Merpati Siap Terbang Lagi

Jauh sebelum Lion Air atau Air Asia, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah familiar dengan konsep budget airline, terutama untuk penerbangan tujuan domestik Indonesia. Salah satu maskapai penerbangan yang telah mengenalkan lebih dulu konsep ini adalah Merpati Nusantara Airlines (Merpati Air). Berdiri di tahun 1962, Merpati Air yang memang dikelola oleh pemerintah Indonesia ini merupakan salah satu maskapai penerbangan tertua di Indonesia. Satu-satunya destinasi penerbangan internasional Merpati Air adalah Timor Leste. Di tahun 1990-an, Merpati Air mengalami masa jayanya.

Meskipun berjaya di tahun 1990-an dan diandalkan oleh banyak masyarakat Indonesia, permasalahan-permasalahan yang melilit Merpati Air membuat maskapai ini harus gulung tikar di tanggal 1 Februari 2014. Terdapat beberapa permasalahan yang membuat Merpati Air harus tutup. Yang pertama dan menjadi inti permasalahan adalah adanya utang sebesar Rp6,7 triliun yang melilit maskapai penerbangan berlabel BUMN ini. Akibatnya, permasalahan yang kedua pun muncul, yaitu adanya gaji karyawan yang tidak dilunasi selama 3 bulan saat itu. Seperti dilansir oleh Liputan6.com, permasalahan lain yang juga diduga mengakibatkan bangkrutnya Merpati adalah ketidakcakapan manajemen pengelola perusahaan Merpati Air.

Gaji yang tidak kunjung diberikan membuat para pekerja mogok. Operasi layanan pun terganggu, membuat Merpati semakin terpuruk. Ketika Merpati bangkrut dan tidak lagi dilanjutkan operasinya, Merpati Air menyusul beberapa maskapai yang sudah kolaps lebih dahulu seperti Sempati Air, Bouraq, Jatayu Airlines, Adam Air, Indonesia Airlines, dan Batavia Air.

Merpati Air yang sampai bangkrut bukan berarti pemerintah tidak melakukan usaha apapun. Menteri BUMN kala itu, Dahlan Iskan, telah mempersiapkan skema penyelamatan Merpati Air dengan merestrukturisasi utang menjadi saham. Skema ini merupakan skema yang sulit, namun menjadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyelematkan Merpati Air. Berdasarkan laporan okezone.com di bulan Juli 2018, Kementerian BUMN sudah melakukan proses pembayaran hak pegawai sebesar 85 persen. Dari total 1.200 pegawai, sudah 900 pegawai yang haknya telah dilunasi oleh Merpati Air.

Setelah seluruh masalah yang melilit telah menemukan titik terang, burung-burung besi Merpati Air pun diberitakan akan segera mengudara kembali. Sebelum mengudara kembali, tahapan pertama yang harus dilakukan oleh Merpati Air adalah mendapatkan kembali Air Operator Certificate (AOC) yang dicabut Kementerian Perhubungan di tahun 2014. Dilansir oleh CBNCIndonesia.com, nampaknya Merpati Air akan mengudara kembali di tahun 2020. “Investor baru menyatakan siap agar Merpati bisa terbang kembali pada 2020. Saat ini tengah menyiapkan untuk bisa mendapatkan AOC,” ungkap Suprasetyo, anggota Tim Penyelaras Merpati, hari Selasa (2/10/2018), seperti dilansir CNBC.

Dalam proses menerbangkan kembali Merpati Air, Direktur Utama Merpati Air, Asep Ekanugraha menyatakan bahwa sebenarnya rencana perusahaan adalah tahun depan sudah bisa laik terbang. Terutama di wilayah-wilayah timur Indonesia yang memang menjadi basis utama Merpati. “Rencana perusahaan pada saat dimulainya operasi penerbangan lagi tahun depan akan dilakukan di Biak, Provinsi Papua, yang selama ini merupakan salah stau basis utama Merpati,” ungkap Asep, dilansir oleh idntimes.com.

Untuk membuat Merpati Air beroperasi kembali, Intra Asia Corpora lah yang akan memberikan modal sebesar Rp6,4 triliun. Asep yakin bahwa dengan adanya sokongan penanam modal seperti ini, Merpati Air dapat kembali mengudara dan menjadi andalan masyarakat Indonesia. Untuk masalah struktur internal, Asep melihat bahwa penanam modal tidak akan duduk di struktur perusahaan. Penanam modal hanya akan mengevaluasi sehingga perusahaan dapat bekerja dengan benar.

Asep mengatakan bahwa Merpati Air nantinya akan menggunakan pesawat buatan Rusia. Ia yakin kalau Merpati Air tidak akan bermain di ranah maskapai penerbangan bertarif rendah (low-cost carrier). Harapannya, Merpati Air dapat beroperasi hingga ke luar negeri.

Related Article