Menurut Horoskop, Begini Jalannya Perang Iran versus AS

Pada 3 Januari 2020, kita selangkah lebih dekat pada kiamat. Sebuah serangan drone yang diperintahkan Donald Trump membunuh Mayjen Qassem Soleimani, perwira militer senior Iran sekaligus salah satu orang terpenting di negara tersebut. Pasca tewasnya Soleimani, tensi antara pihak Amerika Serikat dan Iran kian memuncak. Wilayah Timur Tengah yang sudah goncang akibat konflik di Yaman, Suriah, dan Irak kian ramai. Perang Dunia III seolah ada di depan mata.

AS dan Iran memang sudah cekcok sejak lama, tetapi perseteruan mereka kian heboh setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada Mei 2018. Diprakarsai oleh presiden Barack Obama, kesepakatan tersebut menghentikan sebagian besar sanksi ekonomi AS terhadap Iran, dan sebagai gantinya Iran setuju mengurangi program nuklir mereka serta membuka diri pada pengawasan PBB. Ketika AS cabut dari kesepakatan tersebut dan menetapkan kembali sanksi, Iran muntab.

Sejak 2018, kedua negara tersebut tampar-tamparan seperti Julia Perez dan Dewi Persik. Iran ngotot menaikkan cadangan uraniumnya dan mulai mengembangkan senjata nuklir. Amerika membalas dengan memberi sanksi dahsyat terhadap industri perminyakan yang jadi andalan Iran. Sebagai gantinya, Iran meningkatkan kampanye perang proksinya terhadap Amerika Serikat.

Milisi dan kelompok pemberontak yang dibeking Iran mulai menyerang AS dan negara-negara sekutunya di Timur Tengah. Pada September 2019, sebuah kilang minyak di Saudi Arabia diserang oleh milisi Houthi asal Yaman yang didukung oleh Iran. 27 Desember 2019, seorang warga AS terbunuh akibat serangan roket kiriman kelompok Kateb Hezbollah yang juga dipersenjatai oleh Iran. Dua hari kemudian, serangan balik AS terhadap Kateb Hezbollah menewaskan 25 orang. 

Di tengah semua ini adalah sosok Mayjen Qassem Suleimani. Ia memimpin Quds Force, divisi yang bertanggungjawab mengorkestrasi perang-perang proksi Iran di berbagai wilayah dunia. Setelah Kedubes AS di Baghdad, Irak diserbu oleh ratusan demonstran bayaran Iran pada 31 Desember 2019, Trump dan konco-konconya merasa perlu beraksi. Maka turunlah perintah dahsyat untuk menghabisi Soleimani.

Tak sedikit analis geopolitik serius yang telah turun gunung untuk mendedah konflik ini. Bila betul-betul pecah, perang Iran kontra AS akan menjadi bencana global yang pengaruhnya melebihi invasi AS terhadap Irak. Namun, mengampu semangat akhir pekan, kami merasa ada satu lagi disiplin ilmu yang semestinya digunakan untuk membicarakan strategi perang kedua belah pihak. Disiplin ilmu itu adalah horoskop.

Sedikit banyak, cocoklogi berbasis zodiak dapat menjelaskan perangai tiap pemain dalam drama penuh marabahaya ini. Ambil contoh Qassem Solemaini. Ia lahir pada 11 Maret, menjadikannya seorang Pisces. Meskipun sekilas nampak lembut, mudah diinjak, dan gampang disapu oleh emosi haru, diam-diam Pisces adalah zodiak yang mudah tersinggung dan sakit hati. 

Mereka tidak akan membalas dengan konfrontasi langsung, melainkan dengan manipulasi emosi dan konflik tidak langsung. Oleh karena itu, masuk akal sekali bila Solemaini dikenal sebagai pakar perang proksi. Ia sekadar menjadi dalang, sementara para milisi yang berperang di lapangan adalah wayang-wayang galaknya.

Terang benderang sekali bahwa Donald Trump, yang lahir pada 14 Juni, adalah seorang Gemini. Meski penuh karisma dan lebih cerdas dari yang terlihat, Gemini punya kebiasaan buruk berpikir bahwa mereka dapat mengibuli seluruh dunia hanya menggunakan karismanya. Mereka adalah ejawantah dari pepatah “Tong kosong nyaring bunyinya.” Simak saja sepak terjang Trump, yang terpilih jadi Presiden AS hanya bermodal bacot jago. 

Lebih parah lagi, Gemini dikenal bermuka dua. Semasa kampanye, Trump berulang kali berjanji bahwa ia hendak menarik AS dari serangkaian konflik di Timur Tengah yang seolah tak berujung. Ia pun berulang kali berjanji bahwa ia ingin “membawa pasukan kita pulang ke rumah”. Pada mulanya, retorika ini disambut baik oleh sebagian pihak —utamanya Iran, yang berharap bahwa mereka dapat lebih banyak ikut campur di Timur Tengah setelah AS cabut. Namun, Trump justru berbalik arah. Ia cari gara-gara dengan Iran, dan nyaris menggiring AS ke dalam satu lagi perang yang berdarah-darah.

Bagaimana dengan Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei? Beliau lahir pada 19 April, menjadikannya seorang Aries. Menurut ilmu perzodiakan, Aries dikuasai oleh planet Mars, planet yang mewakili energi dan ambisi. Mars dan Ares pun dikenal sebagai Dewa Perang yang sengit dan penuh dendam. Maka tak heran bila Khamenei berulang kali mengambil posisi keras saat sudah berurusan dengan AS.

Ketegangan antara Iran dan AS sebetulnya juga disebabkan oleh ambisi kedua belah pihak menjadi kekuatan yang dominan di Timur Tengah. Milisi-milisi yang dibeking oleh Iran tidak asal-asalan — para pemberontak Houthi di Yaman, misalnya, membikin repot Saudi Arabia, sekutu penting AS dan satu lagi negara yang punya ambisinya sendiri di percaturan global. 

Keterlibatan tidak langsung Iran di Perang Sipil Suriah pun menjadikannya negara yang punya peranan penting dalam geopolitik Timur Tengah. Melalui serangkaian sanksi, AS ingin Iran ciut dan mundur teratur. Khamenei, seorang Aries yang tak mau kalah dan penuh ego, tentu tak ingin kalah.

Ayatollah Khamenei bersumpah pihaknya akan “membalas” pembunuhan Soleimani. Pada 5 Januari, Iran menarik diri sepenuhnya dari kesepakatan nuklir tersebut. Dua momentum sensasional terjadi pada 8 Januari 2020. Pertama, pihak Iran melontarkan misil untuk menyerang dua pangkalan militer AS yang terletak di Irak. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, tindakan tersebut dipandang sebagai agresi yang luar biasa.  

Pada hari yang sama, pesawat Ukraine International Airlines Flight 752 ditembak secara tidak sengaja oleh Revolutionary Guard Corps saat tinggal landas dari bandara Tehran, Iran. 176 orang meninggal dalam peristiwa tersebut. Kepada media, perwakilan dari militer Iran menyatakan bahwa pihaknya mengira pesawat tersebut adalah “target yang bermaksud jahat”, dan menyebut bahwa pesawat itu “terbang di dekat situs militer yang sensitif”.

Melihat situasi memburuk, Irak mengamuk. Setelah penyerangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak, mereka menuduh bahwa Iran dan AS hendak berantem di wilayah Irak. Parlemen mereka sepakat meminta semua pasukan AS angkat kaki. Tentu saja Trump menolak mengevakuasi lima ribu personel militer AS yang masih nangkring di Irak. Selain mempersulit manuver militer mereka di masa depan, tindakan tersebut dapat memberi angin bagi Iran untuk menekan negara-negara lain di Timur Tengah untuk meminta tentara AS angkat kaki pula.

Barham Salih, presiden Irak, adalah seorang Cancer. Perangainya yang lemah lembut, penuh welas asih, dan penyayang menjadikannya korban sempurna di tengah konflik edan Gemini versus Aries. Beruntung, ia ditemani Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi yang seorang Capricorn. Capricorn dan Cancer adalah zodiak berkebalikan, sehingga sikap mereka saling melengkapi. Apabila Cancer baik hati dan mudah terharu, Capricorn keras kepala dan ngotot. Sebagai presiden, Barham Salih sekadar punya posisi seremonial dan ada sebagai simbol untuk mempersatukan rakyat Irak. Tekanan diplomatik dan keputusan-keputusan sulit diambil oleh Abdul-Mahdi, sang Capricorn yang tegaan.

The Eurasia Group, sebuah firma yang dikutip oleh Vox, memperkirakan bahwa terdapat peluang 40 persen terjadinya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran. Mengacu pada zodiaknya, Trump sebagai Gemini tidak akan turun ke medan perang sendirian. Gemini membutuhkan afirmasi dan kehadiran orang lain, sehingga mustahil pula AS menghadapi Iran sendirian. Mereka akan memanggil sekutu-sekutunya di Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Israel dan keroyokan menghajar Iran.

Persoalannya, tindakan AS belakangan ini bikin sekutu-sekutu tersebut geram. Irak, yang tadinya bermitra dengan AS untuk menghajar ancaman ISIS, mencak-mencak setelah AS membunuh Soleimani di tanah Irak tanpa sepengetahuan mereka. Seperti dilansir The New York Times, relasi antara Washington dengan Baghdad dikabarkan “memburuk”. Pada laporan yang sama, Saudi Arabia dan negara-negara sekutu lain di Teluk Persia dikabarkan tak tertarik untuk terlibat dalam perang berkepanjangan dengan Iran. Walhasil, AS terkucil di Timur Tengah.

Sekadar menambah sanksi, mengganggu suplai, atau menyerang pangkalan militer Iran tidak cukup untuk menjatuhkan sang Ayatollah. Bahkan kematian Soleimani, meski mengejutkan, diprediksi tidak akan berpengaruh besar terhadap kebijakan perang Iran. Bila mereka sungguh-sungguh berniat menghabisi Iran, AS harus keluar dari zona nyamannya dan menginvasi negara tersebut.

Eric Brewer, pakar dari Center for Strategic and International Studies yang dikutip Vox, menyebut bahwa strategi ini penuh risiko. Populasi Iran tiga kali lipat Irak, luas wilayahnya tiga kali lipat lebih besar, dan negara tersebut sulit ditembus. Sebagian besar perbatasannya ditutup oleh pegunungan atau padang pasir yang hampir mustahil dilewati, dan AS tak dapat menginvasi dari Turki sebab relasi mereka dengan pemerintah Turki tidak baik. 

Satu-satunya jalan yang mudah adalah melalui perairan di barat daya Iran, tetapi wilayah tersebut mudah dilindungi. Menurut prediksi The Washington Post, AS perlu sedikitnya 1,6 juta pasukan untuk mengendalikan Iran sepenuhnya. Jauh melebihi total 180 ribu pasukan yang menaklukkan Irak pada invasi 2003.

Ayatollah Khamenei memang seorang Aries, zodiak yang terkenal hobi ngegas tanpa memikirkan konsekuensi. Namun, ia punya sisa-sisa strategi brilian almarhum Soleimani si Pisces dan Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang seorang Scorpio. Dikelilingi dua orang zodiak elemen air yang ahli manipulasi dan strategis dalam berperang secara tidak langsung, Iran akan mengambil cara yang cerdik untuk memenangkan peperangan.

Menurut Letjen Vincent Stewart, pensiunan militer AS yang menulis untuk Cipher Brief, Iran akan sebisa mungkin menghindari pertempuran langsung satu lawan satu. Justru, mereka akan menggunakan peperangan tidak langsung. Misalnya serangan siber terhadap sistem pemerintahan atau perbankan AS, tindakan terorisme dan pembunuhan figur politik, hingga menggalakkan perang proksi melalui milisi-milisi bayaran mereka di Timur Tengah.

Tujuannya sederhana. Mereka ingin menyemai begitu banyak kekacauan di Timur Tengah dan dunia, sehingga publik AS serta negara-negara lain akan menekan pemerintah AS untuk mundur. Barangkali strategi tersebut tak terdengar cocok untuk sosok Aries yang asal seruduk, tetapi itulah taktik perang yang pas untuk pasangan Pisces dan Scorpio.

Siapakah yang akan menang dalam pertempuran tersebut? Tidak ada yang tahu. Kekuatan militer AS memang juara, tetapi Iran adalah medan yang mustahil diterabas dan kemampuan mereka menggoyahkan stabilitas global telah teruji sejak lama. Perang tersebut disebut oleh The New York Times sebagai pertempuran di mana semua pihak akan kalah, dan itu ada benarnya. Ketika Aries dan Gemini bertarung, dua zodiak paling onar di dunia itu akan bikin semua orang pusing tujuh keliling.

Related Article