. 

Itu artinya bahwa kelompok swing voters akan menjadi perebutan bagi kedua paslon, terutama karena mereka masih dalam area abu-abu. Maka tak heran jika akhirnya kubu Prabowo-Sandi begitu berambisi untuk menggaet suara swing voters lewat debat pertama yang akan berlangsung pada 17 Januari 2019 mendatang.

Di samping itu, Direktur Eksekutif Indonesia New Media Watch Agus Sudibyo, pada Rabu, 12 September 2018 lalu pernah menegaskan bahwa swing voters memiliki posisi penting di Pilpres 2019. Kelompok pemilih mengambang ini harus didekati dengan cara yang tak biasa.

"Menurut saya kalau Jokowi atau Prabowo mau menang yang harus diperhatikan itu swing voters. Swing voters itu urban, pemilih pemula, kelas menengah, berpendidikan. Ini karakter pemilih rasional yang selalu menunggu bahkan menentukan siapa yang dicoblos 2-3 hari sebelum hari pemilihan," kata Agus di Jakarta, Rabu, 12 September 2019. 

Menurut Agus, swing voters tak akan hanya merujuk pada satu referensi ketika memilih. “Mereka menyerap semua informasi tapi belum tentu memilih. Mereka akan menyaringnya,” ucap Agus.

Maka dari itu, Agus menyarankan agar kedua kubu lebih mengedepankan kampanye yang berkualitas. Misalnya menghadirkan isu yang argumentatif dan berdasarkan data yang kuat. Hal tersebut akan lebih dapat diterima oleh kelompok yang belum menentukan pilihannya ketimbang sering menggunakan kampanye provokatif.

Menggaet Swing Voters dengan Langkah Konkret

Merebut suara swing voters berarti berusaha total meyakinkan para pemilih yang belum menjatuhkan pilihan pasti terhadap salah satu pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019 nanti. Maka dari itu, menurut Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kubu Prabowo-Sandi, harus menawarkan langkah konkret kepada masyarakat. Hal itu tak terkecuali juga berlaku untuk kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin

“Masing-masing memang harus pede untuk bertarung termasuk merebut suara swing voters. Tapi rasa pede tersebut harus dibarengi oleh langkah konkret dan strategis untuk memastikan pilihan swing voters,” kata Bakir kepada Asumsi.co, Jumat, 22 Desember 2018.

Bakir membeberkan bahwa banyak faktor yang membuat swing voters belum menentukan pilihan politiknya kepada salah satu pasangan capres-cawapres. Swing voters ini memang tak begitu saja percaya dengan diksi-diksi politik para calon pasangan, maka dari itu keputusan untuk memilih pun tak mudah dikeluarkan.

Baca Juga: 'Kekhawatiran' Jokowi dan Potensi Hasil Survei yang Bisa Saja Meleset

“Mereka tidak punya kedekatan dengan calon atau partai karena banyak faktor, misalnya dari program yang ditawarkan oleh calon tidak menarik atau jauh panggang dari api. Bisa juga karena perilaku masing-masing calon masih jauh dari yang mereka harapkan,” ujar Bakir.

Posisi swing voters yang masih belum menentukan pilihan dipastikan membuat kubu Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf harus berjuang ekstra keras karena suara mereka sangat menentukan pada hari pencoblosan nanti. Bakir melihat kedua pasangan memang harus menawarkan program kerja jelas yang bisa berdampak langsung tanpa basa-basi.

“Intinya belum ada yang menyentuh hatinya untuk menentukan pilihannya lebih awal. Karena itu, mereka perlu pendekatan khusus, paling tidak perlu mapping kecenderungan aspirasi swing voters sehingga punya gambaran lebih terang tentang calon,” ucapnya.

Pernyataan Bakir soal swing voters itu sejalan dengan apa yang pernah disampaikan Adi Prayitno, Direktur Parameter Politik Indonesia pada Selasa, 18 September 2018 lalu. Kepada Asumsi.co, Adi mengatakan bahwa swing voters ini merupakan para pemilih yang rasional. 

“Swing voters ini kan sebenarnya menunggu momentum dari kedua kandidat apakah sesuai dengan ekspektasi mereka atau tidak. Yang jelas swing voters ini rata-rata adalah pemilih yang rasional, kelas menengah terpelajar,” kata Adi kepada Asumsi.co, Selasa, 18 September.

Berdasarkan analisa Adi, Swing voters tidak terlampau suka dengan tawaran-tawaran opini dan gagasan yang sifatnya bombastis tapi tidak aplikatif. “Mereka ini (swing voters) tidak terlampau suka juga dengan jargon-jargon yang berbau hiperbolik yang justru sebenarnya pepesan kosong. Mereka akan melihat satu pemimpin yang menawarkan visi yang to the point, akan bekerja, dan tidak terlampau suka kepada pemimpin yang lebay,” ucapnya. 

Related Article