Michelle Obama dan Publik Figur Dunia Lain yang Mengidap Sindrom Imposter

Michelle Obama mengakui bahwa dirinya mengidap sindrom imposter dalam pertemuan di London Senin 3 Desember 2018 malam. Saat itu, istri dari mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama tersebut mengaku masih suka merasa gugup dan dihantam rasa tidak percaya diri. Ia mengaku perasaan tersebut tak pernah hilang dari dirinya.

"Saya memiliki imposter syndrome atau rasa tidak percaya diri, dan itu tidak pernah hilang," kata Michelle Obama dalam acara terkait rangkaian tur promosi bukunya yang berjudul Becoming di Southbank Centre, London, Senin, 3 Desember 2018.

Michelle mengatakan bahwa sindrom imposter yang ia rasakan memang membuat dirinya selalu meragukan kemampuannya sendiri. Segala hal terkait kekuatan dan kualitas dirinya selalu sering tak dianggap. Kondisi itu masih ia rasakan sampai hari ini, meski ia sendiri pernah menjadi ibu negara AS dan berada di Gedung Putih selama delapan tahun.

"Itu tidak hilang, perasaan bahwa saya sebetulnya tidak dianggap. Apa yang saya kuasai? Saya katakan sekarang, kita semua memiliki keraguan akan kemampuan kita, tentang kekuatan kita, dan apa kekuatan itu," ujar mantan ibu negara AS itu. 

"Jika saya memberi harapan kepada orang-orang, maka itu adalah sebuah tanggung jawab, jadi saya harus memastikan bahwa saya bertanggung jawab. Kita tidak punya pilihan lain selain memastikan bahwa kita sebagai orang yang lebih tua memberikan alasan bagi generasi muda untuk berharap,” ujar wanita kelahiran Chicago, Illinois, AS pada 17 Januari 1964 tersebut.

Apa Itu Sindrom Imposter?

Sindrom imposter adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan tidak nyaman atau meragukan kemampuan diri sendiri, meski keraguan itu tak mendasar. Istilah ini pertama kali digunakan oleh psikolog Suzanna Imes dan Pauline Rose Clare pada tahun 1978.

Seperti dikutip dari Newsweek, Kamis, 6 Desember 2018, keduanya menulis soal sindrom imposter dalam sebuah makalah tahun 1978. Makalah itu mengatakan kesuksesan atau pencapaian perempuan hanya dianggap sebagai sebuah keberuntungan saja. 

"Meski memiliki prestasi akademik dan karier yang luar biasa, perempuan dengan sindrom imposter berpikir sebaliknya dan tidak percaya pada dirinya sendiri," tulis makalah tersebut. 

Lalu, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa sindrom imposter tak hanya dialami perempuan saja, tapi juga bisa memengaruhi semua lapisan masyarakat. Bahkan, dalam laporan di jurnal Internasional Behavioral Science edisi 2001, sekitar 70 persen manusia sangat mungkin mengalami sindrom ini. "Meski ada bukti sebaliknya, jutaan orang yang sangat cerdas dan cakap ternyata mengalami kesulitan menerima kesuksesan mereka, dan merasa tak pantas menerimanya. Maka dari itu, mereka menghubungkan pencapaian mereka dengan keberuntungan, waktu, dan kepribadian," kata ahli sindrom imposter Valerie Young.

Young yang juga penulis buku 'The Secret Thoughts of Successful Women' mengatakan bahwa sindrom ini dipengaruhi beberapa faktor, seperti lingkungan dan diskriminasi yang berkembang. "Rasa memiliki akan menumbuhkan kepercayaan diri," ujarnya.

Menurut Young, semakin banyak orang yang terlihat atau terdengar seperti Anda, semakin percaya diri Anda. Lalu, sebaliknya, lanjut Young, semakin sedikit orang yang terlihat atau terdengar seperti Anda, hal itu dapat dan dilakukan oleh banyak orang memengaruhi kepercayaan diri mereka. "Orang yang mengalami sindrom imposter khawatir orang lain suatu saat akan menemukan mereka sebenarnya tidak pandai atau tidak bertalenta, kebalikan dari yang dipikirkan orang lain tentang mereka," ujarnya. 

Menurut Young, sebenarnya ada banyak alasan yang membuat seseorang merasa tidak percaya diri. Diagnostik dan Statistik Manual Asosiasi Psikiatris Amerika menyebut sindrom imposter bukanlah gangguan kejiwaan. Namun, sindrom imposter justru bisa membuat seseorang menjadi stres, depresi, dan cemas.

Selain itu, sindrom ini juga biasa disebut sindrom penipu. Pengidap sindrom ini terbiasa dengan perasaan menunggu orang di sekitarnya untuk 'Temukan Aku'. Mereka percaya bahwa mereka hanya pura-pura meningkatkan kepercayaan diri agar bisa terlihat oleh semua orang, serta meyakinkan diri bahwa mereka adalah penipu andal yang kesuksesannya diraih berkat keberuntungan belaka atau hanya sekedar ilusi.

Cara Mengatasi Sindrom Imposter

Young membeberkan bahwa setidaknya ada tiga langkah penting untuk menangani sindrom imposter. Pertama, penting untuk menormalkan perasaan tidak percaya diri. "Saat anda merasa takut dan ragu, itu normal. Anda dapat mencoba menghilangkan rasa tidak percaya diri dan fokus berbicara pada diri sendiri," kata Young. 

Lalu langkah kedua adalah berusaha mengubah kerangka pemikiran Anda. "Daripada Anda mangatakan, 'Ya Tuhan saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan' saat mendapat proyek besar, cobalah berpikir 'Saya akan benar-benar banyak belajar," ujarnya.

Langkah ketiga adalah berusahalah mengubah pemikiran bahkan jika Anda merasa tidak lebih baik pada awalnya. "Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk berhenti merasa seperti seorang penipu adalah berhenti berpikir seperti seorang penipu," katanya.

Langkah-langkah itu persis seperti apa yang disampaikan Michelle Obama. Selama pertemuan, ia mengingatkan para peserta untuk berusaha mengeluarkan pikiran buruk dari kepala dan mulai membangkitkan rasa percaya diri. 

"Saran saya untuk para perempuan muda, kalian harus mengenyahkan pandangan buruk itu. Pertanyaan yang saya ajukan sendiri, 'apakah saya cukup bagus?’, Itu menghantui kita. Karena pesan yang disampaikan di masa kecil kita adalah, mungkin kita tidak mampu, jangan berharap terlalu tinggi, jangan bicara terlalu keras,” kata Michelle Obama.

Menurut Michelle, tidak ada alasan untuk minder atau gugup di hadapan orang lain. Apalagi ia menegaskan bahwa semua orang yang memiliki posisi kuat, sebenarnya sama saja. "Saya sudah pernah berada di berbagai posisi dalam organisasi penting. Saya pernah bekerja di organisasi nirlaba, yayasan, perusahaan, menjadi anggota dewan komisaris perusahaan, KTT, PBB. Mereka tidak seperti yang kita lihat itu," ucapnya.

Emma Watson Juga Terkena Sindrom Imposter

Selain Michelle Obama, ternyata ada sejumlah publik figur yang juga mengidap sindrom imposter. Sebut saja artis Emma Watson yang mengidap sindrom tersebut. Hal itu diketahui ketika dirinya diwawancara oleh majalah Vogue Inggris.

Emma Watson pernah mengalami kondisi di mana dirinya tak percaya telah meraih kesuksesan, dan ‘terpaksa’ merasa berpura-pura menjadi orang lain. "Ketika saya menerima penghargaan atas akting saya, saya merasa benar-benar tidak nyaman. Saya merasa tidak pantas menerimanya," kata Emma Watson pada 2015 lalu, seperti dilansir dari Vogue Inggris.

Watson memang diketahui meraih sukses melalui Harry Potter. Tak hanya itu saja, ia juga pernah meraih beragam penghargaan atas kualitas aktingnya. Ia tercatat pernah beberapa kali meraih penghargaan seperti MTV Movie Awards dan Teen Choice Awards, pada 2013, dan puluhan nominasi lain sepanjang berkarier.

Namun, Watson justru tak pernah benar-benar mengingat kapan dirinya mulai berakting, ataupun sadar memiliki bakat berakting. Situasi itulah yang terus menghantui alumni Brown University tersebut. "Ini sesuatu yang berkecamuk dalam diri saya, saya kembali dan menanyakannya kepada orang tua saya. Dahulu, ketika saya muda, saya hanya melakukannya saja, begitu saja." kata Watson.

Selain itu, Watson sering mengalami salah satu efek dari sindrom imposter yakni ia tak menyadari apa yang tengah dilakukannya, bahkan ketika ia mengisi pidato di kantor pusat PBB di New York, pada 2014. Pada malam hari sebelum pidato ia sempat merenung dalam kamarnya dan dilanda ketakutan apa yang akan dilakukan olehnya esok pagi. 

Beruntungnya, perempuan kelahiran Paris, Perancis pada 15 April 1990 silam tersebut bisa kembali tenang setelah bercakap dengan temannya melalui Skype. Hingga akhirnya ia bisa dengan lancar berpidato.

Tak hanya Emma Watson saja, publik figur lain yang juga mengidap sindrom imposter adalah Natalie Portman, pemeran utama film Black Swan. Ia pernah berpidato di depan para mahasiswa Universitas Harvard, tempatnya meraih gelar sarjana Psikologi dulu, dan mengatakan situasinya yang mengidap sindrom imposter.

“Bahkan 12 tahun setelah lulus, saya tetap merasa tidak percaya bahwa diri saya layak. Saya harus mengingatkan diri saya sekarang, kamu di sini karena suatu alasan. Hari ini, saya merasa sama seperti saat saya masuk Harvard pada 1999. Saya merasa seperti ada kesalahan, bahwa saya tidak cukup pintar untuk ada di sini dan setiap saya membuka mulut, saya mesti membuktikan bahwa saya bukan sekadar aktris bodoh,” kata Portman.

Perlu diketahui, bahwa saat masih kuliah dulu, Portman mengaku kerap merasa terintimidasi oleh keberadaan banyak temannya yang ia rasa begitu pandai. Bahkan, ia mencoba membuktikan diri kepada orang lain dan dirinya bahwa ia serius mengambil studi di Harvard dengan cara mengambil kelas-kelas yang sulit saja. Situasi itu terjadi saat ia melewati tahun-tahun pertama di kampus 

Tidak hanya Portman saja yang pernah mengidap sindrom imposter dan meragukan kemampuannya sendiri. Saat memenangi Oscar berkat perannya di film The Accused, Jodie Foster pun mengaku mengalami sindrom imposter. “Saya pikir kemenangan saya adalah suatu kebetulan yang menguntungkan. Sama seperti saat saya masuk kampus Yale, saya pikir semua orang akan menyadari (kesalahan ini) dan mereka mengambil kembali piala Oscar yang saya terima,” kata Foster kepada wartawan 60 Minutes, Desember 1999.

Selain itu ada pula nama Padma Lakhsmi, seorang pembawa acara dan salah satu juri Top Chef yang mengaku juga mengidap sindrom yang sama seperti Portman dan Foster. “Pada musim pertama Top Chef, saya menderita impostor syndrome. Saya merasa tidak memiliki pengalaman memasak di restoran. Saya pikir, saya hanya akan menjadi pembawa acara yang baik saja.”

“Pada suatu waktu, bahkan mungkin ia tidak menyadarinya, Éric Ripert (penulis dan koki asal Perancis) mengatakan kepada koki lain, ‘Tidak, Padma punya cita rasa begitu sensitif, sepertinya salah satu orang dengan cita rasa paling sensitif yang pernah saya temui.’ Saya terus mengenang kata-kata ini. Setiap kali saya merasa tidak percaya diri atau tak merasa cukup, yang notabene sering kali saya alami di tempat syuting, yang mesti saya lakukan adalah mengandalkan apa yang saya tahu alih-alih yang tidak saya pahami.”

Related Article