Menjelang Ramadan, Susu dan Makanan Kemasan Makin Diminati

Pembatasan Sosial Berskala Besar di DKI Jakarta, yang semula direncanakan akan berakhir pada Kamis (23/4) mendatang, dinilai belum efektif menghentikan penyebaran COVID-19. "Dalam kenyataannya, wabah seperti ini tidak bisa selesai dalam 14 hari. Karena itu, hampir pasti PSBB harus diperpanjang," kata Gubernur Anies Baswedan dalam siaran di kanal YouTube DPR RI.

Dengan berlanjutnya PSBB, masyarakat harus kembali melanjutkan aktivitas dengan ruang gerak yang terbatas. Sementara itu, mereka harus menyiapkan pasokan hidup yang mencukupi selama PSBB periode lanjutan dilaksanakan.

Presiden Joko Widodo sudah meminta seluruh jajarannya untuk memastikan kecukupan stok pangan nasional saat bulan Ramadan 1441 Hijriah mendatang. "Pandemi COVID-19 ini dapat menyebabkan krisis pangan dunia, ini hati-hati," ujar Presiden Jokowi dalam siaran rapat terbatas "Antisipasi Kebutuhan Bahan Pokok" di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4).

Riset Kantar memprediksi bahwa akan ada lonjakan kebutuhan menjelang Ramadan selama masa PSBB, namun hanya pada beberapa kategori. Kategori yang akan mengalami lonjakan konsumsi tersebut adalah makanan dalam kemasan dan produk-produk dairy. Sedangkan kategori minuman hanya akan mengalami peningkatan terbatas.

Secara spesifik, keju, susu pertumbuhan, dan mentega menjadi jenis yang paling diminati dalam kategori dairy. Sementara makanan kaleng, sereal, dan snack adalah jenis yang paling diminati dalam kategori makanan dalam kemasan.

Produk-produk olahan hasil ternak memang mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Peningkatan ini dikonfirmasi oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita. Ia menjelaskan, pada April 2020, terdapat beberapa perusahaan subsektor peternakan yang telah memastikan akan melaksanakan ekspor ke beberapa negara dengan total nilai Rp538,12 miliar. 

"Ekspor subsektor peternakan pada Januari sampai Februari 2020 mencapai Rp1,7 triliun atau meningkat 30 persen dibandingkan ekspor pada Januari-Februari 2019 yang tercatat sebesar Rp1,3 triliun secara year on year," kata Ketut kepada Tirto.

Secara bersamaan, riset Kantar juga menunjukkan: untuk mengantisipasi ketersediaan kebutuhan di rumah selama geraknya terbatasi, masyarakat cenderung memilih produk dalam volume dan kemasan yang lebih besar.

Di sisi lain, kebutuhan perawatan rumah dan perawatan diri diprediksi tidak akan mendapatkan lonjakan minat yang signifikan dari masyarakat selama bulan Ramadan.

Related Article