Mengapa Bridal Shower Jadi Parameter Pertemanan di Indonesia?

Bridal shower, secara historis, merupakan sebuah tradisi yang berasal dari kawasan Eropa dan Amerika Utara. Di Eropa, bridal shower dilakukan untuk membantu secara finansial calon pengantin perempuan agar dapat menyelenggarakan pernikahan. Sedangkan di Amerika Utara, seperti Amerika Serikat dan Kanada, bridal shower diadakan untuk menunjukkan rasa bahagia pada calon mempelai perempuan yang ingin menikah.

Di Indonesia sendiri, budaya bridal shower baru naik daun belakangan ini. Budaya yang diadopsi di Indonesia condong mengikuti budaya yang berasal dari Amerika Serikat, dengan beberapa perbedaan tertentu. Sayangnya di Indonesia ini, bridal shower menjadi parameter pertemanan. Sehingga, seringkali muncul pemikiran bahwa jika kita tidak melaksanakan bridal shower untuk sahabat yang akan menikah, berarti kita tidak menganggap orang tersebut sebagai bagian dari pertemanan. Namun, mengapa bridal shower menjadi bagian dari parameter pertemanan saat ini di Indonesia?

Memahami Tren Bridal Shower yang Sedang Meningkat di Indonesia

Sebelum menjawab pertanyaan utama dari tulisan ini, saya akan berusaha untuk memahami terlebih dahulu tren bridal shower di Indonesia. Awalnya, tren bridal shower di Indonesia dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke atas Indonesia untuk memberikan selamat pada calon mempelai wanita. Semenjak media sosial semakin mengekspos kehidupan orang-orang yang secara ekonomi berada di kelas menengah ke atas ini, bridal shower pun semakin meluas. Tidak hanya para masyarakat kelas menengah ke atas, bridal shower kini dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kelas. Di Indonesia, bridal shower pun tujuannya tidak jauh berbeda, yaitu menjadi pesta untuk mengucapkan rasa syukur dari teman-teman untuk calon mempelai perempuan.

Ragam Tempat Melaksanakan Bridal Shower di Indonesia

Di Indonesia, bridal shower dapat dilakukan di beragam tempat. Salah satu bridal shower yang paling umum dilakukan di Indonesia adalah dengan cara menyewa ruang tertentu di sebuah restoran, sehingga membuat acara terasa lebih personal. Untuk semakin meriahkan suasana, bridal shower ini diadakan dengan tema-tema tertentu, sehingga akan ada dresscode yang harus dikenakan oleh para tamu.  

Kemudian, bridal shower juga bisa juga seringkali diadakan di kamar hotel yang berukuran besar. Hal ini dilakukan demi menciptakan suasana yang lebih personal, karena memang sepersonal apapun, restoran akan kalah personal dengan kamar hotel yang besar. Salah satu artis yang pernah melakukan bridal shower di sebuah kamar hotel adalah Raisa.

Jika merasa ingin lebih niat dengan mendekorasi sendiri sekaligus menciptakan suasana yang lebih hangat, mendekorasi rumah untuk melakukan bridal shower menjadi sebuah hal yang dapat dilakukan. Dengan mendekorasi sendiri, suasana dapat dibentuk sesuai yang diinginkan. Selain itu, mengadakan bridal shower di rumah juga dapat menjadi cara-cara untuk berhemat, daripada harus menyewa event organizer dengan biaya yang cukup mahal.

Mengukur Kedekatan Pertemanan dari Bridal Shower, Mengapa?

Nah, dengan biaya yang tidak sedikit, tentu tidak semua orang dapat mengadakan bridal shower. Bahkan pastinya, ada sebagian masyarakat yang  tidak terpikir sama sekali mengadakan bridal shower untuk calon mempelai perempuan, bukan karena tidak menghargai atau tidak menganggap seseorang tersebut, tetapi karena memang biaya yang tidak sedikit atau merasa bahwa tradisi ini bukanlah tradisi utama di Indonesia. Sedangkan, untuk sebagian masyarakat lain, ada yang menganggap bahwa bridal shower merupakan suatu hal yang penting. Acara ini menjadi semacam parameter pertemanan yang jika tidak dilakukan, memberikan sinyal bahwa ia tidak dianggap dalam pertemanan tersebut. Mengapa?

Salah satu alur berpikir yang dapat digunakan untuk memahami fenomena ‘bridal shower sebagai parameter pertemanan’ adalah dengan melihat akar dari fenomena itu sendiri. Mengadakan acara bridal shower di Indonesia, seperti yang sudah saya singgung, berakar dari pertemanan kalangan kelas menengah ke atas. Artis dan figur publik di Indonesia melakukan hal tersebut dengan teman-temannya.

Seiring berjalannya waktu, dari mulut ke mulut, bridal shower pun dikukuhkan posisinya dalam masyarakat kelas menengah ke atas Indonesia sebagai sebuah tradisi dalam pertemanan. Mengadakan bridal shower ini pun menjadi parameter untuk kalangan kelas menengah ke atas sebagai sebuah fenomena yang sepatutnya dilakukan.

Lalu, bagaimana fenomemena ini (dan anggapan bahwa bridal shower merupakan bagian dari parameter pertemanan) semakin menyebar dan terlanggengkan ke berbagai lapisan masyarakat? Hal ini ada kaitannya dengan media sosial. Senada dengan apa yang ditemukan Rebecca Sawyer dalam tulisannya yang berjudul The Impact of New Social Media on Intercultural Adaptation, ditemukan fakta bahwa media sosial dapat memperkuat, membangun, dan menjaga hubungan antar masyarakat. Selain itu, ditemukan juga fakta bahwa media sosial memengaruhi proses adaptasi lintas budaya. Jika ditarik konteksnya ke fenomena bridal shower di Indonesia, terlihat bahwa media sosial mempertemukan tradisi bridal shower ke seluruh lapisan masyarakat. Pada akhirnya, media sosial pun membangun sekaligus melanggengkan tradisi baru, yaitu bridal shower sebagai parameter pertemanan di Indonesia.

Hafizh Mulia adalah mahasiswa tingkat akhir program sarjana di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Tertarik dengan isu-isu ekonomi, politik, dan transnasionalisme. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Twitter dengan username @kolejlaif.

Related Article