Mineral Berharga Rare Earth yang Dibicarakan Prabowo dan Luhut

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diketahui membahas soal timah dan potensi rare earth atau logam tanah jarang dalam pertemuan yang berlangsung Senin (15/6). Rare earth ini kemudian jadi sorotan karena disebut-sebut bisa jadi bahan baku pembuatan senjata.

Pembahasan Luhut dan Prabowo tersebut baru terungkap sepekan kemudian saat Luhut berbicara di hadapan anggota DPR RI, Senin (22/6). Kedua mantan prajurit Kopassus itu tampak ingin memaksimalkan potensi rare earth di tanah air.

Luhut mengatakan mineral rare earth dapat diekstrak dari timah. Komoditas itu, lanjutnya, bisa diolah dan dimanfaatkan untuk campuran kebutuhan pembuatan magnet, elektronik, hingga senjata.

Rare earth sendiri merupakan kumpulan 17 elemen yang tidak hanya berfungsi untuk pembuatan senjata, tapi juga bisa untuk berbagai perangkat mulai dari smartphone atau ponsel pintar dan kamera berteknologi tinggi hingga televisi layar datar dan komputer.

"Kemarin saya bicara dengan Menhan (Prabowo Subianto) bahas tin (timah). Tin itu juga bisa kita ekstrak dari situ rare earth," kata Luhut dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (22/6).

Namun, pengembangan industri pengolahan rare earth sendiri masih belum besar di Indonesia. Padahal, potensinya cukup besar karena Indonesia merupakan salah satu negara penghasil timah terbesar di dunia, dengan produksi terbanyak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kondisi tersebut dipertegas dengan belum adanya harga acuan komoditas rare earth di dalam negeri. Luhut mengatakan bahwa hingga saat ini harga rare earth mengikuti perkembangan pasar komoditas Singapura. Ia bersama Prabowo pun merasa keberatan kalau harga logam tersebut masih ditentukan di sana.

Apalagi, keberadaan rare earth ternyata memang cukup melimpah di kerak bumi Indonesia. “Rare earth itu satu masalah dunia yang sangat penting untuk pembuatan senjata. Sekarang saya bilang kenapa harga rare earth mesti ditentukan di Singapura, kenapa tidak di Indonesia? Singapura udara saja dia impor, kita relakan itu,” ujarnya.

Saat ini, beberapa negara sudah mengembangkan pengolahan rare earth sebagai kebutuhan industri. Di antaranya Cina, Amerika Serikat, India, Brasil, Australia, Afrika Selatan, dan Malaysia yang memiliki cadangan rare earth.

Namun, produksi terbesar ada di Cina. Totalnya mencapai 95 persen dari total produksi di dunia. Bahkan Negeri Tirai Bambu sendiri bisa menghasilkan mineral langka sebesar 44 juta metrik ton, sedangkan cadangan rare earth di sana diperkirakan mencapai 36 juta ton atau setara 30 persen dari total cadangan di dunia sebanyak 99 juta ton.

Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, mineral ini perlu dikembangkan di dalam negeri melalui hilirisasi dan larangan ekspor. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah dari rare earth tersebut. Selain itu, hilirisasi industri bisa menciptakan lapangan kerja dan pengembangan sektor industri yang selanjutnya memberi dampak positif pada perekonomian nasional.

Sebelumnya, pemerintah telah melarang ekspor bijih (ore) nikel mulai 1 Januari 2020. Kebijakan ini dipercepat dari sebelumnya pada 2022 melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019 tentang "Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara."

Seperti Apa Potensi Rare Earth di Indonesia?

Sejauh ini, pemerintah sendiri tengah mengkaji potensi kekayaan mineral Indonesia. Lagi kita evaluasi kita siapkan, kita punya pilot project plan nanti kita lagi mulai lihat mau hitung jumlah cadangannya berapa. Nanti kita akan kembangkan ke skala komersial," kata Riza, Direktur Utama PT Timah, usai rapat dengar pendapat di Komisi VII DPR RI, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, (30/06).

Menurut Riza, saat ini masih dalam proses penelitian sehingga nantinya akan dikaji teknologi yang akan digunakan. "Teknologi yang akan kita pakai kemudian yang akan kita lihat lagi adalah jumlah cadangan supaya kita bisa kembangin secara komersial. Ya macam-macam dari kesehatan, industri strategis gitu.”

Sementara dari sisi sains, seperti dilansir dari CNN, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan bahwa logam tanah jarang diperoleh dari mineral Monazit dan Xenotime. Menurutnya, sumber daya tanah logam di Indonesia itu biasanya berasosiasi dengan mineral yang mengandung timah. 

“Kedua jenis mineral tersebut bisa diperoleh juga sebagai hasil samping pengolahan bijih Zirkonium yang terdapat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," kata Irwandy, Selasa (23/06).

Dalam hal ini, monazit merupakan senyawa fosfa logam tanah jarang yang mengandung 50 sampai 70 persen oksida. Senyawa ini diambil dari mineral pasir berat yang merupakan hasil samping dari senyawa logam berat lain. Monazit memiliki kandungan thorium yang cukup tinggi sehingga mineral tersebut mempunyai sifat radioaktif.

Sedangkan xenotime merupakan senyawa ittirium phosphat yang mengandung 54 sampai 65 persen logam tanah jarang termasuk erbium, cerium, dan thorium. Irwandy menjelaskan bahwa logam tanah jarang kurang berperan dalam industri baterai namun banyak digunakan dalam industri mobil listrik, elektronika, satelit, katalis, magnet, sensor, bahkan untuk keperluan militer.

“Elemen-elemen di militer dipakai juga (logam tanah jarang). Pernyataan pak Luhut itu secara umum (kegunaan logam tanah jarang) tetapi perlu diingat jumlah yang ada di timah itu belum signifikan," ujarnya.

“Sampai saat ini, tidak ada satu pun perusahaan di Indonesia yang memfokuskan diri di bidang logam tanah jarang. Sejauh ini logam tanah jarang hanya sebagai hasil sampingan pada mineral timah tetapi itu pun belum diberdayakan secara optimal," kata Irwandy. Namun, menurut Irwandy, posisi Indonesia justru kurang strategis pada sumber daya logam tanah jarang.

Related Article