post

Current Affairs

Membantu Orang-orang Tua Mengatasi Tantangan Teknologi Digital Adalah Kewajiban Moral

MM Ridho, 2 April 2020

“Ridho, sini dulu, tolongin!” Ibu memanggil saya dari lantai satu.

Saya turun dan menemukan Ibu dan Bibi terheran-heran menatap layar smartphone masing-masing. “Ini kenapa nggak kebuka-buka, ya?” kata Ibu sambil berulang kali menekan tombol home di gawainya.

“Layarnya harus digeser ke atas dulu karena masih terkunci,” kata saya.

“Kalau WA gimana caranya?” kata Bibi.

Saya menghabiskan hampir setengah hari untuk mengajari mereka menggunakan ponsel pintar. Saat itu awal 2018 dan mereka membeli gawai itu bersama-sama. Ibu dan Bibi membuat saya merasa seperti pakar teknologi.

Bibi mengajar tata busana di sebuah sekolah menengah negeri di Bandar Lampung. Ia iri dengan rekan-rekan kerjanya yang berkomunikasi lewat WhatsApp dan merasa perlu menyusul agar bisa turut serta memantau urusan-urusan terkini.

Bukannya tak mau belajar sejak dulu. Sebelumnya, Bibi hanya merasa pekerjaannya tidak menuntut penggunaan ponsel pintar. Dia bisa terkoneksi dengan orang-orang melalui pesan singkat dan telepon berbayar, dan merasa itu sudah cukup. Lagipula tak satu pun anaknya tinggal bersama dia. Tanpa didampingi anak muda yang melek teknologi, saya kira kesukaran proses itu jadi berlipat ganda.

Malang bagi Bibi, semua urusan bergegas meninggalkan dunia analog. Kabar-kabar terkait pekerjaannya muncul lebih dulu di platform digital. Meski selalu ada rekan yang meneruskan informasi kepada Bibi--ia guru senior--ia tetap merasa harus segera mandiri. Maka, saat mengunjungi kami di Jakarta, ia langsung menggandeng ibu saya dan memenuhi hajatnya. Sisanya adalah sejarah.

Beberapa bulan kemudian, saat kami gantian mengunjunginya sekaligus mudik lebaran, dengan bersemangat ia memberi tahu saya bahwa murid-muridnya akan bertamu.

“Ini gimana cara share loc, Dho?” tanyanya.

Beberapa hari lalu Bibi menelpon Ibu. Ia menceritakan kekhawatirannya soal penggunaan teknologi digital. Setelah libur, menurut surat edaran resmi, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi meminta para tenaga pengajar untuk menerapkan metode pembelajaran online.

Saya membayangkan ini sebagai tantangan serius bagi Bibi. Ia mungkin tidak pernah mengira kalau perkenalannya dengan smartphone bakal segera disusul dengan mengajar daring. Ibarat video game, Bibi harus langsung menghadapi mini-boss sehabis menyelesaikan level pertama.

Saya teringat sebuah twit Gustika. Ia bilang, menonton ibunya yang tiba-tiba harus bekerja dari rumah adalah pengalaman menarik.

"Dia bahkan nggak tahu gimana supaya tersambung ke wifi di rumah sendiri,” kata Gustika. “Kantornya ngasih laptop dan mouse (dia nggak bisa pakai trackpad) pagi ini,” tambahnya.

Sampai sekarang, ibu saya rutin membantu Bibi membeli dan mengaktifkan paket internet. Kalau ibu Gustika yang tinggal di Jakarta dengan anak yang akrab dengan teknologi saja mengalami kesulitan, apalagi bibi saya yang tinggal di Lampung dan jauh dari anak-anaknya. Saya tak sanggup membayangkan berapa banyak orang yang kesulitan seperti Bibi di luar sana.

“Untung Ibu sudah pensiun. Kalau enggak, gimana caranya meriksa pasien online, coba? Salah diagnosis bisa berabe,” kata Ibu.

Jangankan ikut berspekulasi tentang cara manusia memanfaatkan teknologi digital di masa mendatang, sejumlah pakar bahkan menilai generasi mereka tidak dirancang untuk sanggup mengarantina diri pada hari-hari ini.

Kita menjalani situasi yang tidak menyenangkan ini bersama-sama. Wabah tidak mengenal tua atau muda. Sebagai bagian dari generasi yang hidup berdempetan dengan teknologi digital, saya kira kita mempunyai semacam kewajiban moral untuk mendampingi mereka melewati tantangan-tantangannya. Percayalah, mereka bisa beradaptasi jika setidaknya, selama wabah ini saja, kita mau bersabar mendampingi.

Terus terang, saya pun kadang kesal kalau Ibu dan Bibi terus-menerus memanggil dan bertanya ini-itu. Saya kan bekerja, bukan berlibur, di rumah. Tapi jika dipikir-pikir lagi, toh mereka berhasil juga menggunakan WhatsApp dan aplikasi-aplikasi lain di ponsel pintar. Yang berikutnya pun pasti mereka sanggup. Saya akan mendampingi, karena saya ingin kami selamat bersama-sama.